QS Ash Shooffaat 24: “Waqifuuhum innahum mas uu luun (Dan tahanlah
mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya)”
Dikatakan dalam buku2 tafsir, waqifuuhum innahum mas uu luun,
ditafsirkan menjadi “kita akan dihentikan lalau ditanyakan amalan,
ucapan, dan aqidah2 yang keluar di dunia.” Berhentikanlah mereka, karena
sesungguhnya seluruh kegiatan mereka ketika hidup di dunia akan
diaudit, dihisab.
Apa itu hisab?
Hisab itu, hamba2 Allah
berdiri di depan pengadilan Allah, dan mereka diberitahukan seluruh yang
mereka kerjakan di dunia. Semua akan Allah beritahukan, akan dihadirkan
oleh Allah SWT. Apakah perbuatan yang berupa keimanan, kekufukaran,
maksiat, apa saja. Semua akan dibalas, apakah berupa pahala, dan siksa.
Kalau mereka saleh, akan menerima buku catatan amal dengan tangan
kanan, bila mereka orang yang berbuat maksiat, akan menerima buku
catatan dengan tangan kiri.
Bagaimana orang2 beriman ketika menghadapi hisab Allah SWT?
Pada dasarnya hisab itu ada yang sulit, dan ada pula yang mudah. Yang
mudah itu adalah penghargaan dari Allah, ada juga yang dipermalukan
sebagai balasan perbuatan mereka karena dulunya mereka mempemalukan
mukmin di bumi. Ada yang dapat kemudahan dari Allah, ada orang yang
Allah tidak berkenan melihatnya. Itu suasana2 saat hisab.
Orang
beriman yang dihisab dengan mudah itu, amal perbuatannya diperlihatkan
tanpa ada perdebatan, lewat begitu saja, tidak diperdebatkan. Hisaaban
yasiiro (hisab yang sebentar) dan disegerakan untuk masuk syurga.
Kebaikan2 mereka diterima oleh Allah. Dan kesalahan2 mereka diampuni
oleh Allah. Jadi orang2 beriman bisa juga melakukan kesalahan, tapi
kemudian mereka mendapatkan ampunan dari Allah. Semoga kita saat dihisab
nanti, termasuk yang diampuni dosa2 kita.
Hadist diriwayatkan dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah berkata:
Tidaklah setiap manusia yang dihisab di hari kiamat, kecuali ia binasa,
Ketika itu aku (aisyah) bertanya, ya Rasulullah bukankah Allah
berfirman; barangsiapa yang diberikan kitabnya dengan tangan kanan, maka
dia dihisab dengan hisab yang mudah.
Maka Nabi bersabda: itulah yang disebut dengan ‘arb.”
Setiap orang yang diuji oleh Allah, dia pasti disiksa oleh Allah.
Di hari kiamat nanti, ada satu kelompok orang2 beriman yang masuk
syurga tanpa melalui proses yang bernama hisab. Siapa mereka itu?
Hadist diriwayatakan Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas: "Ditampakkan
beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang
berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi
yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku
sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka
ada yang menjawab: 'Ini adalah Musa dan kaumnya,' lalu dikatakan,
'Perhatikanlah ke ufuk.' Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia
memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke sana dan ke sana
di ufuk langit.' Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk.
Ada yang berkata, 'Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan
masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang.”
Ini dalil bahwa di antara ummat nabi SAW ada 70 ribu orang yang nanti masuk syurga tanpa melalui hisab terlebih dahulu.
Mendengar seperti in, sahabat bernama Ukaasah, berkata “Doakan agar saya termasuk mereka”
Rasulullah berkata, “kamu termasuk mereka.”
Ada seseorang memohon juga, untuk didoakan, lalu Rasulullah menjawab, “Kamu sudah kedahuluan oleh Ukaasah.”
Minta didoakan oleh orang2 yang sholeh, seperti yang dilakukan oleh Ukaasah kepada Nabi, adalah diperbolehkan.
Kalau kita merenungi ayat2 AQ kita akan menjumpai begitu banyak ayat berbicara tentang hisab.
Al Hijr 92-92: “Maka demi Tuhanmu, sungguh benar2 kami akan bertanya kepada mereka mengenai seluruh apa yang mereka kerjakan.”
Ketika risalah diinul Islam disampaikan ke manusia, yang nantinya
ditanyakan tanggung jawab penyampaian dakwah Islam bukan hanya para Nabi
saja tapi juga ummatnya. Seluruh umat manusia, Rasulnya, ummatnya akan
ditanya seluruhnya oleh Allah.
QS Al A’Raf 6: “pendengaran kita,
penglihatan kita, hati kita, semua ditanya oleh Allah. Maka bertaqwalah
kita semua kepada Allah.”
Jangan sekali2 telinga kita, mata kita, mulut kita, berbuat maksiat, karena semua akan ditanya oleh Allah.
Semua bagian tubuh manusia akan dihisab. Bila rambut kita rawat, fisik
kita rawat, tapi hati kita tidak dirawat, lalu bagaimana
pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti? Bagaimana cara merawat hati?
Yaitu dengan selalu mengingat Allah.
Dan seluruh nikmat yang kita
terima pasti akan ditanyakan, baik itu nikmat yang bernama umur, ilmu,
harta, fisik, jabatan, semua akan ditanya oleh Allah.
Apa yang pertama dihisab oleh Allah nanti, agar ini menjadi perhatian kita.
1. Nabi bersabda: “Amal manusia yang pertama dihisab di hari kiamat adalah sholat,”
Sehingga sholat menjadi prioritas utama dalam hidup ini. Memang kita
bekerja, bermasyarakat, berkeluarga, dsbnya, tapi ketika adzan
berkumandang, kita bersegera mendirikan sholat.
Nabi sangat
romantis terhadap istri2nya, tapi begitu mendengar panggilan sholat,
Nabi cepat berdiri merespon panggilan Allah, sampai2 seolah2 beliau
tidak mengenal istrinya.
2. Darah.
Jangan sampai kita
menganggap diri kita umat Islam, tapi kita menggangagap murah darah umat
Islam. Jangan karena kekuasaan, seseorang tega menuduh kaum muslimin
dengan tuduhan2 yang keji.
Di dunia ini kehidupan aakan tenang
jika kita tidak berani membunuh darah saudaranya, baik secara fisik
maupun secara tuduhan2 keji.
Semoga kita semua dimudahkan oleh
Allah sebagai orang beriman, sehingga hisab kita nanti di akhirat
termasuk hisab yang sebentar saja. Aamiin..
Resume Tafsir Al Hayah, Dr Ahzami Samiun Jazuli di TV One (written by Femina Sagita Borualogo)
Tampilkan postingan dengan label orang beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang beriman. Tampilkan semua postingan
19 November 2014
18 November 2014
Kehidupan Orang2 Beriman di Rumah2 Hari Kiamat
Apa yang dimaksud dengan Manaazil (rumah2 hari kiamat)? Manazil
adalah rumah2 yang menjadi tempat menetap orang2 beriman, sebelum orang2
beriman itu menetap di syurga, yang dimulai dari di alam kubur (awal
dari hari akhirat),
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, "Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Jika disebutkan tentang surga dan neraka, engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah].
Yang harus kita Imani:
1. Hari kebangkitan dan sifat2nya.
Banyak ayat2 AQ berbicara ttg hari dibangkitkan (Al Ba’tsu). Tanah yang dulunya kering, tandus, ketika hujan turun, ia kembali subur. Ini tandanya bahwa hari kebangkitan itu ada, yaitu ada kehidupan setelah kematian.
QS Al A’raf 57: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
QS Al Hajj 5-7: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
Dalil2 di atas membuktikan bahwa Al Ba’tsu (hari dibangkitkan) itu ada.
Bagaimana kehidupan orang2 beriman di akhirat, khususnya di rumah2 sebelum mereka menetap di syurga selama2nya.
Hadist: “Setiap hamba nanti dibangkitkan dari kuburnya, sesuai keadaannya dulu saat meninggal dunia”
Hadist dirayatkan Imam Muslim dalam Bab agar kita Berbaik Sangka kepada Allah ketika Sakratul Maut: “Dibangkitkan setiap hamba sesuai dengan keadaan dia mati.”
Ketika terjadi bencana, tsunami dsbnya, banyak yang meninggal, bagaimana keadaannya saat itu? Kalau dia meninggal saat sedang sholat, baca Al Quran, Alhamdulillah. Tapi kalau ketika ia sedang maksiat, na’udzu billah.
Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bersih. Menggambarkan betapa orang2 beriman itu, tubuhnya tidak ada rambut, dua pipinya bersih tidak ada rambut. Orang yang sedang ihram, kemudian dia meninggal dunia, nanti dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sedang talbiyah (Labbaik Alloohumma Labbaik). Maka dari itu, dalam keadaan apa pun di dunia ini, kita harus dalam keadaan beribadah, akrena kita khawatir kematian selalu datang dengan mendadak.
Tanda2 hari kiamat sudah dekat itu, banyaknya orang2 yang meninggal mendadak. Tidak sedikit orang yang baru olahraga kemudian meninggal, baru mengisi seminar ia meninggal, yang orang2 di sekitarnya tidak mengira ia akan meninggal.
Mari lah kita selalu dalam keadaan taat pada Allah, sehingga dalam keadaan beribadah seperti orang yang berihram tadi itu meninggal.
Dari Ibnu Abbas ra, seseorang berdiri di wukuf Arofah bersama Rasulullah, seseorang dimandikan, lalu dikafani, dan selanjut2nya. Lalu terakhir Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang itu dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”
Al Hasyr, di mana manusia dikumpulkan di rumah yang bernama Al Hasyr, atau biasa juga disebut Padang Mahsyar. Di sana seluruh manusia dan jin digiring, dan dikumpulkan untuk dihitung amalnya. Di situlah seluruh jin dan manusia mengetahui ke mana nanti tempat selanjutnya.
Seperti apa penjelasan Al Quran ketika berbicara tentang hari Yaumil Hasyr?
QS Al Kahfi 47: “Dan kami kumpulkan mereka, maka Kami tidak tinggalkan seorang pun.”
Semua dikumpulkan oleh Allah, mereka dihisab, mereka ditimbang amalnya.
Ketika kita semua dikumpulkan oleh Allah untuk diaudit. Bukankah kita orang beriman, malu dan takut untuk tidak lagi bermaksiat. Semua manusia dan jin akan menyaksikan.
Apabila ada orang yang berkata, apa gunanya membicarakan hari akhirat. Seolah-olah apa yang dikerjakannya di dunia ini tidak ada hubungannya dengan kondisinya di akhirat nanti.
Keimanan kita akan adanya hari akhirat sangat berpengaruh positif untuk kehidupan dunia kita.
Bukankah orang2 yg takut berbuat maksiat, tidak berani korupsi, tidak berani zina, karena dia takut dengan kehidupan akhirat? Justru orang2 yang tidak beriman adanya hari akhirat, itu berani maksiat.
Secara umum manusia itu dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak pakai alas kaki dan sandang. Seperti yang dijelaskan dalama hadist berikut:
“Sesungguhnya kamu dikumpulkan oleh Allah dalam keadaan tidak pakai sandal dan pakaian dan tidak disunnat, manusia kembali seperti di awal dia diciptakan oleh Allah.
Siapa yang pertama diberikan pakaian? Dia adalah Nabi Ibrahim as.”
Bagaimana keadaan orang2 beriman di mahsyar itu?
Orang2 yang beriman, yang imannya bersih, yang tidak ada syirik, apakah itu mempersekutukan Allah dengan manusia, dengan jin, dengan dukun, dll, kalau imannya bersih dari itu semuanya, maka mereka akan merasakan aman di hari akhirat itu..
QS Al An ‘am 82: “Orang2 yang beriman, dan mereka tidak menodai imannya dengan kedzholiman (yang dimaksud ini adalah syirik), maka mereka itulah yang mendapat rasa aman, dan mereka itu lah yang mendapat petunjuk Allah SWT.”
Ini ayat yang mendasari bahwa orang2 beriman aman di dunia dan akhirat. Semoga kita menjadi orang2 yang mendapatkan rasa aman di hari akhirat nanti, jauh dari siksa. Aamiin.
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, "Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Jika disebutkan tentang surga dan neraka, engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah].
Yang harus kita Imani:
1. Hari kebangkitan dan sifat2nya.
Banyak ayat2 AQ berbicara ttg hari dibangkitkan (Al Ba’tsu). Tanah yang dulunya kering, tandus, ketika hujan turun, ia kembali subur. Ini tandanya bahwa hari kebangkitan itu ada, yaitu ada kehidupan setelah kematian.
QS Al A’raf 57: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
QS Al Hajj 5-7: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
Dalil2 di atas membuktikan bahwa Al Ba’tsu (hari dibangkitkan) itu ada.
Bagaimana kehidupan orang2 beriman di akhirat, khususnya di rumah2 sebelum mereka menetap di syurga selama2nya.
Hadist: “Setiap hamba nanti dibangkitkan dari kuburnya, sesuai keadaannya dulu saat meninggal dunia”
Hadist dirayatkan Imam Muslim dalam Bab agar kita Berbaik Sangka kepada Allah ketika Sakratul Maut: “Dibangkitkan setiap hamba sesuai dengan keadaan dia mati.”
Ketika terjadi bencana, tsunami dsbnya, banyak yang meninggal, bagaimana keadaannya saat itu? Kalau dia meninggal saat sedang sholat, baca Al Quran, Alhamdulillah. Tapi kalau ketika ia sedang maksiat, na’udzu billah.
Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bersih. Menggambarkan betapa orang2 beriman itu, tubuhnya tidak ada rambut, dua pipinya bersih tidak ada rambut. Orang yang sedang ihram, kemudian dia meninggal dunia, nanti dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sedang talbiyah (Labbaik Alloohumma Labbaik). Maka dari itu, dalam keadaan apa pun di dunia ini, kita harus dalam keadaan beribadah, akrena kita khawatir kematian selalu datang dengan mendadak.
Tanda2 hari kiamat sudah dekat itu, banyaknya orang2 yang meninggal mendadak. Tidak sedikit orang yang baru olahraga kemudian meninggal, baru mengisi seminar ia meninggal, yang orang2 di sekitarnya tidak mengira ia akan meninggal.
Mari lah kita selalu dalam keadaan taat pada Allah, sehingga dalam keadaan beribadah seperti orang yang berihram tadi itu meninggal.
Dari Ibnu Abbas ra, seseorang berdiri di wukuf Arofah bersama Rasulullah, seseorang dimandikan, lalu dikafani, dan selanjut2nya. Lalu terakhir Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang itu dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”
Al Hasyr, di mana manusia dikumpulkan di rumah yang bernama Al Hasyr, atau biasa juga disebut Padang Mahsyar. Di sana seluruh manusia dan jin digiring, dan dikumpulkan untuk dihitung amalnya. Di situlah seluruh jin dan manusia mengetahui ke mana nanti tempat selanjutnya.
Seperti apa penjelasan Al Quran ketika berbicara tentang hari Yaumil Hasyr?
QS Al Kahfi 47: “Dan kami kumpulkan mereka, maka Kami tidak tinggalkan seorang pun.”
Semua dikumpulkan oleh Allah, mereka dihisab, mereka ditimbang amalnya.
Ketika kita semua dikumpulkan oleh Allah untuk diaudit. Bukankah kita orang beriman, malu dan takut untuk tidak lagi bermaksiat. Semua manusia dan jin akan menyaksikan.
Apabila ada orang yang berkata, apa gunanya membicarakan hari akhirat. Seolah-olah apa yang dikerjakannya di dunia ini tidak ada hubungannya dengan kondisinya di akhirat nanti.
Keimanan kita akan adanya hari akhirat sangat berpengaruh positif untuk kehidupan dunia kita.
Bukankah orang2 yg takut berbuat maksiat, tidak berani korupsi, tidak berani zina, karena dia takut dengan kehidupan akhirat? Justru orang2 yang tidak beriman adanya hari akhirat, itu berani maksiat.
Secara umum manusia itu dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak pakai alas kaki dan sandang. Seperti yang dijelaskan dalama hadist berikut:
“Sesungguhnya kamu dikumpulkan oleh Allah dalam keadaan tidak pakai sandal dan pakaian dan tidak disunnat, manusia kembali seperti di awal dia diciptakan oleh Allah.
Siapa yang pertama diberikan pakaian? Dia adalah Nabi Ibrahim as.”
Bagaimana keadaan orang2 beriman di mahsyar itu?
Orang2 yang beriman, yang imannya bersih, yang tidak ada syirik, apakah itu mempersekutukan Allah dengan manusia, dengan jin, dengan dukun, dll, kalau imannya bersih dari itu semuanya, maka mereka akan merasakan aman di hari akhirat itu..
QS Al An ‘am 82: “Orang2 yang beriman, dan mereka tidak menodai imannya dengan kedzholiman (yang dimaksud ini adalah syirik), maka mereka itulah yang mendapat rasa aman, dan mereka itu lah yang mendapat petunjuk Allah SWT.”
Ini ayat yang mendasari bahwa orang2 beriman aman di dunia dan akhirat. Semoga kita menjadi orang2 yang mendapatkan rasa aman di hari akhirat nanti, jauh dari siksa. Aamiin.
29 Oktober 2014
Hidup Bahagia Orang2 Beriman
Di antara anugerah terbesar Allah adalah kesempatan untuk hidup,
tapi kita juga diberikan resep untuk beramal salih, berarti dia bahagia
dalam hidupnya. Orang yang beriman dan beramal sholeh itu bahagia dalam
hidupnya.
An Nahl 97: Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Berbuat kebaikan, baik laki2 maupun perempuan, semua terbuka untuk beramal sholeh. Syaratnya: ia orang beriman, maka pasti akan Allah berikan kebahagiaan di dunia dan akan mendapatkan balasan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka perbuat.
Kalau kita mengaku beriman, tapi tidak bahagia, berarti ada yang eror dalam keimanan kita. “Man” (siapa) di ayat di atas, bisa berarti untuk apa saja, baik itu suatu laki-laki, perempuan, atau sekelompok manusia, atau suatu bangsa, maupun pribadi, bila beramal sholeh, pasti diberikan kebaikan oleh Allah.
Ulama berbeda2 dalam menafsirkan, apa yang dimaksud dg thoyyibah (kehidupan yang baik).
1. Menurut Ibnu Qoyyim, adalah rezeki yang halal dan thoyyib (baik). Selama kita diberikan rezeki yang halal dan thoyyib, terlepas itu banyak atau sedikit, itu adalah kebaikan dari Allah. Ukuran kebaikan itu hanya bila mendapatkan yang halal dan thoyyib.
Maka dari itu kita berdoa pada Allah agar diberikan rasa kecukupan atas hal2 yang halal saja.
2. Menurut Ali ibnu Abi Abbas, adalah al qonaa ‘ah (menerima/merasa cukup). Merasa cukup, ketika diberikan rezeki gaji yang halal, itu adalah kebaikan dalam hidup ini. Maka al qonaa ‘ah itu adalah kehidupan yang baik.
3. Menurut Ali ibnu Abi Tholib, adalah beriman. Kita bisa mengimpor teknologi dari luar negri, tapi kita tidak bisa mengimpor kebahagiaan.
Syarat kebahagiaan bukan sekedar berbuat kebaikan pada orang lain, tapi dia harus beriman. Para sahabat bukanlah orang2 kaya, tapi ketika mereka beramal sholeh, maka mereka orang yang benar2 bahagia.
4. Seseorang itu tidak mungkin hidup baik jika tidak hidup di syurga, maka ulama ini menafsirkan bahwa kehidupan yang baik hanya ada di syurga.
5. Seseorang yang beriman pada Allah dan beramal (memproduksi kebaikan2 dalam rangka taat pada Allah).
Setelah kita memahami pendapat2 ulama di atas, yang secara selintas kelihatannya berbeda, tapi sebenarnya tidak berbeda. Perbedaan yang bersifat fariatif, dan bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif. Beriman adalah baik, bahagia adalah baik, qonaah adalah baik, rezeki yang halal adalah baik. Ketika kita menghadapi perbedaan, kita harus toleransi. Karena tidak semua perbedaan itu salah. Yang tidak boleh adalah perbedaan bersifat kontradiktif.
Harta benda yang sering dipahami oleh sebagian orang sebagai kebaikan, ternyata bukan satu2nya kebaikan. Ia hanya satu unsur dari sekian banyak kebaikan. Sehingga jangan sampai mengukur kebahagiaan seseorang dari hartanya. Orang kaya maupun orang miskin, sama2 bisa bahagia.
Kita mendapatkan hidup yang penuh ketenangan, anak2 yang sholeh, istri yang sholehah, suami yang bertanggung jawab, lingkungan yang damai, itu adalah kebaikan2. Janji Allah ini jangan sampai kita persempit dengan pemahaman yang tidak universal. “Saya kan sudah beramal, sudah sholat malam, tapi kenapa tidak juga kaya? Sedangkan orang yang tidak sholat bisa kaya?” Tidak! Jangan mengukur kebaikan sebatas dengan harta.
Kehidupan yang baik bagi orang yang beramal sholeh, pada dasarnya adalah kehidupan yang produktif dan indah. Hidupnya itu produktif. Untuk menunjukkan iman kita benar, maka kita harus produktif. Dunia melihat keindahan Islam dari perilaku kita.
Kehidupan yang baik tidak hanya dinikmati oleh seseorang. Ketika bapak yang sholeh, ibu yang sholehah memproduksi amal yang sholeh, itu bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga dinikmati oleh orang lain. Kenapa demikian? Karena kehidupan yang baik itu adalah yang produktif. Manusia mana pun di dunia ini, menyukai produktifitas.
QS Al Arof 58: “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan seizin Allah,dan tanah yang tidak subur tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersukur.”
Ibnu Abbas ra, pakar ilmu tafsir dari kalangan sahabat yang ditarbiyah langsung oleh Rasulullah, menarfsirkan ayat Al Arof 58: ini adalah perumpaan yang dibuat oleh Allah untuk orang beriman. Orang beriman itu thoyyib, dan amalnya itu thoyyib, seperti negri yang baik, yang buah2nya thoyyib, dinikmati oleh orang lain.
Keberadaan kita di rumah tangga kita dirasakan oleh istri dan anak2, keberadaan kita di keluarga besar juga dirasakan kebaikan kita. Di tengah2 masyarakat, kebaikan kita haruslah dirasakan oleh masyarakat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga, kebaikan kita dapat dirasakan oleh bangsa dan Negara ini.
Itulah, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang produktif. Dinikmati bukan hanya oleh pelakunya saja, tapi juga oleh orang lain.
Allah di dalam ayat ini memberikan perumpaan orang beriman: dirinya thoyyib, amalnya juga thoyyib, seperti air hujan yang turun ke bumi.
Ada tanah yang bisa memanfaatkan air hujan sehingga bisa juga dimanfaatkan oleh yang lainnya, yaitu oleh manusia, tumbuhan, binatang.
Ada tanah yang bisa menyimpan air.
Ada tanah yang kering
Begitu juga manusia, dalam menyikapi petunjuk Allah:
Ada orang yang beriman yang manfaat untuk dirinya dan orang lain
Ada juga orang yang paham Islam tapi tidak memanfaatkan ilmunya untuk dirinya, apalagi untuk orang lain.
Ada juga orang yang menolak Islam sehingga tidak berguna bagi dirinya dan tidak juga bagi orang lain.
Semoga kita dimudahkan Allah untuk beramal sholeh dengan keimanan dan mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang baik. Aamiin..
An Nahl 97: Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Berbuat kebaikan, baik laki2 maupun perempuan, semua terbuka untuk beramal sholeh. Syaratnya: ia orang beriman, maka pasti akan Allah berikan kebahagiaan di dunia dan akan mendapatkan balasan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka perbuat.
Kalau kita mengaku beriman, tapi tidak bahagia, berarti ada yang eror dalam keimanan kita. “Man” (siapa) di ayat di atas, bisa berarti untuk apa saja, baik itu suatu laki-laki, perempuan, atau sekelompok manusia, atau suatu bangsa, maupun pribadi, bila beramal sholeh, pasti diberikan kebaikan oleh Allah.
Ulama berbeda2 dalam menafsirkan, apa yang dimaksud dg thoyyibah (kehidupan yang baik).
1. Menurut Ibnu Qoyyim, adalah rezeki yang halal dan thoyyib (baik). Selama kita diberikan rezeki yang halal dan thoyyib, terlepas itu banyak atau sedikit, itu adalah kebaikan dari Allah. Ukuran kebaikan itu hanya bila mendapatkan yang halal dan thoyyib.
Maka dari itu kita berdoa pada Allah agar diberikan rasa kecukupan atas hal2 yang halal saja.
2. Menurut Ali ibnu Abi Abbas, adalah al qonaa ‘ah (menerima/merasa cukup). Merasa cukup, ketika diberikan rezeki gaji yang halal, itu adalah kebaikan dalam hidup ini. Maka al qonaa ‘ah itu adalah kehidupan yang baik.
3. Menurut Ali ibnu Abi Tholib, adalah beriman. Kita bisa mengimpor teknologi dari luar negri, tapi kita tidak bisa mengimpor kebahagiaan.
Syarat kebahagiaan bukan sekedar berbuat kebaikan pada orang lain, tapi dia harus beriman. Para sahabat bukanlah orang2 kaya, tapi ketika mereka beramal sholeh, maka mereka orang yang benar2 bahagia.
4. Seseorang itu tidak mungkin hidup baik jika tidak hidup di syurga, maka ulama ini menafsirkan bahwa kehidupan yang baik hanya ada di syurga.
5. Seseorang yang beriman pada Allah dan beramal (memproduksi kebaikan2 dalam rangka taat pada Allah).
Setelah kita memahami pendapat2 ulama di atas, yang secara selintas kelihatannya berbeda, tapi sebenarnya tidak berbeda. Perbedaan yang bersifat fariatif, dan bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif. Beriman adalah baik, bahagia adalah baik, qonaah adalah baik, rezeki yang halal adalah baik. Ketika kita menghadapi perbedaan, kita harus toleransi. Karena tidak semua perbedaan itu salah. Yang tidak boleh adalah perbedaan bersifat kontradiktif.
Harta benda yang sering dipahami oleh sebagian orang sebagai kebaikan, ternyata bukan satu2nya kebaikan. Ia hanya satu unsur dari sekian banyak kebaikan. Sehingga jangan sampai mengukur kebahagiaan seseorang dari hartanya. Orang kaya maupun orang miskin, sama2 bisa bahagia.
Kita mendapatkan hidup yang penuh ketenangan, anak2 yang sholeh, istri yang sholehah, suami yang bertanggung jawab, lingkungan yang damai, itu adalah kebaikan2. Janji Allah ini jangan sampai kita persempit dengan pemahaman yang tidak universal. “Saya kan sudah beramal, sudah sholat malam, tapi kenapa tidak juga kaya? Sedangkan orang yang tidak sholat bisa kaya?” Tidak! Jangan mengukur kebaikan sebatas dengan harta.
Kehidupan yang baik bagi orang yang beramal sholeh, pada dasarnya adalah kehidupan yang produktif dan indah. Hidupnya itu produktif. Untuk menunjukkan iman kita benar, maka kita harus produktif. Dunia melihat keindahan Islam dari perilaku kita.
Kehidupan yang baik tidak hanya dinikmati oleh seseorang. Ketika bapak yang sholeh, ibu yang sholehah memproduksi amal yang sholeh, itu bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga dinikmati oleh orang lain. Kenapa demikian? Karena kehidupan yang baik itu adalah yang produktif. Manusia mana pun di dunia ini, menyukai produktifitas.
QS Al Arof 58: “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan seizin Allah,dan tanah yang tidak subur tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersukur.”
Ibnu Abbas ra, pakar ilmu tafsir dari kalangan sahabat yang ditarbiyah langsung oleh Rasulullah, menarfsirkan ayat Al Arof 58: ini adalah perumpaan yang dibuat oleh Allah untuk orang beriman. Orang beriman itu thoyyib, dan amalnya itu thoyyib, seperti negri yang baik, yang buah2nya thoyyib, dinikmati oleh orang lain.
Keberadaan kita di rumah tangga kita dirasakan oleh istri dan anak2, keberadaan kita di keluarga besar juga dirasakan kebaikan kita. Di tengah2 masyarakat, kebaikan kita haruslah dirasakan oleh masyarakat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga, kebaikan kita dapat dirasakan oleh bangsa dan Negara ini.
Itulah, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang produktif. Dinikmati bukan hanya oleh pelakunya saja, tapi juga oleh orang lain.
Allah di dalam ayat ini memberikan perumpaan orang beriman: dirinya thoyyib, amalnya juga thoyyib, seperti air hujan yang turun ke bumi.
Ada tanah yang bisa memanfaatkan air hujan sehingga bisa juga dimanfaatkan oleh yang lainnya, yaitu oleh manusia, tumbuhan, binatang.
Ada tanah yang bisa menyimpan air.
Ada tanah yang kering
Begitu juga manusia, dalam menyikapi petunjuk Allah:
Ada orang yang beriman yang manfaat untuk dirinya dan orang lain
Ada juga orang yang paham Islam tapi tidak memanfaatkan ilmunya untuk dirinya, apalagi untuk orang lain.
Ada juga orang yang menolak Islam sehingga tidak berguna bagi dirinya dan tidak juga bagi orang lain.
Semoga kita dimudahkan Allah untuk beramal sholeh dengan keimanan dan mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang baik. Aamiin..
27 Oktober 2014
Sikap Orang Beriman terhadap Orang Munafik
Seorang muslim itu cerdas, ia tahu bahwa ia tidak hidup sendirian,
tapi hidup bersama manusia2 lainnya. Ia juga paham bahwa setiap manusia
itu berbeda-beda pemahamannya terhadap Islam.
Orang2 beriman ini juga berinteraksi dengan orang2 munafik, orang yang mengaku Islam tetapi dalam dirinya menyimpan kebencian terhadap Islam.
Di antara karakteristik ajaran Islam, ajaran Al Quran, adalah bertahap. Termasuk menyikapi orang2 munafik. Bagaimana caranya?
1. Sesuai dengan dzhohirnya.
Mengaku sebagai orang Islam, maka sikap ini yang pertama harus diprioritaskan. Kita hanyalah menyikapi manusia sesuai dengan dzhohirnya, kita tidak berhak memvonis seseorang dengan bathiniyahnya, karena yang tahu isi hati manusia hanya Allah SWT. Kita tidak boleh mengatakan, “orang itu mengaku2 Islam, tapi hatinya tidak.”
Tidak boleh mengatakan seperti itu, karena hanya Allah yang tahu isi manusia.
2. Memaafkan.
Ketika orang2 munafik, yang mengaku beragama Islam ini mendapatkan panggilan jihad, maka mereka tidak ikut berjuang dengan alasan2 yang didatangkan untuk meyakinkan dengan agar tidak berjuang.
QS At Taubah 42-43: “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta.”
Di antara sifat orang munafik, tidak sanggup menerima tugas2 yang berat. Kalau perjalanan itu dekat dan mendapatkan kesenangan, mereka mau ikut. Tapi di saat ada perintah berangkat jihad di perak Tabuk, mereka minta izin,
Allah yang yang menciptkana Nabi, tapi Alloh memberikan contoh ketika menegur seseorang. Di QS At Taubah 43 itu Allah menegur Nabi, dengan cara yang lembut.
“Allah memaafkanmu (Muhammad), kenapa engkau memaafkan mereka.”
3. Mengumumkan perang (baru sebatas diumumkan)
Al Quran mentarbiyah umat Islam agar umat ini cerdas, termasuk dalam menyikapi orang2 munafik sesuai dengan dzhohirnya, yaitu beragama Islam, lalu Nabi dengan santun memaafkan orang2 munafik yang bersikap abstain dalam menerima tugas2 dakwah.
Kaum Muslimini tidak dibiarkan tertipu dengan kebiasaan orang munafik yang memang suka menipu. Jika mereka tidak berhenti berbuat kerusakan, yaitu sesuatu yang membahayakan internal ummat Islam, maka akan diumumkan perang, dan Al Quran memberikan semangat kepada Rasulullah untuk melakukan hal ini.
QS Al Ahzab 60-62 adalah sebuah pengumuman dari Allah: sungguh jika orang2 munafik dan orang2 yang di dalam hatinya ada keraguan, keingkaran, tidak juga berhenti, maka umumkan agar memerangi mereka, dan tidak boleh bertetangga dengan Rasulullah. Ini lah sikap ketiga, agar seluruh umat Islam di dunia ini tegas kepada orang2 munafik.
Tiga sifat, yaitu sifat nifaq, hatinya ragu terhadap Islam, dan berbuat keonaran, sebenarnya untuk mensifati satu orang, yaitu munafik.
Orang2 seperti itu harus diberikan sanksi: mereka tidak boleh dijadikan tetangga kamu, kecuali sedikit (yang diperkirakan masih bisa berubah), dan mereka dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah). Bisa jadi orang munafik itu kaya, berkuasa, popular, tapi dia dilaknat oleh Allah sehingga ketenarannya, kekuasaannya, kekayaannya tidak memberikan keberkahan pada dirinya.
Pura2 beragama Islam tapi memusuhi Islam, maka orang2 seperti ini tidak boleh berdekatan dengan pemimpin Islam, karena sifat itu dilaknat oleh Allah.
4. Bila setelah diiberi peringatan. tidak juga berubah, maka akan diperangi.
Instruksi untuk tegas terhadap orang2 kafir dan munafik dijelaskan di QS At Taubah 73 dan At Tahrim 9: Hai Nabi, perangilah orang2 kafir dan orang2 munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
Apa korelasi antara orang kafir dengan munafik? Sehingga dalam dua ayat di atas orang kafir dan orang munafik disambungkan dengan huruf “waw” (dan), karena keduanya menunjukkan adanya kesamaan.
Orang kafir dan orang munafik sama2 memerangi kaum muslimin. Orang munafik memerangi dari dalam, dan orang2 kafir dari luar. Musuh dari dalam, lebih berbahaya, karena mereka mengatakan: “kami saudaramu.” Padahal mereka musuh yang sebenarnya. Orang kafir jelas kekafirannya, sedangkan orang munafik mengaku beragama Islam, tetapi memerangi dari dalam.
Allah memerintahkan Nabi dan kaum muslimin memerangi kaum munafik. Apa bentuk memeranginya?
Ath Thobari mengatakan, memerangi orang munafik dengan cara berargumentasi saja.
Tapi tidak semua ulama seperti Ath Thobari, yaitu cukup dengan berargumentasi saja, ada juga ulama yang mengatakan: ketika orang2 munafik sudah berada di barisan kaum muslimin, tidak cukup dengan berargumentasi. Memerangi kaum kafir dengan senjata, maka memerangi kaum munafik juga dengan senjata.
Pada saat perang kemerdekaan Indonesia, kita juga menemukan orang-orang munafik. Bukankah ketika kita dijajah Belanda, ada orang2 Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda.
Orang2 beriman ini juga berinteraksi dengan orang2 munafik, orang yang mengaku Islam tetapi dalam dirinya menyimpan kebencian terhadap Islam.
Di antara karakteristik ajaran Islam, ajaran Al Quran, adalah bertahap. Termasuk menyikapi orang2 munafik. Bagaimana caranya?
1. Sesuai dengan dzhohirnya.
Mengaku sebagai orang Islam, maka sikap ini yang pertama harus diprioritaskan. Kita hanyalah menyikapi manusia sesuai dengan dzhohirnya, kita tidak berhak memvonis seseorang dengan bathiniyahnya, karena yang tahu isi hati manusia hanya Allah SWT. Kita tidak boleh mengatakan, “orang itu mengaku2 Islam, tapi hatinya tidak.”
Tidak boleh mengatakan seperti itu, karena hanya Allah yang tahu isi manusia.
2. Memaafkan.
Ketika orang2 munafik, yang mengaku beragama Islam ini mendapatkan panggilan jihad, maka mereka tidak ikut berjuang dengan alasan2 yang didatangkan untuk meyakinkan dengan agar tidak berjuang.
QS At Taubah 42-43: “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta.”
Di antara sifat orang munafik, tidak sanggup menerima tugas2 yang berat. Kalau perjalanan itu dekat dan mendapatkan kesenangan, mereka mau ikut. Tapi di saat ada perintah berangkat jihad di perak Tabuk, mereka minta izin,
Allah yang yang menciptkana Nabi, tapi Alloh memberikan contoh ketika menegur seseorang. Di QS At Taubah 43 itu Allah menegur Nabi, dengan cara yang lembut.
“Allah memaafkanmu (Muhammad), kenapa engkau memaafkan mereka.”
3. Mengumumkan perang (baru sebatas diumumkan)
Al Quran mentarbiyah umat Islam agar umat ini cerdas, termasuk dalam menyikapi orang2 munafik sesuai dengan dzhohirnya, yaitu beragama Islam, lalu Nabi dengan santun memaafkan orang2 munafik yang bersikap abstain dalam menerima tugas2 dakwah.
Kaum Muslimini tidak dibiarkan tertipu dengan kebiasaan orang munafik yang memang suka menipu. Jika mereka tidak berhenti berbuat kerusakan, yaitu sesuatu yang membahayakan internal ummat Islam, maka akan diumumkan perang, dan Al Quran memberikan semangat kepada Rasulullah untuk melakukan hal ini.
QS Al Ahzab 60-62 adalah sebuah pengumuman dari Allah: sungguh jika orang2 munafik dan orang2 yang di dalam hatinya ada keraguan, keingkaran, tidak juga berhenti, maka umumkan agar memerangi mereka, dan tidak boleh bertetangga dengan Rasulullah. Ini lah sikap ketiga, agar seluruh umat Islam di dunia ini tegas kepada orang2 munafik.
Tiga sifat, yaitu sifat nifaq, hatinya ragu terhadap Islam, dan berbuat keonaran, sebenarnya untuk mensifati satu orang, yaitu munafik.
Orang2 seperti itu harus diberikan sanksi: mereka tidak boleh dijadikan tetangga kamu, kecuali sedikit (yang diperkirakan masih bisa berubah), dan mereka dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah). Bisa jadi orang munafik itu kaya, berkuasa, popular, tapi dia dilaknat oleh Allah sehingga ketenarannya, kekuasaannya, kekayaannya tidak memberikan keberkahan pada dirinya.
Pura2 beragama Islam tapi memusuhi Islam, maka orang2 seperti ini tidak boleh berdekatan dengan pemimpin Islam, karena sifat itu dilaknat oleh Allah.
4. Bila setelah diiberi peringatan. tidak juga berubah, maka akan diperangi.
Instruksi untuk tegas terhadap orang2 kafir dan munafik dijelaskan di QS At Taubah 73 dan At Tahrim 9: Hai Nabi, perangilah orang2 kafir dan orang2 munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
Apa korelasi antara orang kafir dengan munafik? Sehingga dalam dua ayat di atas orang kafir dan orang munafik disambungkan dengan huruf “waw” (dan), karena keduanya menunjukkan adanya kesamaan.
Orang kafir dan orang munafik sama2 memerangi kaum muslimin. Orang munafik memerangi dari dalam, dan orang2 kafir dari luar. Musuh dari dalam, lebih berbahaya, karena mereka mengatakan: “kami saudaramu.” Padahal mereka musuh yang sebenarnya. Orang kafir jelas kekafirannya, sedangkan orang munafik mengaku beragama Islam, tetapi memerangi dari dalam.
Allah memerintahkan Nabi dan kaum muslimin memerangi kaum munafik. Apa bentuk memeranginya?
Ath Thobari mengatakan, memerangi orang munafik dengan cara berargumentasi saja.
Tapi tidak semua ulama seperti Ath Thobari, yaitu cukup dengan berargumentasi saja, ada juga ulama yang mengatakan: ketika orang2 munafik sudah berada di barisan kaum muslimin, tidak cukup dengan berargumentasi. Memerangi kaum kafir dengan senjata, maka memerangi kaum munafik juga dengan senjata.
Pada saat perang kemerdekaan Indonesia, kita juga menemukan orang-orang munafik. Bukankah ketika kita dijajah Belanda, ada orang2 Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda.
25 Oktober 2014
Sikap Orang2 Beriman terhadap Orang2 Kafir yang Memerangi Umat Islam
Setiap orang yang merenungi ayat2 Al Quran, dan yang rajin
mempelajari sejarah, maka dia akan punya pengetahuan tentang Al Kufur.
Al Kufur itu merupakan satu agama. Mana dalilnya?
1. QS Al Anfal 73: Dan orang2 yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian lainnya. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.
Jumlah umat Islam ada banyak, 1 Miliar lebih. Kalau umat Islam tidak mau bersatu, maka ia seperti burung yang tidak utuh sayapnya, tidak bisa terbang. Setiap mau terbang, jatuh lagi dan lagi, karena umat Islam tidak mau bersatu.
2. QS Al Furqan 25: Orang2 kafir itu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat padanya, Sesungguhnya orang2 kafir itu memerangi Tuhannya, ketika mereka memerangi RasulNya.
3. Orang2 kafir itu, walaupun mungkin punya manhaj yang berbeda, ideologi yang berbeda, tapi ketika mereka berhadapan dengan Islam, maka mereka bersatupadu. Meskipun orang2 beriman itu berusaha semaksimal mungkin untuk damai, damai, damai, tetap mereka tidak mau.
Bisa kita lihat Yahudi di Israel, ketika baru pulang dari perjanjian perdamaian dengan Palestina, mereka sudah menyerang Palestina lagi.
Allah mengajarkan kepada kaum muslimiin agar menghadapi orang2 kafir seperti ini berbeda dengan orang2 kafir yang tidak memerangi umat Islam.
Tidak usah jauh2, seandainya para ulama dulu tidak tegas memerangi Belanda, dan mengatakan, hai Belanda silakan jajah Indonesia… Kita tidak akan pernah merdeka seperti ini.
Kita harus tahu, kapan kita harus berjuang menghadapi orang2 kufur dan kapan kita harus berdamai dengan yang tidak memerangi orang mukmin.
Agar kaum muslimin mempunyai pemahaman yang benar dalam menyikapi orang2 kafir yang memerangi kaum muslimin, maka kita harus tahu siapa saja mereka?
1. Orang2 yahudi yang memerangi kaum muslimin di zaman Rasulullah: bani quraidzhoh, bani nadzhir, dll.
2. Orang2 musyrik Mekkah yang memerangi Nabi saw, berkali2 memerangi kaum muslimin.
3. Orang2 Nasrani yang memerangi kaum muslimini, seperti Romawi di zaman Rasulullah.
Bagaimana AQ berbicara tentang ketiga2nya? AQ menjelaskan skala prioritas siapa yang lebih dahsyat permusuhannya terhadap umat Islam.
Al Maidah 82-83: Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya
Di ayat ini Allah mendahulukan menyebut Al Yahud, daripada orang2 musyrik. Benar2 kamu akan menjumpai manusia yang sangat dahsyat permusuhannya terhadap orang beriman, Allah dahulukan menyebut Al Yahud lalu orang2 musyrik.
Ketika Allah SWt menyebut Al Yahud lebih dahulu, ini menggambarkan permusuhan orang2 Yahudi lebih dahsyat daripada kamu musyrikin Mekkah dan Nasrani.
Mungkin ia tidak memerangi langsung, tapi mereka otak intelektualnya ketika memerangi umat islam.
Mari kita lihat apa yang dikatakan para ahli tafsir tentang ayat ini.
Ibnu Katsir memberi masukan kepada kita, kenapa yahudi begitu dahsyat permusuhannya, karena kufurnya Yahudi dibarengi dengan ingkar. Orang yahudi itu tahu bahwa Nabi Muhammad itu adalah seorang Nabi, karena tertulis di kitabnya. Ketika mengetahui bahwa Nabi terakhir itu akan turun di jazirah Arab, maka yahudi berbondong2 dari Yaman ke Arab, agar salah satu keturunan mereka ada yang menjadi Nabi. Begitu mereka mengetahui bahwa yang menjadi nabi bukan dari mereka, maka hati mereka sangat dengki dan menolak kenabian Nabi Muhammad.
Satu hari mereka bisa membunuh ratusan para nabi. Jangankan kita, nabi mereka saja dibunuh. Tuhan saja, mereka anggap pelit. Itu sebabnya, Yahudi disebutkan lebih dahulu oleh Allah di ayat ini daripada ummat lainnya.
Apa sikap orang2 beriman yang tepat terhadap kaum kafir yang memerangi kaum muslimin?
1. Dilarang oleh Allah untuk Wala’ loyal berpihak terhadap orang kafir yang memerangi kaum muslimin.
QS Al Maidah 51: Hai orang2 yang beriman, jangan kau jadikan Yahudi dan Nasrani itu pemimpin kamu, karena sebagian mereka adalah teman dekat sebagian lainnya.
Apa ancaman Allah bagi orang yang berpihak pada orang2 kafir tersebut? Barangsiapa yang loyal terhadap mereka, maka ia adalah golongan mereka.
Islam adalah agama keberpihakan. Bila berpihak pada golongan lain gara2 ingin kesenangan dunia yang sedikit, maka ia dianggap sudah masuk ke golongan itu. Ayat ini ditutup dengan kalimat: Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk pada orang2 yg zholim.
2. Qitaaluhum.
Memerangai karena mereka memerangi. Tidak nyambung, bila mereka memerangi lalu kita toleransi. Sebagaimana Belanda menjajah kita lalu kita tidak berjuang.
Kenapa Allah memerintahkan memerangi mereka?
1. Karena mereka selalu merusak janji.
Orang2 kafir harbi yang hobinya memerangi umat Islam, tidak bisa memegang janji, sehingga tidak bisa dijadikan teman dekat.
2. Sejak awal menginginkan mengusir Nabi
Al Anfal: Wayamkuruuna wayamkurullah
3. Mereka yang memulai perang, seperti perang Badar. Maka suatu yang adil bila Rasulullah bersiap2 memerangi mereka.
At Taubah 13-15:
Ketentuan seperti itu, bukan ijtihad Nabi, bukan pilihan orang beriman, tapi itu adalah petunjuk Allah yang maha mengetahui dan bijaksana. Perintah memerangi kaum kufur adalah perintah Allah. Kita ini manusia, kita kecil..
Apakah kita berani mengkiritik perintah Allah yang Maha Mengetahui. Kita ini orang Islam, tapi bermesraan dengan emreka yang memerangi Islam.
Sikap menghadapi serangan kaum kafir yang memerangi umat Islam sudah ditunjukkan oleh Rasulullah, para sahabat Rasulullah, para tabiit tabiin, dan para ulama kita di Indonesia yang memerangi Belanda saat menjajah Indonesia.
1. QS Al Anfal 73: Dan orang2 yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian lainnya. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.
Jumlah umat Islam ada banyak, 1 Miliar lebih. Kalau umat Islam tidak mau bersatu, maka ia seperti burung yang tidak utuh sayapnya, tidak bisa terbang. Setiap mau terbang, jatuh lagi dan lagi, karena umat Islam tidak mau bersatu.
2. QS Al Furqan 25: Orang2 kafir itu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat padanya, Sesungguhnya orang2 kafir itu memerangi Tuhannya, ketika mereka memerangi RasulNya.
3. Orang2 kafir itu, walaupun mungkin punya manhaj yang berbeda, ideologi yang berbeda, tapi ketika mereka berhadapan dengan Islam, maka mereka bersatupadu. Meskipun orang2 beriman itu berusaha semaksimal mungkin untuk damai, damai, damai, tetap mereka tidak mau.
Bisa kita lihat Yahudi di Israel, ketika baru pulang dari perjanjian perdamaian dengan Palestina, mereka sudah menyerang Palestina lagi.
Allah mengajarkan kepada kaum muslimiin agar menghadapi orang2 kafir seperti ini berbeda dengan orang2 kafir yang tidak memerangi umat Islam.
Tidak usah jauh2, seandainya para ulama dulu tidak tegas memerangi Belanda, dan mengatakan, hai Belanda silakan jajah Indonesia… Kita tidak akan pernah merdeka seperti ini.
Kita harus tahu, kapan kita harus berjuang menghadapi orang2 kufur dan kapan kita harus berdamai dengan yang tidak memerangi orang mukmin.
Agar kaum muslimin mempunyai pemahaman yang benar dalam menyikapi orang2 kafir yang memerangi kaum muslimin, maka kita harus tahu siapa saja mereka?
1. Orang2 yahudi yang memerangi kaum muslimin di zaman Rasulullah: bani quraidzhoh, bani nadzhir, dll.
2. Orang2 musyrik Mekkah yang memerangi Nabi saw, berkali2 memerangi kaum muslimin.
3. Orang2 Nasrani yang memerangi kaum muslimini, seperti Romawi di zaman Rasulullah.
Bagaimana AQ berbicara tentang ketiga2nya? AQ menjelaskan skala prioritas siapa yang lebih dahsyat permusuhannya terhadap umat Islam.
Al Maidah 82-83: Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya
Di ayat ini Allah mendahulukan menyebut Al Yahud, daripada orang2 musyrik. Benar2 kamu akan menjumpai manusia yang sangat dahsyat permusuhannya terhadap orang beriman, Allah dahulukan menyebut Al Yahud lalu orang2 musyrik.
Ketika Allah SWt menyebut Al Yahud lebih dahulu, ini menggambarkan permusuhan orang2 Yahudi lebih dahsyat daripada kamu musyrikin Mekkah dan Nasrani.
Mungkin ia tidak memerangi langsung, tapi mereka otak intelektualnya ketika memerangi umat islam.
Mari kita lihat apa yang dikatakan para ahli tafsir tentang ayat ini.
Ibnu Katsir memberi masukan kepada kita, kenapa yahudi begitu dahsyat permusuhannya, karena kufurnya Yahudi dibarengi dengan ingkar. Orang yahudi itu tahu bahwa Nabi Muhammad itu adalah seorang Nabi, karena tertulis di kitabnya. Ketika mengetahui bahwa Nabi terakhir itu akan turun di jazirah Arab, maka yahudi berbondong2 dari Yaman ke Arab, agar salah satu keturunan mereka ada yang menjadi Nabi. Begitu mereka mengetahui bahwa yang menjadi nabi bukan dari mereka, maka hati mereka sangat dengki dan menolak kenabian Nabi Muhammad.
Satu hari mereka bisa membunuh ratusan para nabi. Jangankan kita, nabi mereka saja dibunuh. Tuhan saja, mereka anggap pelit. Itu sebabnya, Yahudi disebutkan lebih dahulu oleh Allah di ayat ini daripada ummat lainnya.
Apa sikap orang2 beriman yang tepat terhadap kaum kafir yang memerangi kaum muslimin?
1. Dilarang oleh Allah untuk Wala’ loyal berpihak terhadap orang kafir yang memerangi kaum muslimin.
QS Al Maidah 51: Hai orang2 yang beriman, jangan kau jadikan Yahudi dan Nasrani itu pemimpin kamu, karena sebagian mereka adalah teman dekat sebagian lainnya.
Apa ancaman Allah bagi orang yang berpihak pada orang2 kafir tersebut? Barangsiapa yang loyal terhadap mereka, maka ia adalah golongan mereka.
Islam adalah agama keberpihakan. Bila berpihak pada golongan lain gara2 ingin kesenangan dunia yang sedikit, maka ia dianggap sudah masuk ke golongan itu. Ayat ini ditutup dengan kalimat: Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk pada orang2 yg zholim.
2. Qitaaluhum.
Memerangai karena mereka memerangi. Tidak nyambung, bila mereka memerangi lalu kita toleransi. Sebagaimana Belanda menjajah kita lalu kita tidak berjuang.
Kenapa Allah memerintahkan memerangi mereka?
1. Karena mereka selalu merusak janji.
Orang2 kafir harbi yang hobinya memerangi umat Islam, tidak bisa memegang janji, sehingga tidak bisa dijadikan teman dekat.
2. Sejak awal menginginkan mengusir Nabi
Al Anfal: Wayamkuruuna wayamkurullah
3. Mereka yang memulai perang, seperti perang Badar. Maka suatu yang adil bila Rasulullah bersiap2 memerangi mereka.
At Taubah 13-15:
Ketentuan seperti itu, bukan ijtihad Nabi, bukan pilihan orang beriman, tapi itu adalah petunjuk Allah yang maha mengetahui dan bijaksana. Perintah memerangi kaum kufur adalah perintah Allah. Kita ini manusia, kita kecil..
Apakah kita berani mengkiritik perintah Allah yang Maha Mengetahui. Kita ini orang Islam, tapi bermesraan dengan emreka yang memerangi Islam.
Sikap menghadapi serangan kaum kafir yang memerangi umat Islam sudah ditunjukkan oleh Rasulullah, para sahabat Rasulullah, para tabiit tabiin, dan para ulama kita di Indonesia yang memerangi Belanda saat menjajah Indonesia.
24 Oktober 2014
Sikap Orang2 Beriman terhadap Orang2 Kafir yang Netral (Tidak Memusuhi)
Al Quran adalah kitab yang adil. Oleh karena itu, dalam kajian
sebelumnya tentang orang2 beriman, memang sifat2 orang beriman itu
berbeda, karena orientasinya berbeda. Orang beriman memiliki prinsip
yang jelas.
Sikap orang beriman terhadap orang beriman lainnya harus bersifat loyal (wala’), karena:
1. QS Al Hujuraat 10: innamal mu’minuuna ikhwah (sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara)
2. QS Al Maidah 55: Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah).
Kita batasi pembahasan kali ini, tentang sikap orang beriman terhadap orang2 kafir yang tidak memerangi Islam.
1. Berbuat baik dan berlaku adil.
QS Al Mumtahanah 8: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
2. Tidak Memaksakan keyakinan/toleransi.
QS. Al Baqarah 256: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.
Orang beriman tidak memaksa keyakinan, laa ikroo ha fiddiin.
Seperti apa realitas sebuah masyrakat yang berdasarkan AQ dan Sunnah yang dibangun oleh Rasulullah SAW? Rasullulah melihat sahabat2nya di Mekkah disakiti, diteror, sementara Nabi dijaga dengan aman, karena Nabi dijaga Allah dan juga karena kedudukan kakek Rasulullah, yaitu Abdul Muthallib yang dihormati di suku Quraisy, sehingga Rasulullah memerintahkan sahabat2nya untuk hijrah ke Habasah (Ethiopia), yang waktu itu masyarakatnya beragama Nasrani.
1. Nabi sangat perhatian pada sahabatnya, tidak mungkin beliau diam sementara sahabatnya terancam, sehingga ia menyuruh sahabat2nya hijrah ke Habasah.
2. Nabi adalah orang yang obyektif, bahwa tidak semua orang kafir dipukul rata, yaitu diangap semuanya memusuhi Islam, tapi Rasulullah mengatakan raja Habasah sebagai orang yang jujur
3. Pandai berterima kasih. Ketika Najasi, raja di Habasah, meninggal, yang sebenarnya ia meninggal dalam keadaan Islam, tapi dirahasikan, karena masyarakatnya masih banyak yang nasrani, Nabi menghormatinya dengan cara sholat ghaib.
Rasulullah bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang kafir. Sehingga ketika kaum muslimin dikalahkan, dan ketika pasukan Abu Sufyan mau menyerang lagi. Ma’bad melarang Abu Sufyan, dengan mengatakan Rasulullah punya pasukan yang lebih besar, maka Abu Sufyan tidak jadi memerangi.
Ummat Islam harus cerdas dalam berinteraksi, bisa membedakan mana yang memerangi kaum muslimin dan mana yang netral.
QS Al-Jaasiyah 14-15: Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.
Allah memerintahkan orang2 beriman untuk memaafkan orang2 kafir, sabar menahan dirinya jangan membalas kejahatan mereka, ini ayat yang turun di awal2 Islam.. Tujuannya agar supaya hati mereka lembut, dan ini tidak lama, karena setelah itu seluruh jazirah Arab masuk Islam, karena akhlaq orang2 beriman yang lembut ini.
Mari kita lihat sejarah yang begitu indah dan luar biasa yang tidak pernah bisa ditandingi oleh siapapun. Sebuah jamaah, yaitu jamaahnya Rasulullah, diusir dari tanah kelahiran, dirampas harta bendanya, dan ketika kaum muslimin bisa menaklukkan Mekkah tanah air yang dulu mereka diusir, Nabi dan para sahabatnya tidak balas dendam, tidak menghancurkan berhala2 mereka. Mereka mempersilakan penduduk Mekkah untuk pergi dalam keadaan bebas. Kalau ini bukan sebuah sejarah yang benar2 terjadi, pasti sudah mengatakan bahwa ajaran Al Quran itu hanyalah khayalan saja.
Bagaimana mungkin musuhnya yang dulu sudah mencaci maki bertahun tahun dan memusuhi, tapi ketika sudah menang, musuhnya dibebaskan begitu saja.
Jangan ada rasa takut terhadap Islam, karena kalau Umat Islam menang, tidak ada balas dendam. Yang dulunya musuh, diberi kesempatan utk berfikir apakah mau masuk Islam karena keindahannya atau mau tetap dalam keyakinannya.
Di satu sisi ajaran Islam adalah ajaran yang tasamuh/toleransi, baik terhadap muslim maupun non muslim, karena laa ikrooha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).
Tapi itu bukan berarti kita loyalitas kepada orang kafir. Islam menghargai kebebasan beraqidah, tapi al walaa adalah loyalitas keterikatan, dan ini adalah inti ajaran Islam,
Jangan sampai karena alasan toleransi kepada kaum kafir, ia membenci saudaranya orang Islam, demi mendapatkan hal keduniawian.
Tapi juga tidak boleh berdasarkan al wala’ wal bara, ia memerangi siapa saja orang kafir. Tidak boleh. Kalau ada orang islam mmerangi orang kafir, itu
Tidak boleh ada pencampuradukkan anatar at tasaamuh (toleransi) dengan al walaa (loyalitas). Kenapa terjadi kesalahan sehingga terjadi percampuran antar keduanya?
1. Berlebihan (ghuluu’). Siapa pun, bila berlebihan maka ia akan meyimpang.
Yahudi menyimpang, karena mengatakan “Uzair putra Allah” dan orang2 Nasrani menyimpang dengan mengatakan “Al Masih putra Allah (QS At Taubah 30-31).
2. Memliki tujuan yang buruk. Bisa jadi orang itu tahu, tapi karena punya niat yang buruk, maka ia sengaja melakukannya.
Sikap orang2 yang beriman kepada orang2 kafir adalah jelas: berbuat baik, adil dan toleransi.
Sikap orang beriman terhadap orang beriman lainnya harus bersifat loyal (wala’), karena:
1. QS Al Hujuraat 10: innamal mu’minuuna ikhwah (sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara)
2. QS Al Maidah 55: Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah).
Kita batasi pembahasan kali ini, tentang sikap orang beriman terhadap orang2 kafir yang tidak memerangi Islam.
1. Berbuat baik dan berlaku adil.
QS Al Mumtahanah 8: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
2. Tidak Memaksakan keyakinan/toleransi.
QS. Al Baqarah 256: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.
Orang beriman tidak memaksa keyakinan, laa ikroo ha fiddiin.
Seperti apa realitas sebuah masyrakat yang berdasarkan AQ dan Sunnah yang dibangun oleh Rasulullah SAW? Rasullulah melihat sahabat2nya di Mekkah disakiti, diteror, sementara Nabi dijaga dengan aman, karena Nabi dijaga Allah dan juga karena kedudukan kakek Rasulullah, yaitu Abdul Muthallib yang dihormati di suku Quraisy, sehingga Rasulullah memerintahkan sahabat2nya untuk hijrah ke Habasah (Ethiopia), yang waktu itu masyarakatnya beragama Nasrani.
1. Nabi sangat perhatian pada sahabatnya, tidak mungkin beliau diam sementara sahabatnya terancam, sehingga ia menyuruh sahabat2nya hijrah ke Habasah.
2. Nabi adalah orang yang obyektif, bahwa tidak semua orang kafir dipukul rata, yaitu diangap semuanya memusuhi Islam, tapi Rasulullah mengatakan raja Habasah sebagai orang yang jujur
3. Pandai berterima kasih. Ketika Najasi, raja di Habasah, meninggal, yang sebenarnya ia meninggal dalam keadaan Islam, tapi dirahasikan, karena masyarakatnya masih banyak yang nasrani, Nabi menghormatinya dengan cara sholat ghaib.
Rasulullah bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang kafir. Sehingga ketika kaum muslimin dikalahkan, dan ketika pasukan Abu Sufyan mau menyerang lagi. Ma’bad melarang Abu Sufyan, dengan mengatakan Rasulullah punya pasukan yang lebih besar, maka Abu Sufyan tidak jadi memerangi.
Ummat Islam harus cerdas dalam berinteraksi, bisa membedakan mana yang memerangi kaum muslimin dan mana yang netral.
QS Al-Jaasiyah 14-15: Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.
Allah memerintahkan orang2 beriman untuk memaafkan orang2 kafir, sabar menahan dirinya jangan membalas kejahatan mereka, ini ayat yang turun di awal2 Islam.. Tujuannya agar supaya hati mereka lembut, dan ini tidak lama, karena setelah itu seluruh jazirah Arab masuk Islam, karena akhlaq orang2 beriman yang lembut ini.
Mari kita lihat sejarah yang begitu indah dan luar biasa yang tidak pernah bisa ditandingi oleh siapapun. Sebuah jamaah, yaitu jamaahnya Rasulullah, diusir dari tanah kelahiran, dirampas harta bendanya, dan ketika kaum muslimin bisa menaklukkan Mekkah tanah air yang dulu mereka diusir, Nabi dan para sahabatnya tidak balas dendam, tidak menghancurkan berhala2 mereka. Mereka mempersilakan penduduk Mekkah untuk pergi dalam keadaan bebas. Kalau ini bukan sebuah sejarah yang benar2 terjadi, pasti sudah mengatakan bahwa ajaran Al Quran itu hanyalah khayalan saja.
Bagaimana mungkin musuhnya yang dulu sudah mencaci maki bertahun tahun dan memusuhi, tapi ketika sudah menang, musuhnya dibebaskan begitu saja.
Jangan ada rasa takut terhadap Islam, karena kalau Umat Islam menang, tidak ada balas dendam. Yang dulunya musuh, diberi kesempatan utk berfikir apakah mau masuk Islam karena keindahannya atau mau tetap dalam keyakinannya.
Di satu sisi ajaran Islam adalah ajaran yang tasamuh/toleransi, baik terhadap muslim maupun non muslim, karena laa ikrooha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).
Tapi itu bukan berarti kita loyalitas kepada orang kafir. Islam menghargai kebebasan beraqidah, tapi al walaa adalah loyalitas keterikatan, dan ini adalah inti ajaran Islam,
Jangan sampai karena alasan toleransi kepada kaum kafir, ia membenci saudaranya orang Islam, demi mendapatkan hal keduniawian.
Tapi juga tidak boleh berdasarkan al wala’ wal bara, ia memerangi siapa saja orang kafir. Tidak boleh. Kalau ada orang islam mmerangi orang kafir, itu
Tidak boleh ada pencampuradukkan anatar at tasaamuh (toleransi) dengan al walaa (loyalitas). Kenapa terjadi kesalahan sehingga terjadi percampuran antar keduanya?
1. Berlebihan (ghuluu’). Siapa pun, bila berlebihan maka ia akan meyimpang.
Yahudi menyimpang, karena mengatakan “Uzair putra Allah” dan orang2 Nasrani menyimpang dengan mengatakan “Al Masih putra Allah (QS At Taubah 30-31).
2. Memliki tujuan yang buruk. Bisa jadi orang itu tahu, tapi karena punya niat yang buruk, maka ia sengaja melakukannya.
Sikap orang2 yang beriman kepada orang2 kafir adalah jelas: berbuat baik, adil dan toleransi.
23 Oktober 2014
Memperbanyak Generasi Sholeh (Sifat orang2 Beriman)
Ini adalah tema terakhir dari sifat orang2 beriman. Di antara sifat2
orang beriman, yaitu menginginkan lebih banyak lagi orang2 yang sholeh,
dan menginginkan dirinya menjadi teladan yang baik.
Untuk mengetahui sejauh mana kesungguhan kita menjadi orang2 beriman, bisa dilihat sejauh mana kepedulian kita untuk ikhtiar memperbanyak orang2 yang shalih. Sebelum kita buktikan di masyarakat luas, mari kita buktikan di rumah kita.
Al Furqon 74: Walla dziina yaquuluuna (dan mereka yang berdoa)
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yuniw waj ‘alnaa lil muttaqiina imaamaa (“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang0orang yang bertakwa”).
Ini bukan sekedar doa. Doa itu esensinya adalah ibadah. Ad Du ‘aau huwal ibadah.
Doa ini menjadi kurikulum kehidupannya. Setiap hari yang kita pikirkan adalah bagaimana di dunia ini setiap harinya semakin banyak orang2 yang sholeh, orang2 yang semakin jelas kehidupannya menuju ridho Allah.
Apa makna qurrota a’yun? Di dalam tafsir al ma’tsuur dijelaskan bahwa qurrota a’yun adalah anak istri kita menjadi orang2 yang menjadi ketentraman hati kita, karena mereka taat paada Allah.
Dia juga menginginkan dirinya menjadi teladan yang baik bagi orang lain. “Dan jadikanlah kami imam bagi orang2 bertaqwa.” Logikanya, kalau yang dipimpin saja orang2 yg bertaqwa, tentunya menginginkan yang memimpin lebih bertaqwa daripada yang dipimpin.
Setiap kepala keluarga lebih bertaqwa daripada anggota keluarganya. Setiap pemimpin organisasi lebih bertaqwa daripada anggota organisasinya. Setiap pemimpin Negara lebih bertaqwa daripada rakyatnya. Dst…
Meneladani orang2 terbaik, sehingga yang ditampilkan dalam hidup ini adalah kebaikan2. Yang tampil dalam hidup ini adalah orang2 yang terbaik.
Sehingga kita memiliki mizan (timbangan) yang jelas ketika kita memilih pemimpin, atau juga ketika kita menjadi pemimpin, kita punya panduan yang jelas.
Apa itu sifat2 pemimpin yang beriman?
Al Anbiya (21) 73:
1. Mereka memberikan petunjuk dengan perintah kami.
Seorang pemimpin adalah orang yang selalu memberi petunjuk dengan cara yang benar. Pemimpin itu kerjanya selalu mengajak umat manusia selalu mengikuti Allah, bukan untuk mengikuti dirinya atau golongannya.
2. Untuk selalu memproduksi kebaikan2.
Mencakup seluruh bentuk2 kebaikan. Memperbaiki aqidah sehingga tidak akan mendiamkan yang syirik di masyarakat. Tidak akan diam, bila ekonomi negara melemahkan masyarakat. Tidak akan diam melihat politik yang kotor. Dst..
3. Mendirikan sholat.
Ia juga pemimpin dalam sholat jamaahnya. Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali adalah pemimpin dalam sholatnya. Jadi tidak boleh pemimpin itu yang jarang pergi ke masjid.
Begitulah pemimpin yang diridhoi Allah. Ia selalu mendirikan sholat di rumah Allah.
Di dalam QS An Nuur 36-37 Ada munasabah (korelasi) antara rumah2 Allah dengan pemimpin.
Di rumah2 Allah (masjid), bertasbih kepada Allah pada pagi dan sore, yaitu para pemimpin (rijaalun). Digunakan kata rijaal, biasanya kata rijaal menggambarkan ketokohan, kontribusi kebaikannya.
4. Membayar zakat.
Pemimpin terdepan dalam membayar zakat sehingga meringankan rakyatnya.
5. Mereka hanya hamba2 Kami.
Para pemimpin mana pun, harus benar2 menjadi hamba Allah, tidak boleh menjadi hamba hawa nafsunya, hamba manusia yang lain, hamba dari bangsa lain, dll. Dia harus memimpin dalam rangka tunduk pada Allah.
Untuk mengetahui sejauh mana kesungguhan kita menjadi orang2 beriman, bisa dilihat sejauh mana kepedulian kita untuk ikhtiar memperbanyak orang2 yang shalih. Sebelum kita buktikan di masyarakat luas, mari kita buktikan di rumah kita.
Al Furqon 74: Walla dziina yaquuluuna (dan mereka yang berdoa)
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yuniw waj ‘alnaa lil muttaqiina imaamaa (“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang0orang yang bertakwa”).
Ini bukan sekedar doa. Doa itu esensinya adalah ibadah. Ad Du ‘aau huwal ibadah.
Doa ini menjadi kurikulum kehidupannya. Setiap hari yang kita pikirkan adalah bagaimana di dunia ini setiap harinya semakin banyak orang2 yang sholeh, orang2 yang semakin jelas kehidupannya menuju ridho Allah.
Apa makna qurrota a’yun? Di dalam tafsir al ma’tsuur dijelaskan bahwa qurrota a’yun adalah anak istri kita menjadi orang2 yang menjadi ketentraman hati kita, karena mereka taat paada Allah.
Dia juga menginginkan dirinya menjadi teladan yang baik bagi orang lain. “Dan jadikanlah kami imam bagi orang2 bertaqwa.” Logikanya, kalau yang dipimpin saja orang2 yg bertaqwa, tentunya menginginkan yang memimpin lebih bertaqwa daripada yang dipimpin.
Setiap kepala keluarga lebih bertaqwa daripada anggota keluarganya. Setiap pemimpin organisasi lebih bertaqwa daripada anggota organisasinya. Setiap pemimpin Negara lebih bertaqwa daripada rakyatnya. Dst…
Meneladani orang2 terbaik, sehingga yang ditampilkan dalam hidup ini adalah kebaikan2. Yang tampil dalam hidup ini adalah orang2 yang terbaik.
Sehingga kita memiliki mizan (timbangan) yang jelas ketika kita memilih pemimpin, atau juga ketika kita menjadi pemimpin, kita punya panduan yang jelas.
Apa itu sifat2 pemimpin yang beriman?
Al Anbiya (21) 73:
1. Mereka memberikan petunjuk dengan perintah kami.
Seorang pemimpin adalah orang yang selalu memberi petunjuk dengan cara yang benar. Pemimpin itu kerjanya selalu mengajak umat manusia selalu mengikuti Allah, bukan untuk mengikuti dirinya atau golongannya.
2. Untuk selalu memproduksi kebaikan2.
Mencakup seluruh bentuk2 kebaikan. Memperbaiki aqidah sehingga tidak akan mendiamkan yang syirik di masyarakat. Tidak akan diam, bila ekonomi negara melemahkan masyarakat. Tidak akan diam melihat politik yang kotor. Dst..
3. Mendirikan sholat.
Ia juga pemimpin dalam sholat jamaahnya. Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali adalah pemimpin dalam sholatnya. Jadi tidak boleh pemimpin itu yang jarang pergi ke masjid.
Begitulah pemimpin yang diridhoi Allah. Ia selalu mendirikan sholat di rumah Allah.
Di dalam QS An Nuur 36-37 Ada munasabah (korelasi) antara rumah2 Allah dengan pemimpin.
Di rumah2 Allah (masjid), bertasbih kepada Allah pada pagi dan sore, yaitu para pemimpin (rijaalun). Digunakan kata rijaal, biasanya kata rijaal menggambarkan ketokohan, kontribusi kebaikannya.
4. Membayar zakat.
Pemimpin terdepan dalam membayar zakat sehingga meringankan rakyatnya.
5. Mereka hanya hamba2 Kami.
Para pemimpin mana pun, harus benar2 menjadi hamba Allah, tidak boleh menjadi hamba hawa nafsunya, hamba manusia yang lain, hamba dari bangsa lain, dll. Dia harus memimpin dalam rangka tunduk pada Allah.
03 Oktober 2014
Sifat Orang Beriman: Amanah
Sifat2 orang beriman ada banyak dijelaskan dalam Al Quran. Hal ini
sebagai tanda bahwa orang2 beriman harus memiliki nafas panjang.
Riayatul Amanah (Memelihara Amanah)
Al Muminun 8: Dan sungguh beruntung orang2 yang menjaga amanah2 dan janjinya.
Amanah adalah persimpangan jalan yang memisahkan orang beriman dengan orang munafik. Kalau dari tampilan zhahir/fisik, kita sulit membedakan antara orang beriman dengan orang munafik. Orang beriman memegang amanah sedangkan orang munafik, khianat.
Tanda orang munafik ada tiga. Ketika ia berbicara, bohong. Ketika berjanji, dia ingkar. Ketika diberikan amanah, khianat. (Al Hadist)
Sedangkan orang beriman, ia memenuhi janjinya, menjaga amanahnya dalam keadaan apa pun.
Bukankah Rasulullah diusir oleh penduduknya. Tapi beliau tidak lupa amanah. Ketika dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, ia masih ingat titipan orang kafir Quraisy di rumahnya.
Jika saat ini orang2 mengatakan, “Wajarlah kita korupsi, kan gajinya juga kecil.” Naudzubillahi min dzalik. Korupsi yang kecil akan memicu korupsi yang lebih besar lagi.
Al Amanah Fithrah
Amanah itu sesuatu yang fitri. Artinya, setiap manusia, diciptakan oleh Allah dengan modal amanah. Manusia mana pun di dunia ini tidak ingin ditipu dikhianati oleh orang lain. Itu tanda bahwa amanah itu fitrah,
Itulah kenapa kita berdoa di Al matsurat: ashbahna alal fithratul Islam.
Kita juga menjaga bagaimana anak2 kita terjaga fitrah mereka. Supaya mereka tetap menyukai kejujuran, kebenaran, dan amanah.
Al Amanah Mu’tasabah (Amanah Bisa Diusahakan)
Amanah juga bisa diusahakan. Mungkin dulunya seseorang itu tidak ikut pengajian2. Maka dia harus mempelajari apa itu Islam. Dia harus berada di lingkungan orang2 yang amanah. Lingkungan yang kondusif bisa membangun amanah dalam diri kita. Ini tanda amanah bisa diusahakan (mutasabah)..
Apa saja macam2 amanah:
Kita harus memiliki pemahaman persepsi yang menyeluruh tentang amanah.
1. Amanah yang bernama fitrah. Harus kita jaga. Fitrah manusia senang kebaikan, jujur, mudah untuk menerima Islam. Jadi kalau ada orang tidak jujur, tidak suka Islam, itu tandanya fitrahnya rusak. Tidak bisa kembali fitrah kecuali kembali pada Islam.
Di dalam Ar Ruum (30): 30, tiga hal ini: fitrah, manusia dan Islam, masing2 disebut dua kali.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Qs Ar Ruum (30):30)
Allah tidak mengganti sebutan manusia dengan kata ganti seperti “mereka”, tapi tetap kata menggunakan kata “an naas” (manusia).
Manusia tetap menjadi manusia jika tetap dalam Islam, tetap dalam fithrahnya.
Ketika ada orang membunuh, atau zina, atau korupsi, maka ia tidak bisa kembali kepada fithrahnya, kecuali jika ia kembali pada Islam.
2. Menyandarkan hukum pada ahlinya.
Apa pun di dalam dunia ini harus diserahkan pad ahlinya.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS An Nisa 58)
Tidak boleh berbuat zholim karena berbeda golongan, partai, karena itu akan menyebabkan kehancuran.
Abi Dzar berkata pada Rasulullah: Ya Rasulullah, tidakkah engkau berkenan mengangkatku menjadi pejabat?
“Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau itu orang yang lemah, dan sesungguhnyanjabatan itu adalah amanat, dan jabatan itu akan membuat kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali orang yang dapat memegang jabatan sebagaimana mestinya dan dapat melaksanakan jabatan (amanat) yang semestinya”. HR. Muslim.
Marilah kita berusaha memahami hadist ini secara benar. Jangan dipahami bahwa umat Islam itu tidak boleh jadi penguasa. Kita ingat ketika nabi Yusuf meminta jabatan, sebagai penanggung jawab ekonomi. Ketika seseorang mengambil jabatan dan mengambil hak orang lain, itu tidak diperbolehkan. Ketika seorang mukmin di daerah tertentu, ketika ia tidak tampil memimpin, maka daerahnya akan dipimpin oleh orang2 yang tidak mentaati Allah, itu lah kenapa nabi Yusuf mengajukan diri.
3. Selalu menjaga sholatnya.
Orang2 yang beruntung adalah yang selalu menjaga sholatnya. (QS Al Mu’minun 9)
Di awal surat Al Mu’minun, dijelaskan sifat2 orang beriman itu adalah orang yang khusyuk, lalu di penutup tema ini juga tentang sholat, yaitu yang selalu menjaga sholatnya, ini menggambarkan urgensi sholat dalam kehidupan ini. Bagaimana eksistensi seorang muslim dengan imannya, bisa dilihat di Hadist:
Aku bertanya pada Rasul: Amal apa yang paling utama?
Sholat pada waktunya
Biirul walidain (berbuat baik pada kedua orang tua)
Jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah).
Ini suatu bukti bahwa amal utama itu banyak, tapi yang pertama disebut adalah sholat. Jika kita ingin iman kita diterima Allah, buktikan dengan sholat tepat waktu.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda, “Jika kamu melihat orang yang biasa mengunjungi masjid, saksikan wahai semuanya bahwa dia telah beriman”
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid2 adalah orang2 beriman.
Sesungguhnya kekuatan umat Islam dimulai dari masjidnya, terutama sholat subuh dan isya. Itu tanda awal kebangkitan umat Islam. Pusat sentral kegiatan kaum muslimin adalah masjid. Di situ lah membangun bangsa dan negaranya.
Sehingga tidak ada dikotomi antara masjid dengan negara. Nabi adalah ketua masjid dan juga kepala Negara. Karena mengelola Negara dari suasana masjid yang damai, persatuan, kedekatan dengan Allah.
Itu tidak hanya Rasulullah saja, ketika Rasulullah sdh meninggal, dilanjutkan oleh para khalifah,. Semua nya mengelola masjid. Kita semua harus seperti itu.
Di QS An Nisa 102, dijelaskan bahwa di saat kondisi tidak aman sekalipun, seseorang itu tetap harus sholat.
Dalam kondisi apa pun kita harus tepat waktu dalam sholat.
Semoga di dalam diri kita dan anak2 kita terdapat sifat orang mukmin. Orang yg selalu menjaga amanahnya, selalu mendirikan sholatnya.
Riayatul Amanah (Memelihara Amanah)
Al Muminun 8: Dan sungguh beruntung orang2 yang menjaga amanah2 dan janjinya.
Amanah adalah persimpangan jalan yang memisahkan orang beriman dengan orang munafik. Kalau dari tampilan zhahir/fisik, kita sulit membedakan antara orang beriman dengan orang munafik. Orang beriman memegang amanah sedangkan orang munafik, khianat.
Tanda orang munafik ada tiga. Ketika ia berbicara, bohong. Ketika berjanji, dia ingkar. Ketika diberikan amanah, khianat. (Al Hadist)
Sedangkan orang beriman, ia memenuhi janjinya, menjaga amanahnya dalam keadaan apa pun.
Bukankah Rasulullah diusir oleh penduduknya. Tapi beliau tidak lupa amanah. Ketika dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, ia masih ingat titipan orang kafir Quraisy di rumahnya.
Jika saat ini orang2 mengatakan, “Wajarlah kita korupsi, kan gajinya juga kecil.” Naudzubillahi min dzalik. Korupsi yang kecil akan memicu korupsi yang lebih besar lagi.
Al Amanah Fithrah
Amanah itu sesuatu yang fitri. Artinya, setiap manusia, diciptakan oleh Allah dengan modal amanah. Manusia mana pun di dunia ini tidak ingin ditipu dikhianati oleh orang lain. Itu tanda bahwa amanah itu fitrah,
Itulah kenapa kita berdoa di Al matsurat: ashbahna alal fithratul Islam.
Kita juga menjaga bagaimana anak2 kita terjaga fitrah mereka. Supaya mereka tetap menyukai kejujuran, kebenaran, dan amanah.
Al Amanah Mu’tasabah (Amanah Bisa Diusahakan)
Amanah juga bisa diusahakan. Mungkin dulunya seseorang itu tidak ikut pengajian2. Maka dia harus mempelajari apa itu Islam. Dia harus berada di lingkungan orang2 yang amanah. Lingkungan yang kondusif bisa membangun amanah dalam diri kita. Ini tanda amanah bisa diusahakan (mutasabah)..
Apa saja macam2 amanah:
Kita harus memiliki pemahaman persepsi yang menyeluruh tentang amanah.
1. Amanah yang bernama fitrah. Harus kita jaga. Fitrah manusia senang kebaikan, jujur, mudah untuk menerima Islam. Jadi kalau ada orang tidak jujur, tidak suka Islam, itu tandanya fitrahnya rusak. Tidak bisa kembali fitrah kecuali kembali pada Islam.
Di dalam Ar Ruum (30): 30, tiga hal ini: fitrah, manusia dan Islam, masing2 disebut dua kali.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Qs Ar Ruum (30):30)
Allah tidak mengganti sebutan manusia dengan kata ganti seperti “mereka”, tapi tetap kata menggunakan kata “an naas” (manusia).
Manusia tetap menjadi manusia jika tetap dalam Islam, tetap dalam fithrahnya.
Ketika ada orang membunuh, atau zina, atau korupsi, maka ia tidak bisa kembali kepada fithrahnya, kecuali jika ia kembali pada Islam.
2. Menyandarkan hukum pada ahlinya.
Apa pun di dalam dunia ini harus diserahkan pad ahlinya.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS An Nisa 58)
Tidak boleh berbuat zholim karena berbeda golongan, partai, karena itu akan menyebabkan kehancuran.
Abi Dzar berkata pada Rasulullah: Ya Rasulullah, tidakkah engkau berkenan mengangkatku menjadi pejabat?
“Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau itu orang yang lemah, dan sesungguhnyanjabatan itu adalah amanat, dan jabatan itu akan membuat kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali orang yang dapat memegang jabatan sebagaimana mestinya dan dapat melaksanakan jabatan (amanat) yang semestinya”. HR. Muslim.
Marilah kita berusaha memahami hadist ini secara benar. Jangan dipahami bahwa umat Islam itu tidak boleh jadi penguasa. Kita ingat ketika nabi Yusuf meminta jabatan, sebagai penanggung jawab ekonomi. Ketika seseorang mengambil jabatan dan mengambil hak orang lain, itu tidak diperbolehkan. Ketika seorang mukmin di daerah tertentu, ketika ia tidak tampil memimpin, maka daerahnya akan dipimpin oleh orang2 yang tidak mentaati Allah, itu lah kenapa nabi Yusuf mengajukan diri.
3. Selalu menjaga sholatnya.
Orang2 yang beruntung adalah yang selalu menjaga sholatnya. (QS Al Mu’minun 9)
Di awal surat Al Mu’minun, dijelaskan sifat2 orang beriman itu adalah orang yang khusyuk, lalu di penutup tema ini juga tentang sholat, yaitu yang selalu menjaga sholatnya, ini menggambarkan urgensi sholat dalam kehidupan ini. Bagaimana eksistensi seorang muslim dengan imannya, bisa dilihat di Hadist:
Aku bertanya pada Rasul: Amal apa yang paling utama?
Sholat pada waktunya
Biirul walidain (berbuat baik pada kedua orang tua)
Jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah).
Ini suatu bukti bahwa amal utama itu banyak, tapi yang pertama disebut adalah sholat. Jika kita ingin iman kita diterima Allah, buktikan dengan sholat tepat waktu.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda, “Jika kamu melihat orang yang biasa mengunjungi masjid, saksikan wahai semuanya bahwa dia telah beriman”
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid2 adalah orang2 beriman.
Sesungguhnya kekuatan umat Islam dimulai dari masjidnya, terutama sholat subuh dan isya. Itu tanda awal kebangkitan umat Islam. Pusat sentral kegiatan kaum muslimin adalah masjid. Di situ lah membangun bangsa dan negaranya.
Sehingga tidak ada dikotomi antara masjid dengan negara. Nabi adalah ketua masjid dan juga kepala Negara. Karena mengelola Negara dari suasana masjid yang damai, persatuan, kedekatan dengan Allah.
Itu tidak hanya Rasulullah saja, ketika Rasulullah sdh meninggal, dilanjutkan oleh para khalifah,. Semua nya mengelola masjid. Kita semua harus seperti itu.
Di QS An Nisa 102, dijelaskan bahwa di saat kondisi tidak aman sekalipun, seseorang itu tetap harus sholat.
Dalam kondisi apa pun kita harus tepat waktu dalam sholat.
Semoga di dalam diri kita dan anak2 kita terdapat sifat orang mukmin. Orang yg selalu menjaga amanahnya, selalu mendirikan sholatnya.
01 Oktober 2014
Indahnya Sifat Orang2 Beriman (3)
Keindahan sifat orang beriman, tersebar di banyak surat di Al Quran. Kali ini akan kita bahas yang di QS Al Furqan (25) 63-76
1. As Sakinah wal waqor (Tenang dan tidak berlebihan)
QS Al Furqan 63: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.
Yang dimaksud dengan rendah hati itu adalah orang yang berjalan di muka bumi dengan tenang apa adanya.
Tidak ada orang yang lebih tenang/khusyuk jalannya daripada Rasulullah. Bumi itu seperti dilipat karena begitu cepatnya Rasulullah berjalan.
Kedisiplinan orang bekerja itu dapat dilihat dari cara jalannya. Orang2 di Negara maju biasanya berjalan dengan cepat. Ketika bekerja, mereka cepat jalannya. Ibaadurrahman, hamba2 yang disayang oleh Allah, jalannya tenang, tidak dibuat2. Cara berjalan ini harus dipahami dengan benar. Bukan jalannya seperti orang sakit, atau dibuat2 seperti seolah-olah jalannya orang yang bertaqwa.
2. Indah Menawan.
Umat Islam memiliki akhlaq menawan. Di antaranya adalah al himu (lemah lembut).
Ketika hamba2 Allah itu dicerca, dicela oleh orang2 yang bodoh (al jahiliyyah), mereka mengucapkan kata2 yang mengandung keselamatan (salam).
Yang dimaksud dengan bodoh dalam Islam, bukan berarti ia tidak bisa baca tulis, tapi ia tentang suatu kondisi kejiwaan yang selalu menolak apa saja yang berbau Islam. Makanya Abu Jahal (bapaknya kebodohan) itu sebenarnya pintar berpidato, tapi ia selalu menolak Islam.
Betapa urgent-nya sifat yang santun, lemah lembut, sabar menghadapi cercaan, kita lihat hadist Rasulullah.
Beliau bersabda kepada Asad bin Abdul Qois: Sesungguhnya kamu punya dua akhlaq yang dicintai oleh Allah: lemah lebut (santun) dan tidak tergesa2.
Nabi, adalah seorang pemimpin. Ini contoh bagi para pemimpin, para ayah, untuk selalu cerdas melihat kelebihan sisi baik dari orang lain. Jangan terbalik. Jika ada kebaikan saudaranya disimpannya, lalu jika ada sedikit saja keburukan saudaranya lalu diumumkan.
Nabi kalau ada kebaikan saudaranya, ia umumkan. Tapi kalau ada keburukan, ia nasehati dengan cara baik2, tidak membesar2kannya, ia simpan, dan tidak menyakiti hati saudaranya itu.
Tidak membalas kejahatan orang lain itu bukan karena ia lemah, tapi ia diamkan karena ia tidak ingin waktunya tergilas habis untuk hal-hal seperti ini. Ia ingin gigih menjawab tugas2 dakwah yang jauh lebih besar.
3. Menghidupkan malam dengan sholat.
Begitu pentingnya menghidupkan malam2 dengan sholat, disebutkan di dalam Al Quran dalam beberapa surat, seperti di QS As Sajdah 15-16: malam harinya digunakan untuk menghidupkan malam dengan sholat (Qiyamul Lail/QL).
Bagaimana supaya kita bisa mengikuti Sunnah Nabi untuk QL? Gunakan Sunnah Nabi lainnya. Sebelum malam terlalu larut, ia telah tidur. Nabi sukanya setelah isya tidak berlama2 untuk becanda, ngobrol, dsbnya. Nabi setelah isya segera tidur.
Mereka sedikit sekali untuk tidur. Mereka isi malamnya dengan QL.
Ketika menilai kecendikiawanan seseorang itu bukan semata2 keilmuwan, tapi juga di siang harinya iaberpuasa dan di malam harinya ia bangun untuk QL.
Ketika seseorang bertanya tentang sesuatu ke Imam Hasan Al Basri, lalu Hasan Al Basri mencoba menjawabnya, dan orang itu tidak puas dengan jawaban imam, dan berkata, “Hai, imam, seorang yang faqih (paham ilmu fiqih) tidak seperti itu pendapatnya.”
Mendengar komentar itu imam menjawab, “seseorang yang disebut faqih tidak sebatas keilmuwan, tapi yang siang harinya berpuasa dan malamnya QL.”
Ulama memberikan rekomendasi sebagai orang yang alim, kepada Imam Hasa Al Basri, karena pendapat2 beliau mirip dg Rasulullah.
Kita harus punya tolak ukur yang benar, sehingga kita tidak salah menilai sesoerang, atau suatu kejadian.
Apa kelebihan QL itu dilakukan di waktu malam?
Di malam hari itu suasananya berbeda dengan di siang hari. Kekhsuyukan dan ketenangan di malam hari tidak bisa disamakan dengan di siang hari. Apalagi di kota2 besar, persaingan begitu ketat, dalam politik, ekonomi, dsbnya. Maka dari itu ketika ibadurrahman bangun di malam hari, mereka berdoa “ Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami.”
QS Al Muzzamil, surat di mana Nabi dan sahabat nabi wajib QL, hingga turun ayat penutupnya, dan menjadikan QL menjadi Sunnah uuntuk para sahabat Nabi dan tetap wajib bagi Nabi. Disebutkan bahwa sholat di malam hari lebih dalam, lebih khusyuk.
4. Berada di Tengah2 dalam Membelanjakan Harta Benda
Inilah petunjuk Allah dalam membangun ekonomi kita.
Dalam membalanjakan harta bendanya tidak terjebak dalam dua kutub ekstrim yang sama2 membahayakan. Tidak boros dan tidak ekstrim (QS Al Furqan 67).
Apa definisi para ulama tentang boros dan kikir:
Ibnu Jarir mengatakan, beberapa ulama memilki beberapa varian. Ini memperkaya pengetahuan kita dan tidak perlu kita pertentangkan.
Al Isrof (boros): ketika seseorang membelanjakan harta benda untuk berbuat untuk maksiat pada Allah. Ketika dibelikan untuk judi, minum2an keras, sesuatu yang berbahaya bagi bangsa dan Negara. Walau sedikit, tapi itu membahayakan, maka itu boros.
Iqtar (kikir): Setiap manusia yang menghalang2i mencegah hak Allah, maka itu kikir. Ketika ia tidak bayar zakat, meski ia menyumbang dalam jumlah besar ke lembaga2 lain maka ia disebut kikir.
Ulama lain definisikan boros: orang yang berlebihan dalam berbelanja, menembus batas2 kepatutan. Meski itu adalah uang kita sendiri, itu boros jika tidak lazim dan melewati batas2 kelayakan dan kepatutatn yang seusai dengan kultur tradisi setempat.
Al Iqtar: seseorang mengurangi dari yang seharusnya. Meski ia mengeluarkan uang 1 juta, 2 juta, tapi ia mengurangi dari pengeluaran yang seharusnya, maka ia kikir.
Di antara definisi boros: makan atau mengambil harta benda orang lain. Walau itu sedikit, itu zholim. Korupsi dikit atau apalagi banyak, itu zholim.
Allah memberitahukan tentang system ekonomi yang benar di mana setiap manusia diberikan hak untuk memiliki harta bendanya. Tapi ketika ia diberikan kebebasan untuk memiliki harta bendanya, ia tidak boleh membelanjakannya sebebas2nya, sehingga membahayakan orang lain. Itu liberal namanya. Jika ia punya mobil, lalu menyetir dengan keadaan mabuk, meski ia beli minuman keras itu uangnya sendiri, tapi itu membahayakan orang lain.
Zina itu walau ia bayar pakai uangnya sendiri, tapi itu merusak bangsa dan Negara. Meski itu adalah negara2 non muslim, tapi zina membuat jiwa penduduknya buruk.
Semoga kita diselamatkan dari penyakit kikir dan boros.
1. As Sakinah wal waqor (Tenang dan tidak berlebihan)
QS Al Furqan 63: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.
Yang dimaksud dengan rendah hati itu adalah orang yang berjalan di muka bumi dengan tenang apa adanya.
Tidak ada orang yang lebih tenang/khusyuk jalannya daripada Rasulullah. Bumi itu seperti dilipat karena begitu cepatnya Rasulullah berjalan.
Kedisiplinan orang bekerja itu dapat dilihat dari cara jalannya. Orang2 di Negara maju biasanya berjalan dengan cepat. Ketika bekerja, mereka cepat jalannya. Ibaadurrahman, hamba2 yang disayang oleh Allah, jalannya tenang, tidak dibuat2. Cara berjalan ini harus dipahami dengan benar. Bukan jalannya seperti orang sakit, atau dibuat2 seperti seolah-olah jalannya orang yang bertaqwa.
2. Indah Menawan.
Umat Islam memiliki akhlaq menawan. Di antaranya adalah al himu (lemah lembut).
Ketika hamba2 Allah itu dicerca, dicela oleh orang2 yang bodoh (al jahiliyyah), mereka mengucapkan kata2 yang mengandung keselamatan (salam).
Yang dimaksud dengan bodoh dalam Islam, bukan berarti ia tidak bisa baca tulis, tapi ia tentang suatu kondisi kejiwaan yang selalu menolak apa saja yang berbau Islam. Makanya Abu Jahal (bapaknya kebodohan) itu sebenarnya pintar berpidato, tapi ia selalu menolak Islam.
Betapa urgent-nya sifat yang santun, lemah lembut, sabar menghadapi cercaan, kita lihat hadist Rasulullah.
Beliau bersabda kepada Asad bin Abdul Qois: Sesungguhnya kamu punya dua akhlaq yang dicintai oleh Allah: lemah lebut (santun) dan tidak tergesa2.
Nabi, adalah seorang pemimpin. Ini contoh bagi para pemimpin, para ayah, untuk selalu cerdas melihat kelebihan sisi baik dari orang lain. Jangan terbalik. Jika ada kebaikan saudaranya disimpannya, lalu jika ada sedikit saja keburukan saudaranya lalu diumumkan.
Nabi kalau ada kebaikan saudaranya, ia umumkan. Tapi kalau ada keburukan, ia nasehati dengan cara baik2, tidak membesar2kannya, ia simpan, dan tidak menyakiti hati saudaranya itu.
Tidak membalas kejahatan orang lain itu bukan karena ia lemah, tapi ia diamkan karena ia tidak ingin waktunya tergilas habis untuk hal-hal seperti ini. Ia ingin gigih menjawab tugas2 dakwah yang jauh lebih besar.
3. Menghidupkan malam dengan sholat.
Begitu pentingnya menghidupkan malam2 dengan sholat, disebutkan di dalam Al Quran dalam beberapa surat, seperti di QS As Sajdah 15-16: malam harinya digunakan untuk menghidupkan malam dengan sholat (Qiyamul Lail/QL).
Bagaimana supaya kita bisa mengikuti Sunnah Nabi untuk QL? Gunakan Sunnah Nabi lainnya. Sebelum malam terlalu larut, ia telah tidur. Nabi sukanya setelah isya tidak berlama2 untuk becanda, ngobrol, dsbnya. Nabi setelah isya segera tidur.
Mereka sedikit sekali untuk tidur. Mereka isi malamnya dengan QL.
Ketika menilai kecendikiawanan seseorang itu bukan semata2 keilmuwan, tapi juga di siang harinya iaberpuasa dan di malam harinya ia bangun untuk QL.
Ketika seseorang bertanya tentang sesuatu ke Imam Hasan Al Basri, lalu Hasan Al Basri mencoba menjawabnya, dan orang itu tidak puas dengan jawaban imam, dan berkata, “Hai, imam, seorang yang faqih (paham ilmu fiqih) tidak seperti itu pendapatnya.”
Mendengar komentar itu imam menjawab, “seseorang yang disebut faqih tidak sebatas keilmuwan, tapi yang siang harinya berpuasa dan malamnya QL.”
Ulama memberikan rekomendasi sebagai orang yang alim, kepada Imam Hasa Al Basri, karena pendapat2 beliau mirip dg Rasulullah.
Kita harus punya tolak ukur yang benar, sehingga kita tidak salah menilai sesoerang, atau suatu kejadian.
Apa kelebihan QL itu dilakukan di waktu malam?
Di malam hari itu suasananya berbeda dengan di siang hari. Kekhsuyukan dan ketenangan di malam hari tidak bisa disamakan dengan di siang hari. Apalagi di kota2 besar, persaingan begitu ketat, dalam politik, ekonomi, dsbnya. Maka dari itu ketika ibadurrahman bangun di malam hari, mereka berdoa “ Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami.”
QS Al Muzzamil, surat di mana Nabi dan sahabat nabi wajib QL, hingga turun ayat penutupnya, dan menjadikan QL menjadi Sunnah uuntuk para sahabat Nabi dan tetap wajib bagi Nabi. Disebutkan bahwa sholat di malam hari lebih dalam, lebih khusyuk.
4. Berada di Tengah2 dalam Membelanjakan Harta Benda
Inilah petunjuk Allah dalam membangun ekonomi kita.
Dalam membalanjakan harta bendanya tidak terjebak dalam dua kutub ekstrim yang sama2 membahayakan. Tidak boros dan tidak ekstrim (QS Al Furqan 67).
Apa definisi para ulama tentang boros dan kikir:
Ibnu Jarir mengatakan, beberapa ulama memilki beberapa varian. Ini memperkaya pengetahuan kita dan tidak perlu kita pertentangkan.
Al Isrof (boros): ketika seseorang membelanjakan harta benda untuk berbuat untuk maksiat pada Allah. Ketika dibelikan untuk judi, minum2an keras, sesuatu yang berbahaya bagi bangsa dan Negara. Walau sedikit, tapi itu membahayakan, maka itu boros.
Iqtar (kikir): Setiap manusia yang menghalang2i mencegah hak Allah, maka itu kikir. Ketika ia tidak bayar zakat, meski ia menyumbang dalam jumlah besar ke lembaga2 lain maka ia disebut kikir.
Ulama lain definisikan boros: orang yang berlebihan dalam berbelanja, menembus batas2 kepatutan. Meski itu adalah uang kita sendiri, itu boros jika tidak lazim dan melewati batas2 kelayakan dan kepatutatn yang seusai dengan kultur tradisi setempat.
Al Iqtar: seseorang mengurangi dari yang seharusnya. Meski ia mengeluarkan uang 1 juta, 2 juta, tapi ia mengurangi dari pengeluaran yang seharusnya, maka ia kikir.
Di antara definisi boros: makan atau mengambil harta benda orang lain. Walau itu sedikit, itu zholim. Korupsi dikit atau apalagi banyak, itu zholim.
Allah memberitahukan tentang system ekonomi yang benar di mana setiap manusia diberikan hak untuk memiliki harta bendanya. Tapi ketika ia diberikan kebebasan untuk memiliki harta bendanya, ia tidak boleh membelanjakannya sebebas2nya, sehingga membahayakan orang lain. Itu liberal namanya. Jika ia punya mobil, lalu menyetir dengan keadaan mabuk, meski ia beli minuman keras itu uangnya sendiri, tapi itu membahayakan orang lain.
Zina itu walau ia bayar pakai uangnya sendiri, tapi itu merusak bangsa dan Negara. Meski itu adalah negara2 non muslim, tapi zina membuat jiwa penduduknya buruk.
Semoga kita diselamatkan dari penyakit kikir dan boros.
30 September 2014
Sifat2 Orang Beriman (2)
3. Membayar zakat
Di QS At Taubah 60, zakat itu disebutkan dengan sebutan shodaqoh. Shodaqoh itu artinya benar. Orang yang membayar zakat itu menunjukkan imannya benar. Zakat itu bukti dan ukuran keimanan seseorang.
Sebagai tanda bahwa iman seseorang itu benar, ia membayar zakat.
Ash shodaqotul burhanun.
Shodaqoh adalah bukti bahwa iman seseorang benar.
4. Menjaga kemaluan
Bukti bahwa kita beriman, kita harus menyintai kehormatan. Bersih dari noda zina.
Ketika ia mengelola organisasi, organisasinya bersih dan suci. Ketika ia mengelola Negara, negaranya bersih dan suci dari seluruh kemaksiatan.
Bersihnya hatinya orang beriman yaitu ketika ia khusyuk dalam sholatnya.
Orang beriman juga manusia, memiliki kebutuhan biologis, tapi kebutuhannya ini harus dipenuhi dalam keadaan bersih dan suci.
Alloh sediakan yang halal, Alloh sediakan istri2.
Yang halal itu lebih banyak daripada yang haram. Jangan salah memahami Islam. Mengatakan bahwa di Islam, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Jika banyak dilarang, itu untuk kebaikan manusia. Zina , judi, korupsi semua dilarang.
Masyarakat yang didominasi oleh syahwat yang liar, yang tidak bisa mengembalikan kehormatannya, adalah masyarakat yang terancam hancur. Umat Islam diingatkan oleh Allah bahayanya perbuatan zina. Karena masyarakat mana pun yang mengaku Islam, tapi jika syahwatnya tidak dikendalikan, maka itu akan hancur.
Keluarga yang individunya ada yang berzina, maka negri itu akan hancur. Maka jauh2 hari sudah diingatkan oleh Allah. Ungkapan larangannya bukan “jangan berzina”, tapi “jangan mendekati zina”. Mendekatinya saja sudah dilarang.
Di antara Allah menjaga kehormatan itu agar tidak terjatuh pada zina. Jangan liar, mata harus dijaga. Baik laki2 maupun perempuan beriman, sama2 diperintahkan untuk menjaga pandangan.
Bagaimana AQ mentarbiyah/mendidik kita, agar kehormatan diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita terjaga?
1. Islam menjadikan ikatan pernikahan di dunia ini tidak selama2nya. Islam agama yang realistis. Memang benar kita tidak mau memilih cerai. Tapi dalam kehidupan ini tidak selamanya keluarga itu harmonis. Keluarga yang seperti ini sudah diusahakan untuk didamaikan, bertahun2. Bahkan ada yang terancam nyawanya. Di saat itulah cerai adalah solusi. Sebagaimana nikah adalah ajaran AQ, cerai juga ajarana AQ.
2. Suami diperbolehkan untuk mencerai, dan juga seorang istri meminta cerai. Sangat realistis. Bahkan juga sebagian kaum muslimin (karena tidak semuanya mampu berbuat adil dan mampu), Allah perbolehkan menikah sampai empat. Karena Allah tahu, laki-laki tidak akan senggup menikah lebih dari empat istri. Kapan seseorang perlu poligami, itu jika seorang suami tidak bisa menjaga kehormatannya dengan satu istri. Tapi hal ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menyakiti perasaan istri pertamanya.
Pemahaman yang parsial terhadap Islam, tentang poligami, jihad, dll, membuat seseorang salah paham terhadap Islam.
3. Bila ia belum mampu menikah, agar ia berpuasa.
Nabi membimbing dengan nasehat, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu untuk nikah, maka nikah lah. Karena nikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu nikah, hendaklah puasa, karena puasa merupakan perisai baginya.” (HR Bukhori dan Muslim)
Lebih cepat nikah, lebih baik jika ia sudah mampu. Karena menikah itu bisa meredakan penglihatan kita.
Di QS At Taubah 60, zakat itu disebutkan dengan sebutan shodaqoh. Shodaqoh itu artinya benar. Orang yang membayar zakat itu menunjukkan imannya benar. Zakat itu bukti dan ukuran keimanan seseorang.
Sebagai tanda bahwa iman seseorang itu benar, ia membayar zakat.
Ash shodaqotul burhanun.
Shodaqoh adalah bukti bahwa iman seseorang benar.
4. Menjaga kemaluan
Bukti bahwa kita beriman, kita harus menyintai kehormatan. Bersih dari noda zina.
Ketika ia mengelola organisasi, organisasinya bersih dan suci. Ketika ia mengelola Negara, negaranya bersih dan suci dari seluruh kemaksiatan.
Bersihnya hatinya orang beriman yaitu ketika ia khusyuk dalam sholatnya.
Orang beriman juga manusia, memiliki kebutuhan biologis, tapi kebutuhannya ini harus dipenuhi dalam keadaan bersih dan suci.
Alloh sediakan yang halal, Alloh sediakan istri2.
Yang halal itu lebih banyak daripada yang haram. Jangan salah memahami Islam. Mengatakan bahwa di Islam, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Jika banyak dilarang, itu untuk kebaikan manusia. Zina , judi, korupsi semua dilarang.
Masyarakat yang didominasi oleh syahwat yang liar, yang tidak bisa mengembalikan kehormatannya, adalah masyarakat yang terancam hancur. Umat Islam diingatkan oleh Allah bahayanya perbuatan zina. Karena masyarakat mana pun yang mengaku Islam, tapi jika syahwatnya tidak dikendalikan, maka itu akan hancur.
Keluarga yang individunya ada yang berzina, maka negri itu akan hancur. Maka jauh2 hari sudah diingatkan oleh Allah. Ungkapan larangannya bukan “jangan berzina”, tapi “jangan mendekati zina”. Mendekatinya saja sudah dilarang.
Di antara Allah menjaga kehormatan itu agar tidak terjatuh pada zina. Jangan liar, mata harus dijaga. Baik laki2 maupun perempuan beriman, sama2 diperintahkan untuk menjaga pandangan.
Bagaimana AQ mentarbiyah/mendidik kita, agar kehormatan diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita terjaga?
1. Islam menjadikan ikatan pernikahan di dunia ini tidak selama2nya. Islam agama yang realistis. Memang benar kita tidak mau memilih cerai. Tapi dalam kehidupan ini tidak selamanya keluarga itu harmonis. Keluarga yang seperti ini sudah diusahakan untuk didamaikan, bertahun2. Bahkan ada yang terancam nyawanya. Di saat itulah cerai adalah solusi. Sebagaimana nikah adalah ajaran AQ, cerai juga ajarana AQ.
2. Suami diperbolehkan untuk mencerai, dan juga seorang istri meminta cerai. Sangat realistis. Bahkan juga sebagian kaum muslimin (karena tidak semuanya mampu berbuat adil dan mampu), Allah perbolehkan menikah sampai empat. Karena Allah tahu, laki-laki tidak akan senggup menikah lebih dari empat istri. Kapan seseorang perlu poligami, itu jika seorang suami tidak bisa menjaga kehormatannya dengan satu istri. Tapi hal ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menyakiti perasaan istri pertamanya.
Pemahaman yang parsial terhadap Islam, tentang poligami, jihad, dll, membuat seseorang salah paham terhadap Islam.
3. Bila ia belum mampu menikah, agar ia berpuasa.
Nabi membimbing dengan nasehat, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu untuk nikah, maka nikah lah. Karena nikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu nikah, hendaklah puasa, karena puasa merupakan perisai baginya.” (HR Bukhori dan Muslim)
Lebih cepat nikah, lebih baik jika ia sudah mampu. Karena menikah itu bisa meredakan penglihatan kita.
29 September 2014
Sifat2 Orang Beriman dalam Kehidupan Dunia (Bagian 1)
Iman harus dibuktikan dalam tindakan, bukan hanya pengakuan di ucapan saja.
QS Al Baqoroh 8: Dan di antara manusia ada yang mengatakan, “kami beriman pada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang yang beriman.
Ditolak keimanan mereka.
Kita ingin mendapatkan legitimasi keimanan dari Allah.
Apa saja sifat2 orang beriman, sehingga keimanan kita diterima Allah?
Di dalam Surat Al Mukminun 1: Qad aflah al mu'minuun
"Sungguh beruntung orang2 beriman itu."
Seperti apa keberuntungan orang2 beriman? Seperti apa kesuksesannya?
1. Kesuksesan di dunia dan akhirat. Orang beriman tidak hanya menang di dunia, tapi juga di akhirat.
2. Kesuksesan dalam konteks individu dan keberjamaahan.
3. Kesuksesan dengan seluruh maknanya diberikan kepada orang2 beriman.
Dalam memahami Islam, ketika tidak mengembalikan terminologi agama kepada sumbernya, maka salah cara memahaminya. Sukses adalah terminology agama, maka harus kembali kepada Al Quran dan Sunnah untuk memahaminya. Untuk memahami kesuksesan orang beriman, lihat Surat Al Mukminun 2-11:
1. Khusyu’ dalam sholatnya.
Apa itu khusyu’?
Khusyu’ bukan hanya tampilan zhohir anggota tubuh yang tampak saja, tapi juga hatinya.
Apa tanda kita khusyu’?
Khusyu’ adalah ketika tenangnya seseorang di dalam sholatnya. Orang yang khusyu’, tidak mungkin ia menggerak2kan tangannya ke badannya karena gatal, melihat jam tangannya, dll.
Apa keutamaan khusyu’?
Kenapa orang2 beriman itu sifat pertamnya adalah khusyu’?
Penjelasan tentang keutamaan khusyu’ bisa dilihat di dalam Sunnah Nabawiyah:
Hadist dari Ustman bin Affan: Tidaklah seseorang ketika melaksanakan sholat fadhu, ia memperbaiki wudhunya, khusyu’nya dalam sholat, ruku’nya, kecuali itu semua menjadi kafarat, menghapus dosa2 sebelumnya, selama ia tidak melakukan dosa2 besar.(HR Muslim)
Khusyu’ dalam sholat mengantarkan ia dihapus dosa2nya.
Barang siapa yang wudhu seperti wudhuku kemudian dia berdiri sholat 2 rokaat kemudian dalam sholatnya tidak ingat sesuatu yang bersifat duniawi, pasti dosa2nya diampuni. (HR Muslim).
Kenapa khusyu’ itu sebuah keharusan seorang muslim dalam sholatnya?
1. Karena ketika kita membaca Al Quran dan setiap kita sholat kita membaca Al Quran, kita harus mentadabburi (merenungi) Al Quran. Maka dalam sholat juga kita harus mentadabburi yang kita baca saat sholat.
Orang2 musyrik tidak terbuka hatinya walau Al Quran dibacakan padanya. Padahal gunung2 itu akan tunduk khusyu’ jika diturunkan Al Quran padanya. Harusnya manusia bisa khusyu’ karena ia diberikan akal dan hati nurani. Tanda khusyu’nya gunung adalah hancurnya gunung (QS Al Hasyr 21).
Kita ditegur Allah jika tidak mentadabburi Al Quran karena Al Quran sesungguhnya adalah hidangan yang lezat.
2. Agar kita selalu mengingat Allah. Karena pada dasarnya sholat adalah kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Masak kita berkomunikasi dengan kondisi kita tidak tahu apa yang sedang dibacakan, seperti sedang melamun.
Allah menyebutkan dalam QS Thoha 14: dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.
Ketika kita ada masalah, secepatnya kita sholat, dijadikan ketenangan di dalam hati.
3. Seseorang ketika tidak khusyu’ dalam sholatnya, maka tujuan dari sholat itu tidak tercapai.
Dalam sholat itu ada rukun, ada kewajiban. Semua ruhnya itu adalah niat yang ikhlas, khusyu’, hadirnya hati kita, sehingga hatinya bisa bertemu dengan Allah.
Sholat itu bukan hanya kegiatan fisik, tapi juga kegiatan ruh. Sama halnya ketika kita berqurban, bukan darahnya yang sampai pada Allah, tapi taqwa kita.
Fiqih hukum, yaitu tentang segala hal penting untuk mengetahui sah tidak sahnya ibadah kita, itu saja tidak cukup, tapi fiqh hati juga penting. Sehingga yang sampai bukan sekedar “darahnya hewan qurban” (fisik) saja, tapi juga taqwa kita.
Khusyu’ adalah sesuatu yang harus dicari dalam ibadah kita, sehingga suasana ibadah itu benar2 dekat dengan Allah.
2. Orang2 yang beriman yang beruntung itu memiliki sifat berpaling dari kebatilan/sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Di sini menggunakan jumlah ismiyah (susunan kalimat yang diawali dengan kata benda), yang artinya orang2 beriman akan selalu sukses selama mereka senantiasa jauh dari kebatilan, yaitu yang berupa sikap, ucapan, kebijakan, keberpihakan terhadap yang batil.
Kenapa kita harus senantiasa menghindari kebatilan? Karena orang2 beriman itu orang2 yang bersungguh2 dalam bekerja, membangun rumah tangganya, membangun bangsanya. Waktunya tidak ia habiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, tertawa2 dan tidak serius. Walau kita bukan malaikat, dan kita butuh istirahat, tapi kita harus selalu bersungguh2. Waktunya tidak habis untuk sesuatu yang tidak ada gunanya. Potensinya tidak terjebak untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Ini juga menjadi solusi dan masukan untuk seluruh kaum msulimin, agar waktunya tidak habis untuk merespon manusia2 jahil yang menggoda manusia2 beriman.
Ada kisah nyata bagaimana seseorang yang baru belajar syair, yang ingin nebeng ketenaran penyair Mutanabbi, yaitu dengan meledek Mutanabbi dengan ucapaan “anak zina,” tapi hal ini tidak dilayani oleh Mutanabbi.
Orang2 yang tidak suka Islam terus meledek Islam, jangan dilayani. Walau perlu ada yang menjawab tapi tidak perlu menghabiskan waktu untuk melayaninya.
QS Al Baqoroh 8: Dan di antara manusia ada yang mengatakan, “kami beriman pada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang yang beriman.
Ditolak keimanan mereka.
Kita ingin mendapatkan legitimasi keimanan dari Allah.
Apa saja sifat2 orang beriman, sehingga keimanan kita diterima Allah?
Di dalam Surat Al Mukminun 1: Qad aflah al mu'minuun
"Sungguh beruntung orang2 beriman itu."
Seperti apa keberuntungan orang2 beriman? Seperti apa kesuksesannya?
1. Kesuksesan di dunia dan akhirat. Orang beriman tidak hanya menang di dunia, tapi juga di akhirat.
2. Kesuksesan dalam konteks individu dan keberjamaahan.
3. Kesuksesan dengan seluruh maknanya diberikan kepada orang2 beriman.
Dalam memahami Islam, ketika tidak mengembalikan terminologi agama kepada sumbernya, maka salah cara memahaminya. Sukses adalah terminology agama, maka harus kembali kepada Al Quran dan Sunnah untuk memahaminya. Untuk memahami kesuksesan orang beriman, lihat Surat Al Mukminun 2-11:
1. Khusyu’ dalam sholatnya.
Apa itu khusyu’?
Khusyu’ bukan hanya tampilan zhohir anggota tubuh yang tampak saja, tapi juga hatinya.
Apa tanda kita khusyu’?
Khusyu’ adalah ketika tenangnya seseorang di dalam sholatnya. Orang yang khusyu’, tidak mungkin ia menggerak2kan tangannya ke badannya karena gatal, melihat jam tangannya, dll.
Apa keutamaan khusyu’?
Kenapa orang2 beriman itu sifat pertamnya adalah khusyu’?
Penjelasan tentang keutamaan khusyu’ bisa dilihat di dalam Sunnah Nabawiyah:
Hadist dari Ustman bin Affan: Tidaklah seseorang ketika melaksanakan sholat fadhu, ia memperbaiki wudhunya, khusyu’nya dalam sholat, ruku’nya, kecuali itu semua menjadi kafarat, menghapus dosa2 sebelumnya, selama ia tidak melakukan dosa2 besar.(HR Muslim)
Khusyu’ dalam sholat mengantarkan ia dihapus dosa2nya.
Barang siapa yang wudhu seperti wudhuku kemudian dia berdiri sholat 2 rokaat kemudian dalam sholatnya tidak ingat sesuatu yang bersifat duniawi, pasti dosa2nya diampuni. (HR Muslim).
Kenapa khusyu’ itu sebuah keharusan seorang muslim dalam sholatnya?
1. Karena ketika kita membaca Al Quran dan setiap kita sholat kita membaca Al Quran, kita harus mentadabburi (merenungi) Al Quran. Maka dalam sholat juga kita harus mentadabburi yang kita baca saat sholat.
Orang2 musyrik tidak terbuka hatinya walau Al Quran dibacakan padanya. Padahal gunung2 itu akan tunduk khusyu’ jika diturunkan Al Quran padanya. Harusnya manusia bisa khusyu’ karena ia diberikan akal dan hati nurani. Tanda khusyu’nya gunung adalah hancurnya gunung (QS Al Hasyr 21).
Kita ditegur Allah jika tidak mentadabburi Al Quran karena Al Quran sesungguhnya adalah hidangan yang lezat.
2. Agar kita selalu mengingat Allah. Karena pada dasarnya sholat adalah kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Masak kita berkomunikasi dengan kondisi kita tidak tahu apa yang sedang dibacakan, seperti sedang melamun.
Allah menyebutkan dalam QS Thoha 14: dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.
Ketika kita ada masalah, secepatnya kita sholat, dijadikan ketenangan di dalam hati.
3. Seseorang ketika tidak khusyu’ dalam sholatnya, maka tujuan dari sholat itu tidak tercapai.
Dalam sholat itu ada rukun, ada kewajiban. Semua ruhnya itu adalah niat yang ikhlas, khusyu’, hadirnya hati kita, sehingga hatinya bisa bertemu dengan Allah.
Sholat itu bukan hanya kegiatan fisik, tapi juga kegiatan ruh. Sama halnya ketika kita berqurban, bukan darahnya yang sampai pada Allah, tapi taqwa kita.
Fiqih hukum, yaitu tentang segala hal penting untuk mengetahui sah tidak sahnya ibadah kita, itu saja tidak cukup, tapi fiqh hati juga penting. Sehingga yang sampai bukan sekedar “darahnya hewan qurban” (fisik) saja, tapi juga taqwa kita.
Khusyu’ adalah sesuatu yang harus dicari dalam ibadah kita, sehingga suasana ibadah itu benar2 dekat dengan Allah.
2. Orang2 yang beriman yang beruntung itu memiliki sifat berpaling dari kebatilan/sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Di sini menggunakan jumlah ismiyah (susunan kalimat yang diawali dengan kata benda), yang artinya orang2 beriman akan selalu sukses selama mereka senantiasa jauh dari kebatilan, yaitu yang berupa sikap, ucapan, kebijakan, keberpihakan terhadap yang batil.
Kenapa kita harus senantiasa menghindari kebatilan? Karena orang2 beriman itu orang2 yang bersungguh2 dalam bekerja, membangun rumah tangganya, membangun bangsanya. Waktunya tidak ia habiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, tertawa2 dan tidak serius. Walau kita bukan malaikat, dan kita butuh istirahat, tapi kita harus selalu bersungguh2. Waktunya tidak habis untuk sesuatu yang tidak ada gunanya. Potensinya tidak terjebak untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Ini juga menjadi solusi dan masukan untuk seluruh kaum msulimin, agar waktunya tidak habis untuk merespon manusia2 jahil yang menggoda manusia2 beriman.
Ada kisah nyata bagaimana seseorang yang baru belajar syair, yang ingin nebeng ketenaran penyair Mutanabbi, yaitu dengan meledek Mutanabbi dengan ucapaan “anak zina,” tapi hal ini tidak dilayani oleh Mutanabbi.
Orang2 yang tidak suka Islam terus meledek Islam, jangan dilayani. Walau perlu ada yang menjawab tapi tidak perlu menghabiskan waktu untuk melayaninya.
28 September 2014
Kehidupan Orang Beriman di Dunia
Al Quran adalah Kitab untuk manusia. Seluruh isi Al Quran:
1. Bicara tentang manusia
2. Bicara kepada manusia.
Al Quran memberitahukan tentang karakter macam2 manusia:
1. Karakter orang2 beriman.
2. Karakter orang2 Kafir.
3, Karakter orang2 Munafik.
Al Quran menjelaskannya agar kita mengenal karakter2 tersebut.
Bagaimana pandangan orang2 beriman terhadap kehidupan dunia?
Pandangan ini berangkat dari keimanan mereka thd Al Quran. Menggunakan redaksi yg benar2 mukjizat yang tidak tertandingi oleh siapa pun.
Al Kahfi 45: perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Allah turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh2an di bumi, kemudian tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan angin.
Ini merupakan peringatan dari Alloh agar manusia tidak salah dalam memandang kehidupan dunia.
Apa saja komentar AQ ttg kehidupan dunia? Kehidupan dunia adalah:
1. Menipu (ghuruur)
Faatir 5: kehidupan dunia memperdayakan.
2. Hiasan (ziinah)
Utk apa dunia dijadikan hiasan? Tujuannya adalah menguji kita.
3. Cobaan (fitnah)
Al Anfal 27-28:
ayat 27 menyebutkan jangan kita mengkhianati Allah dan Rasul dan jangan mengkhianati amanat yang dipercayakan pada kita.
ayat 28 ttg harta benda dan anak adalah cobaan (fitnah).
Korelasi dua ayat ini: yang menjadikan manusia itu berkhianat adalah Harta benda dan anak. Ketika bekerja ia berlebihan, korupsi dan tidak amanah karena ia mengejar harta demi kepentingan anak2nya.
Kita semua harus waspada.
At Taghobun 14: "Yaa ayyuhalladzii na aamanu, inna min azwaajikum wa awlaadikum 'aduwwallakum fah dzaruuhum"
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara pasangan2mu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.
Sesungguhnya di antara istri2 dan anak2mu itu ada yang menjadi musuhmu. Allah gunakan kata "min" (di antara), ini menunjukkan bhw bukan semua istri dan anak2 kita, tapi di antara. Karena ada jg yang menjadi qurrota a'yun (penyejuk mata).
Ketika istri dan anak menghalangi2 kita beribadah kepada Allah, maka mereka menjadi 'aduww (musuh).
Ketika mereka mendorong kita beribadah pada Allah, maka mereka adalah qurrota a'yun.
Ketika Allah mengingatkan manusia tentang fitnah dunia, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bukan. Manusia butuh dunia untuk beribadah, menafkahi keluarga butuh harta, naik haji butuh harta, untuk membangun bangsa dan negara juga butuh harta.
Supaya kita tidak terjatuh ke ekstrim kanan maupun kiri. Yang kiri terlalu larut dalam dunia, yang kanan malah meninggalkan dunia, maka Al Quran mentarbiyah kita agar menjadi di tengah2.
Bagaimana seorang muslim melihat harta benda?
Berangkat dari pemahaman Islam tentang harta:
1. Melihatnya dari segi positif
Al Adiyat 8: larangan mencintai harta benda secara berlebihan.
Fitrah manusia adalah menyintai harta. Tapi cintanya pada harta tidak boleh melebihi keimanannya.
Harta benda bukan segala2nya. Justru harta benda digunakan untuk menciptakan kebaikan2.
2. Pandangan yang realistis.
Bagaimana realistis yg diajarkan oleh AQ?
Dengan 2 sarana:
1. At Tasriif
Islam mengatur agar hubungan antar manusia mendapatkan hartanya ada aturannya. Tidak ada yg lbh tahu ttg karakter manusia kecuali Alloh.
2. At Taujih (bimbingan)
Al Quran juga memberikan bimbingan kpd manusia utk takut kpd Allah. Harta benda itu tdk digunakan utk maksiat kepada Allah.
AQ memberikan pemahaman walau pun harta adalah baik, tapi ia juga cobaan.
Al Quran memberikan idealisme yang sangat indah, tentang org2 yang memberikan harta ke orang2 di sekitarnya agar juga bisa menikmati harta (maal). AQ bukan hanya memberikan nilai2 normatif tapi juga memberikan contoh2 aplikatif.
Di QS Al Hasr 9 Al Quran memberikan contoh, yaitu ketika muhajirin (orang2 yang berhijrah meninggalkan kampung halamannya di Mekkah pergi ke Madinah) mendapatkan harta benda dari orang2 Anshar (penduduk Madinah). Kaum Anshar berlomba2 memberikan bantuan kepada muhajirin, sampai2 pemberi bantuan lebih banyak daripada orang2 yang membutuhkan.
Mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri.
Al Quran mencetak manusia2 luar biasa.
1. Bicara tentang manusia
2. Bicara kepada manusia.
Al Quran memberitahukan tentang karakter macam2 manusia:
1. Karakter orang2 beriman.
2. Karakter orang2 Kafir.
3, Karakter orang2 Munafik.
Al Quran menjelaskannya agar kita mengenal karakter2 tersebut.
Bagaimana pandangan orang2 beriman terhadap kehidupan dunia?
Pandangan ini berangkat dari keimanan mereka thd Al Quran. Menggunakan redaksi yg benar2 mukjizat yang tidak tertandingi oleh siapa pun.
Al Kahfi 45: perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Allah turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh2an di bumi, kemudian tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan angin.
Ini merupakan peringatan dari Alloh agar manusia tidak salah dalam memandang kehidupan dunia.
Apa saja komentar AQ ttg kehidupan dunia? Kehidupan dunia adalah:
1. Menipu (ghuruur)
Faatir 5: kehidupan dunia memperdayakan.
2. Hiasan (ziinah)
Utk apa dunia dijadikan hiasan? Tujuannya adalah menguji kita.
3. Cobaan (fitnah)
Al Anfal 27-28:
ayat 27 menyebutkan jangan kita mengkhianati Allah dan Rasul dan jangan mengkhianati amanat yang dipercayakan pada kita.
ayat 28 ttg harta benda dan anak adalah cobaan (fitnah).
Korelasi dua ayat ini: yang menjadikan manusia itu berkhianat adalah Harta benda dan anak. Ketika bekerja ia berlebihan, korupsi dan tidak amanah karena ia mengejar harta demi kepentingan anak2nya.
Kita semua harus waspada.
At Taghobun 14: "Yaa ayyuhalladzii na aamanu, inna min azwaajikum wa awlaadikum 'aduwwallakum fah dzaruuhum"
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara pasangan2mu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.
Sesungguhnya di antara istri2 dan anak2mu itu ada yang menjadi musuhmu. Allah gunakan kata "min" (di antara), ini menunjukkan bhw bukan semua istri dan anak2 kita, tapi di antara. Karena ada jg yang menjadi qurrota a'yun (penyejuk mata).
Ketika istri dan anak menghalangi2 kita beribadah kepada Allah, maka mereka menjadi 'aduww (musuh).
Ketika mereka mendorong kita beribadah pada Allah, maka mereka adalah qurrota a'yun.
Ketika Allah mengingatkan manusia tentang fitnah dunia, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bukan. Manusia butuh dunia untuk beribadah, menafkahi keluarga butuh harta, naik haji butuh harta, untuk membangun bangsa dan negara juga butuh harta.
Supaya kita tidak terjatuh ke ekstrim kanan maupun kiri. Yang kiri terlalu larut dalam dunia, yang kanan malah meninggalkan dunia, maka Al Quran mentarbiyah kita agar menjadi di tengah2.
Bagaimana seorang muslim melihat harta benda?
Berangkat dari pemahaman Islam tentang harta:
1. Melihatnya dari segi positif
Al Adiyat 8: larangan mencintai harta benda secara berlebihan.
Fitrah manusia adalah menyintai harta. Tapi cintanya pada harta tidak boleh melebihi keimanannya.
Harta benda bukan segala2nya. Justru harta benda digunakan untuk menciptakan kebaikan2.
2. Pandangan yang realistis.
Bagaimana realistis yg diajarkan oleh AQ?
Dengan 2 sarana:
1. At Tasriif
Islam mengatur agar hubungan antar manusia mendapatkan hartanya ada aturannya. Tidak ada yg lbh tahu ttg karakter manusia kecuali Alloh.
2. At Taujih (bimbingan)
Al Quran juga memberikan bimbingan kpd manusia utk takut kpd Allah. Harta benda itu tdk digunakan utk maksiat kepada Allah.
AQ memberikan pemahaman walau pun harta adalah baik, tapi ia juga cobaan.
Al Quran memberikan idealisme yang sangat indah, tentang org2 yang memberikan harta ke orang2 di sekitarnya agar juga bisa menikmati harta (maal). AQ bukan hanya memberikan nilai2 normatif tapi juga memberikan contoh2 aplikatif.
Di QS Al Hasr 9 Al Quran memberikan contoh, yaitu ketika muhajirin (orang2 yang berhijrah meninggalkan kampung halamannya di Mekkah pergi ke Madinah) mendapatkan harta benda dari orang2 Anshar (penduduk Madinah). Kaum Anshar berlomba2 memberikan bantuan kepada muhajirin, sampai2 pemberi bantuan lebih banyak daripada orang2 yang membutuhkan.
Mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri.
Al Quran mencetak manusia2 luar biasa.
Langganan:
Postingan (Atom)