Tidak ada kebaikan dalam hidup ini, melainkan pasti Allah memberikan
petunjukNya menuntun kita kepada jalan yang benar, agar kita bahagia
dunia dan akhirat. Di antaranya:
1. Dalam masalah2 yang bersifat
materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan
melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita
selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa
kurang.
Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju
kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang
mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga
perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:
1.
Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila
kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta
bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi
2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari
onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa
mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.
3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.
Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.
Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita
menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi.
Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman
adalah asset terbesar dalam hidup ini.
Nabi memberikan petunjuknya agar
kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih
daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan
jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih
patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan
kepadamu"
2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia
yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena
kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.
Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan.”
Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2
pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap
manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para
Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab
yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.
2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah,
demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap,
dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya,
dan kemudian dipenjarakan.
Nabi juga seperti itu, menyerukan
kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian
diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita
berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah
akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini
adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang
sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.
3. Dalam ayat ini, makna
“jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh
ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya,
apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”,
mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan
kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka
yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan
yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga
4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di
sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari
padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan
yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga,
seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan
masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya
anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah
saat masuk syurga.
Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan).
Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia
ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan
yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak
menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan
sejelas2nya dibalas.
Mendidik umat Islam untuk memandang
kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun
tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang
bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa
kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”
Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan
syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari
bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar