1. Tidak menginginkan syukur (terima kasih) kecuali dari Allah SWT
Ketika kita berbuat keibaikan, maka orientasi kita semata2 karena
Allah. Jangan sekali2 berbuat baik kepada orang, tujuannya agar orang
berterima kasih kepada kita. Kita akan capek dalam hidup ini. Kalau kita
berharap kebaikan semata2 dari Allah SWT kita akan bahagia.
Bukankah di masyarakat, sering kita temui seseorang membantu adeknya,
saudaranya, tetangganya, dengan bantuan yang amat banyak, dan ketika
orang yang diberi bantuan itu menjadi orang hebat dan lupa berterima
kasih kepadanya, lalu bila ia tidak melihat hal ini dengan kacamata
Allah, maka diungkit2 kebaikannya itu, maka rontoklah kebaikan2nya itu.
Oleh sebab itu Allah SWT telah memberi petunjukNya, agar ketika kita
memberi makan kepada seseorang, kita tidak mengharapkan balasan dan kata
terima kasih darinya.
QS Al Insan 9: “Sesungguhnya kami memberi
makan kepada kalian, semata2 karena Allah. Kami tidak menginginkan
balasan dari kalian dan juga bukan terima kasih.”
Kebaikan di
sini jangan hanya dianggap dengan memberi makan saja, tapi apa bisa
berupa apa saja. Makanan di sini adalah gambaran kepedulian kepada orang
yang lapar.
Selama kita bisa memberikan kebaikan kepada yang
membutuhkan, berikanlah, karena itu jalan menuju kebahagiaan. Kalau kita
memberi, jangan berharap balasannya lebih banyak, “walaa tan num
tastaktsir.”
2. Memfokuskan pikiran kita, perhatian kita untuk
bekerja membangun demi hari ini dan hari yang akan datang, dan memutus
rantai masa lalu.
Hidup ini tidak selamanya mulus. Suami memiliki
masa lalu yang tidak menyenangkan, istri juga. Dalam berbangsa dan
bernegara ini juga ada hubungan2 masa lalu yang tidak menyenangkan. Kita
tidak boleh mengungkit2 masa lalu.
Apa jadinya hidup ini kalau
ada manusia yang mengungkit2 masa lalu, lalu meledakkan hidup ini. Ini
bukan berarti kita melupakan masa lalu, tapi kita hidup untuk masa yang
akan datang.
Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hadist:
“Allahumma ini a’udzu bika minal hammi wal hazn, wa a ‘uudzu bika minal
‘ajzi wal kasl, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a ‘uudzu bika
min gholabatid daini wa qoh rirrijaal.”
Dalam doa ini kita berdoa
pada Allah, berlindung dari rasa sedih, dari ketidaktenangan,
ketidakjelasan, dan minta perlindungan kepada Allah dari rasa lemas dan
malas, minta perlindungan kepada Allah dari sifat kikir, dan minta
perlindungan pada Allah dari lilitan orang atau bangsa lain.
Sebelum kita berpikir dan berharap apakah doa itu dikabulkan atau tidak,
dan semoga doa2 kita dikabulkan, kita harus pahami, bahwa doa itu
sangat penting, terlepas apakah akan dipercepat dikabulkannya atau
tidak. Karena:
1. doa itu ibadah
2. ketika kita berdoa maka harus kita barengi dengan kerja.
Ibrahim as, bapaknya para nabi, ketika berdoa agar dirinya dan anak2nya
menjadi muslim, maka dibarengi dengan kerja, yaitu membangun kabah.
Jangan sampai doa kita bertolakbelakang dengan kerja. Kita ingin punya
anak soleh, tapi pendidikannya tidak Islami, dan pergaulannya tidak
bersama2 orang soleh. Jika ingin anak kita sholeh/ah, maka pendidikannya
harus yang Islamy dan teman2nya juga harus yang benar.
Maka
kita harus buktikan, jangan menangisi masa lalu. Kita focus bangkit
membangun masa depan. Siapa yang tidak punya masa lalu yang buruk?
Setiap manusia anak adam pasti pernah berbuat salah. Tapi anak manusia
yang berbuat salah, bisa bangkit menjadi berbuat yang terbaik. Jangan
diungkit2 masa lalunya. Kita focus demi kebangkita masa depan bangsa
ini.
Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim,
Rasulullah bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada
kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat
bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi
orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan,
‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’
tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah
dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata
‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.”
Jadi kita harus bangkit, jangan terjatuh dalam kubangan “seandainya seandainya”.
Ini bukan berarti kita tidak mempunyai penyesalan, atas apa2 yang sudah
kita lakukan sebelumnya.
Bila kita berbuat salah, kita harus menyesal.
Karena salah satu ciri2 tobatnya seseorang adalah menyesali
kesalahannya. Kita menyesali masa lalu, tujuannya adalah memperbaiki
diri sendiri.
QS Al Qiyamah 2: “Walaa uq simu binnafsil lawwaamah” (dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).
Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang mencela dirinya kenapa berbuat keburukan.
Di antara ciri manusia yang akan berubah menuju lebih baik adalah, manusia itu menyesali masa lalunya.
Jiwa yang mencela dirinya karena berbuat salah, itu adalah proses
menuju jiwa yang istiqomah. Karena orang yang tadinya berbuat salah itu,
tidak ujug2 langsung berubah, tapi harus didahului dengan penyesalan2:
“Kenapa saya dulu tidak rajin sholat, kenapa saya dulu tidak rajin
belajar membaca Al Quran, dsb”
Jiwa yang lawwaamah (menyesali diri) adalah proses menuju jiwa yang tenang.
Fokus memikirkan masa depan yang lebih baik, ini adalah ciri manusia
yang bahagia hidupnya. Keluarga yang bahagia adalah yang focus pada masa
depan. Bukan suami yang mengungkit2 masa lalu istrinya. Negara yang
besar adalah Negara yang focus pada masa depan, dan mengambil pelajaran
dari masa lalu, karena mukmin yang benar tidak akan jatuh ke dalam
lubang yang sama sampai dua kali.
Ini harus kita renungi, apabila
dalam berkeluarga, berbisnis, berpendidikan, berpolitik, kita sudah
merasa pernah melakukan kesalahan, maka jangan diulangi.
Jika
kita sudah merasakan pemimpin yang dzholim, jangan jatuh dalam memilih
pemimpin yang dzholim lagi. Jika kamu telah menempati tempat2 yang
dulunya orang2 yang duduk di situ mendzholimi dirinya, lalu orang2 yang
zholim itu telah pergi, maka jangan sampai kamu menggantikan posisinya
mengulangi kedzholiman, jangan ulangi kesalahan masa lalu, untuk itu
focus pada masa depan.
Rasulullah tidak pernah mengungkit2 masa
lalu Kholid bin Walid, padahal dalam perang Uhud, Kholid bin Walid masih
dalam posisi sebagai musuh Nabi, tapi ketika ia sudah masuk Islam tidak
pernah Nabi ungkit2 masa lalu Kholid. Nabi tidak menjatuhkan mental
orang2 yang sudah bertaubat.
Kita semua harus fokus membangun masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar