Betapa tingginya kedudukan hijrah di dalam Al Quranul Karim. Kalau
kita membaca ayat2 Al Quran tentang hijrah, Allah menyebut hijrah
bersamaan dengan menyebut ibadah2 lainnya yang penting. Bersama ibadah
apa sajakah hijrah disebutkan?
A. Ash Shobru (bersabar)
QS An
Nahl 110: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang
berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar;
sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
Allah menyebut orang2 yang berhijrah, di mana mereka
setelah difitnah oleh orang2 kafir Quraisy dan teman2nya di kampung
halamannya tidak menjamin kebebasan, mereka diusir, kemudian mereka
berhijrah dan bersabar.”
Seperti apa pentingnya kesabaran, sehingga kesabaran disamakan dengan berhijrah? Bersabar adalah:
1. Wasiat Allah untuk setiap Rasul.
Tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah kecuali diinstruksikan untuk
sabar. Rasul yang paling mulia, masih diperintahkan untuk bersabar,
sebagaimana ulul azmi diperintahkan untuk bersabar.
QS Al Ahqaf
35: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran
rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (ulul ‘azmi),”
Mana ada
di dunia ini yang lebih sabar dari Rasulullah SAW, tapi Rasulullah itu
pun masih diperintahkan Allah untuk bersabar. Logikanya, Nabi yang
ma’sum saja masih diperintahkan untuk bersabar, apalagi kita.
Semua ibadah yang penting, dibutuhkan kesabaran. Dalam mencari nafkah,
untuk tetap komitmen berjamaah di masjid, dll, semua membutuhkan
kesabaran.
2. Pucuk kepemimpinan
Tidak ada di dunia ini menjadi pemimpin yang diridhoi oleh Allah, kecuali sabar menjadi modalnya.
QS As Sajdah 24: “Dan kami jadikan di antara mereka para pemimpin, selalu memberikan petunjuk dengan perintah kami.”
3. Ma’iyatullah (keikutsertaan Allah)
“Innallaaha ma ‘ash shoobiriin” (Allah bersama orang2 yang bersabar)
B. Al Hijrah adalah Al Jihad
QS Al Baqoroh 218: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang
yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan
rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Urgensi Al Jihad, menurut Ibnu Asyur, seorang pakar tafsir, mengatakan,
di dalam ayat di atas, Allah mengulang2 “alladzii” sampai dua kali,
untuk mengagungkan hijrah dan jihad. Kalau Allah mengagungkan hijrah dan
jihad, apakah kita sebagai hamba Allah sinis terhadap hijrah dan jihad?
Tidak!
Ungkapan “ulaa ikal yarjuu narrahmatallah”, bagaimana
harapan kita untuk mendapatkan rahmat Allah ini, keniscayaan, jalannya
adalah jihad.
Orang2 yang berhirah dan berjihad diberikan sifat
orang yg beruntung/sukses/mendapat kemenangan, sebagaimana Allah
jelaskan di QS At Taubah 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah
serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka,
adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang
yang mendapat kemenangan”
Bukankah hidayah keislaman adalah kemenangan yang paling mahal, kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kita di Indonesia, mendapatkan Islam, adalah hasil proses hijrah yang dilakukan kaum muhajirin yang membawa Islam ke Indonesia.
C. Mengikuti Rasulullah (Ittiba’ur Rasul)
QS At Taubah 117: “Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi,
orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada
masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling,
kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
Mengikuti Rasul adalah ibadah yang sangat tinggi kedudukannya dalam Islam dan Sunnah.
Kenapa mengikuti Rasulullah itu disebut ibadah yang sangat tinggi
kedudukannya? Karena mengikuti Rasulullah itu sebagai bukti bahwa
seseorang, kita semuanya, beriman kepada Rasulullah.
Katakanlah wahai Muhammad, jika kamu benar2 menyintai Allah dan Rasul, maka ikutilah aku.
Ketika ada firman Allah yang dimulai dengan Qul (katakanlah), setelah
itu adalah sesuatu yang sangat besar, sesuatu itu adalah menyintai Allah
Imam Ibnu Katsir mengatakan: ayat ini sebagai bantahan bagi orang yang
mengaku menyintai Allah tapi dia tidak mengikuti Rasulullah SAW.
Kita lihat, apakah benar, mencintai Allah, tapi tidak mengikuti
Rasulullah. Mengatakan cinta Allah dan cinta Rasul, tapi dalam mencari
nafkah, dalam rumah tangga, dalam berpolitik, dalam berseni budaya,
tidak mengikuti Rasulullah, Cinta dibuktikan dengan mengikuti, bukan
pernyataan semata.
Krisis yang dialami umat Islam saat ini adalah
krisis keteladanan. Orang2 yang menjadi teladan saat ini di masyarakat,
adalah mereka yang mengaku cinta Allah cinta Rasul, tapi membenci
ajaran yang dibawa Nabi.
QS An Nisa 61:
“Apabila dikatakan
kepada mereka, "Marilah (patuh) kepada apa yang telah turunkan Allah dan
(patuh) kepada Rasul", niscaya kamu melihat orang-orang munafik
berpaling darimu dengan sesungguhnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar