Setiap manusia akan mendapatkan Kitab (buku catatan yang mencakup
seluruh amal perbuatan, tiada sedikitpun yang terlewatkan), yang
mencakup perbuatan mata, hati, dan seluruh jasad kita.
Cara
menerimanya berbeda antara orang mukmin, kafir, munafik. Tapi kajian
kali ini tentang bagaimana cara orang mukmin menerima Kitab.
QS
Al Insyiqooq 7 – 9: “Ada pun orang yang diberikan Kitabnya dengan tangan
kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab sebentar, yang mudah, dan
ia akan kembali kepada keluarganya dengan bergembira (bersenang2).”
Betapa bahagianya orang beriman ketika menerima Kitabnya. Karena dia
selamat dari terbongkarnya keburukannya. Untuk menggambarkan bagaimana
bahagianya, sampai2 ia berkata kepada orang2 di sekitarnya, “baca Kitab
saya…”
QS Al Haaqqah 19-24: “Adapun orang-orang yang kitabnya
diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah
kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan
menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan
yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (kepada
mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang
telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Itulah
kebahagiaan yang sebenarnya, ketika mukmin mendapatkan seluruh catatan
amalnya, sampai2 ia menyuruh orang2 di sekitarnya membacanya.
Ketika kita mengetahui orang2 beriman di tempat hisab berhasil melalui
audit Allah, apa kemudian yang terjadi? Ada yang disebut dengan Al Mizan
(timbangan).
QS Al Anbiya 47 : “Kami akan memasang timbangan
yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang
sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami
mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan.”
Al Waznu dan Al Miizan disebut dalam Al Quran dalam
23 ayat. Ini menggambarkan betapa kepedulian Al Qur’an terhadap Al
Mizan. Ini bukan hanya di akhirat saja, tapi juga agar kita di dunia pun
adil peristiwa di dunia ini. Meninbang peristiwa, menimbang manusia,
dsb. Jangan gunakan hawa nafsu. Ketidakadilan itu lah yang menyebabkan
kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berbahagia.
Seperti apa Mizan timbangan yang di akhirat?
Ternyata itu bukan hanya kiasan, tapi timbangan yang sebenar2nya.
Hadist dari Salman, Nabi mengatakan “Diletakkan mizan di hari kiamat,
seandainya langit dan bumi diletakkan dalam timbangan itu, pastilah
cukup. Maka malikat berkata, “Wahai Tuhanku, untuk apa timbangan ini?”
Allah menjawab, “Untuk siapa saja saya kehendaki dari makhlukKu”
Sampai ketika malaikat melihat besarnya timbangan, mengatakan, “Maha
Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya kami belum benar2 menyembah Engkau
dengan sebenar2 menyembah.”
Padahal malaikat itu selalu beribadah setiap saat, masih merasa kurang ibadahnya, apalagi kita yang suka malas.
Bagaimana detilnya mizan timbangan Allah. Dan bagaimana keadilan mizan tersebut?
Mizan timbangan Allah begitu besar, luas. Bagaimana ketelitian timbangan Allah.
Siapa pun orangnya tidak akan terzholimi. Ini menggambarkan telitinya
dan adilnya Allah. Bahwa putusan Allah itu adil seadil2nya. Setiap orang ditimbang dan timbangan itu mencakup seluruh amal perbuatannya.
Kalau di dunia ini kita menyaksikan ada timbangan yang lurus (benar),
dan ada juga yang curang, tapi di akhirat tidak. Al Quran menggambarkan
mizan dengan jelas
QS Al A’raf 8 – 9: “Timbangan pada hari itu
ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa
yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang
merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari
ayat-ayat Kami.”
Di dalam AQ itu tidak ada yang mengarang2 saja,
semuanya sesuai dengan logika manusia. Mizan itu secara riil digambarkan
dalam Hadist yang cukup panjang, tapi di sini disajikan sebagian saja:
“Timbangan2 itu dilakukan di hari kiamat. Diletakkan amal2
perbuatannya, maka timbangan itu cenderung kepada keburukan2, maka
setelah ditimbang, seseorang itu dikirim ke neraka, ketika menoleh ke
belakang ada suara yang teriak yang mengatakan “Jangan tergesa2 (sampai 2
kali), jangan ke neraka dulu,” karena dia masih punya amal kebaikan
yang belum ditimbangkan, maka didatangkan kartu yang bertuliskan Laa
ilaa ha illallaah, maka kartu itu ditaruh di timbangan tersebut, maka
kartu itu menambah timbangan kebaikan.”
Ternyata yang beruntung itu hanya orang2 Beriman.
Al A’raf 8: “faman tsaqulat mawaa ziinuhuu faulaaa ika humul muflihuun.”
Di sini Allah menyajikan dzhomir “hum” dan ada “muflihun” ini adalah
penegasan, ketika kita mendengar kata sukses, beruntung, menang. Maka
kemenangan yang sebenarn2nya itu adalah kemenangan yang diraih orang2
beriman ketika di dalam timbangan Allah nanti timbangannya berat.
Apa saja perbuatan2 yang memperberat timbangan di akhirat nanti, insya Allah akan kita bahas di pertemuan2 berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar