Kalau ingin pemimpin itu hebat, memimpin suatu keluarga, organisasi,
Negara dengan hebat, ikuti langkah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika
hijrah dari Mekkah ke Madinah. Apa saja pelajaran hijrah yang bisa
dipetik untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih
baik?
1. Urgensi Masjid dalam Kehidupan ini
Membangun masjid merupakan skala prioritas dalam membangun sebuah masyarakat/Negara.
Begitu Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, apa yang pertama kali dibangun? Yaitu Masjid. Karena:
a. di masjid seperti ini lah eksistensi keimanan kaum muslimin, dibuktikan.
Hadist: “Apabila kamu melihat seseorang membiasakan ke masjid, saksikan bahwa imannya benar.”
Ketika masjid itu benar2 dikunjungi, berbahagialah, semoga iman kita kita diakui oleh Allah, SWT.
b. masjid itu dibangun di atas takwa.
Kalau kita menginginkan diri dan keluarga kita adalah orang2 bertaqwa,
jadilah penduduk masjid. Kalau bangsa ini ingin menjadi bangsa beriman
dan bertaqwa sehingga turun barokah dari langit, jadikanlah masjid
sebagai pusat kegiatan.
QS At Taubah 108:”sungguh masjid dibangun di atas ketaqwaan.”
Jangan sampai masjid2 terkotori oleh acara2 yang tujuannya jauh
daripada taqwa. Seluruh ibadah kita, sholat kita, ibadah kita, harus
menuju pada taqwa.
Apa itu taqwa?
Tahukah kamu bagaimana kalau
ada seseorang berjalan di atas jalan yang sempit, licin, banyak durinya?
Jawabannya: kita super hati2
Taqwa itu akan membangun jalan
menjauhkan diri dari adzab Allah, dengan cara melaksanakan seluruh
perintah2 Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah.
c. Masjid melahirkan pemimpin2 yang hebat.
Bukankah Nabi SAW adalah pemimpin terhebat di dunia, dan beliau adalah
ahli masjid. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Umar bin Abdul Aziz, semuanya
adalah ahli masjid.
Ketika Al Quran mengungkapkan kata rijal,
itu adalah menunjukkan ketokohan seseorang. Sepert iyang disebutkan di
At Taubah 108 tadi.
2. Mempersaudarakan
Tidak ada satu pun orang yang tidak merasa diperhatikan oleh Rasulullah. Apa urgensi persaudaraan?
Ukhuwwah atau persaudaraan itu bukti keimanan seseorang. Sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara.
Iman dan ukhuwwah itu dua hal yang tidak bisa berpisah. Kalau kita
mengaku beriman, maka kita bersuadara. Kalau kita bersaudara, maka iman
itu adalah landasannya. Perkumpulan, kalau ikatannya bukan iman, maka
perkumpulan itu akan pecah. Karena ikatannya adalah kepentingan,
sedangkan kepentingan manusia itu beerbeda2.
Persaudaraan,
perkawainan, oraganisasi, Negara, itu bisa berpecah karena tidak
didasari oleh iman, maka ikatan2 yang didasari oleh keperintingan2
seperti itu tidak akan panjang
Di antara pilar yang memperkuat
sebuah bangsa, adalah iman. Di dalam negri Madinah itu ada Yahudi,
adaNasrani, ada musyrikin, di luar Negri Madinah ada Romawi dan musuh2
lainnya. Bagaimana Negara yang dipimpin nabi itu bisa kokoh, karena
Negara yang dipimpin nabi dilandaskan atas dasar iman.
Yang
pertama2 dibangun nabi ketika membangun Madinah adalah mempersaudarakan
orang2 beriman. Salman yang dari Persia, Mushab yang dari Mekkah,
semuanya dipersaudarakan.
Persaudaraan itu bukan sebatas
diceramahkan, tapi bagaimana ia benar2 terwujud, karena setiap ajaran
Allah pasti bisa terwujud, tinggal kita mau atau tidak.
Persaudaraan itu harus didirikan dengan dasar:
a. wahdatul ghooyah (kesatuan orientasi).
wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’ budu (tujuannya adalah beribadah pada Allah).
b. wahdatul mahdah (kesatuan prinsip)
Sahabat2 Rasulullah dating dari kelas yang berbeda-beda berbeda2 pula
warna kulitnya, tapi bersatu dalam satu prinsip, yaitu laa ilaa ha
illallaah.
Barang siapa yang bersikap dengan prinsip laa ilaa ha
illallah, pasti akan masuk syurga. Tapi kalimat thoyyibah ini bukan
sekedar diucapkan, tapi juga dipahami dan dijalankan.
c. wahdatul manhaj (kesatuan jalan yang jelas/kurikulum/ajaran)
Apa pun manhajnya,(jalannya/ajarannya), maka datangnya dari Allah dan
Rasululullah. Mungkin saya berbeda dengan yang lainnya, pemimpin yang
satu berbeda dengan pemimpin yang lainnya, itu tidak apa2. Karena ketika
berbeda, acuannya adalah sama, yaitu Allah dan Rasulullah.
QS An
Nisa 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya”
Kalau dikembalikan kepada manusia, manusia punya hawa
nafsu, manusia bisa disogok. Tapi ketika dikembalikan kepada Allah dan
Rasulullah, maka semuanya akan bersatu.
Ketika kita diperintahkan
taat pada Allah dan Rasulullah, ada kata “athii u” (taatliah), ini
menunjukkan ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul. Tapi ketika
perintah taat kepada pemimpin (ulil amri), tidak ada kata “athii u.”
Kita wajib taat pada pemimpin kita selama perintahnya itu tidak berupa
maksiat (dalam hal apa pun, baik itu politik, ekonomi, budaya
pendidikan), tapi bila bertentangan dengan syariat (aturan) Allah, maka
tidak wajib taat.
Kita harus tahu kapan kita taat pada pemimpin, kapan kita mengkritisi, menasehati, dsb
d. adanya kesatuan ikatan
Apa ukurannya bahwa kita ini sudah berukuhuwwah?
Tingkat ukhuwwah yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan saudaranya).
Tingkat ukhuwwah paling rendah adalah salaamatus sodri (hatinya lapang,
tidak ada kedengkian) terhadap saudaranya. Itulah ukuran paling minim
dalam persaudaraan. Sehingga tidak ada lagi sesama muslim itu saling
mencurigai, menuduh, dsbnya.
Semoga kita menjadi umat yang saling bersaudara sehingga turun rahmat Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar