Orang-orang yang syahid itu memang istimewa, sehingga kita akan memaparkan di bawah ini keistimewaan2nya.
QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang
gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya
dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia
Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati
terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul
mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia
yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah
Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan
Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang
bertakwa ada pahala yang besar.”
Kalau kita tadabburi ayat ini
secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan
kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:
1. Orang2 yang syahid itu
kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka
meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki
oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu
tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki
yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini
adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga,
seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.
2. Mereka
itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari
anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki
dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah
yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia
pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius
mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari
Allah, justru kita ambisius mencarinya.
3. Mereka memberikan
berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi
setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya
kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu
di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah
syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya
Allah yang Maha Tahu.
4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita
gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang
syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita
gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita
syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang
syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.
Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di
jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi,
bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan
berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti
apakah kehidupan mereka di akhirat itu?
QS An Nisa 95-96:
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang)
yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan
Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu
derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik
(surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang
duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya,
ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.
1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat
orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah)
tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah
dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.
2.
Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali
dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia
ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih
utama dibandingkan orang2 yang lainnya.
3. Karena mereka itulah
yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga
kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka
memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa.
Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba
pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah,
tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi,
atau akan datang bertambah?
Ternyata mereka turun berjuang, sehingga
bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka
berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah,
maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan
dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas
suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain
untuk beribadah.
QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang)
bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah
dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka
itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka
tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami
hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian
manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara
Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan
mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Seandainya kalau
bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya
itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan
dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang
adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat
ibadahnya.
Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad
harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat
itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara,
semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.
Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka
wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada
ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al
jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah),
tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun
Negara ini.
Resume Tafsir Al Hayah, Dr Ahzami Samiun Jazuli di TV One (written by Femina Sagita Borualogo)
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
16 November 2014
06 November 2014
Jalan Kehidupan yang Baik (5)
Tidak ada kebaikan dalam hidup ini, melainkan pasti Allah memberikan
petunjukNya menuntun kita kepada jalan yang benar, agar kita bahagia
dunia dan akhirat. Di antaranya:
1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.
Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:
1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi
2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.
3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.
Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.
Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.
Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu"
2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.
Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.
2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.
Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.
3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga
4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.
Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.
Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”
Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.
1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.
Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:
1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi
2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.
3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.
Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.
Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.
Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu"
2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.
Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.
2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.
Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.
3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga
4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.
Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.
Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”
Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.
Langganan:
Postingan (Atom)