Ini adalah tema terakhir dari sifat orang2 beriman. Di antara sifat2
orang beriman, yaitu menginginkan lebih banyak lagi orang2 yang sholeh,
dan menginginkan dirinya menjadi teladan yang baik.
Untuk
mengetahui sejauh mana kesungguhan kita menjadi orang2 beriman, bisa
dilihat sejauh mana kepedulian kita untuk ikhtiar memperbanyak orang2
yang shalih. Sebelum kita buktikan di masyarakat luas, mari kita
buktikan di rumah kita.
Al Furqon 74: Walla dziina yaquuluuna (dan mereka yang berdoa)
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yuniw waj
‘alnaa lil muttaqiina imaamaa (“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada
kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami pemimpin bagi orang0orang yang bertakwa”).
Ini bukan sekedar doa. Doa itu esensinya adalah ibadah. Ad Du ‘aau huwal ibadah.
Doa ini menjadi kurikulum kehidupannya. Setiap hari yang kita pikirkan
adalah bagaimana di dunia ini setiap harinya semakin banyak orang2 yang
sholeh, orang2 yang semakin jelas kehidupannya menuju ridho Allah.
Apa makna qurrota a’yun? Di dalam tafsir al ma’tsuur dijelaskan bahwa
qurrota a’yun adalah anak istri kita menjadi orang2 yang menjadi
ketentraman hati kita, karena mereka taat paada Allah.
Dia juga
menginginkan dirinya menjadi teladan yang baik bagi orang lain. “Dan
jadikanlah kami imam bagi orang2 bertaqwa.” Logikanya, kalau yang
dipimpin saja orang2 yg bertaqwa, tentunya menginginkan yang memimpin
lebih bertaqwa daripada yang dipimpin.
Setiap kepala keluarga
lebih bertaqwa daripada anggota keluarganya. Setiap pemimpin organisasi
lebih bertaqwa daripada anggota organisasinya. Setiap pemimpin Negara
lebih bertaqwa daripada rakyatnya. Dst…
Meneladani orang2
terbaik, sehingga yang ditampilkan dalam hidup ini adalah kebaikan2.
Yang tampil dalam hidup ini adalah orang2 yang terbaik.
Sehingga
kita memiliki mizan (timbangan) yang jelas ketika kita memilih pemimpin,
atau juga ketika kita menjadi pemimpin, kita punya panduan yang jelas.
Apa itu sifat2 pemimpin yang beriman?
Al Anbiya (21) 73:
1. Mereka memberikan petunjuk dengan perintah kami.
Seorang pemimpin adalah orang yang selalu memberi petunjuk dengan cara
yang benar. Pemimpin itu kerjanya selalu mengajak umat manusia selalu
mengikuti Allah, bukan untuk mengikuti dirinya atau golongannya.
2. Untuk selalu memproduksi kebaikan2.
Mencakup seluruh bentuk2 kebaikan. Memperbaiki aqidah sehingga tidak
akan mendiamkan yang syirik di masyarakat. Tidak akan diam, bila ekonomi
negara melemahkan masyarakat. Tidak akan diam melihat politik yang
kotor. Dst..
3. Mendirikan sholat.
Ia juga pemimpin dalam
sholat jamaahnya. Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali adalah
pemimpin dalam sholatnya. Jadi tidak boleh pemimpin itu yang jarang
pergi ke masjid.
Begitulah pemimpin yang diridhoi Allah. Ia selalu mendirikan sholat di rumah Allah.
Di dalam QS An Nuur 36-37 Ada munasabah (korelasi) antara rumah2 Allah dengan pemimpin.
Di rumah2 Allah (masjid), bertasbih kepada Allah pada pagi dan sore,
yaitu para pemimpin (rijaalun). Digunakan kata rijaal, biasanya kata
rijaal menggambarkan ketokohan, kontribusi kebaikannya.
4. Membayar zakat.
Pemimpin terdepan dalam membayar zakat sehingga meringankan rakyatnya.
5. Mereka hanya hamba2 Kami.
Para pemimpin mana pun, harus benar2 menjadi hamba Allah, tidak boleh
menjadi hamba hawa nafsunya, hamba manusia yang lain, hamba dari bangsa
lain, dll. Dia harus memimpin dalam rangka tunduk pada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar