21 Oktober 2014

Manfaat-Manfaat Ibadah Haji

Ternyata ibadah haji itu manfaatnya sangat banyak. Di Al Quran disebutkan dalam bentuk jamak dan isim nakhiroh.

Al Hajj 28: Agar supaya mereka menyaksikan manfaat2 utk mereka.
Yang mendapatkan manfaat bukan hanya yang melaksanakan ibadah haji saja, tapi juga

1. Manfaat Keimanan/Aqidah.
Begitu ia mulai berihrom, maka yang dibaca adalah “labbaik alloohumma labbaik…” itu diulang2. Di sini orang berhaji merespon panggilan Allah dan menafikkan seluruh syirk dan ia hanya bertauhid pada Allah Azz wa Jal. Pengaruhnya bukan hanya saat ia berada di tanah Haram, tapi ketika ia pulang dari ibadah haji, ia akan mendapatkan keberkahan2, dan begitu juga masyarakatnya. Karena Allah telah menjanjikan hal ini di QS Al A'raf 96.

QS Al A’raf 96: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi
Ibadah haji memberikan manfaat kepada umat manusia agar kita semua benar2 beriman kepada Allah dan menyingkirkan seluruh syirk, apakah itu dengan setan, pohon, dsb.

2. Selalu menjadikan akhirat itu obsesi terbesarnya.
Begitu seseorang memakai baju ihrom, persis seperti memakai kain kafan orang yang mati. Apakah itu ia pejabat, rakyat, siapa pun itu. Sama. Kita memakai kain putih, merespon panggilan Allah, menanggalkan kekuasaan jabatan, dsb.
Kita hidup di zaman yang fitnah dunia sudah menggila. Manusia melihat manusia lainnya dengan status keduniaannya, pekerjaannya, jabatannya, dsbnya. Padahal kita tahu dunia ini sementara. Dunia ini harusnya menjadi bekal akhirat kita.

3. Manfaat yang berkaitan dengan wawasan, khususnya wawasan keIslaman. Saudara2 kita yang telah naik haji, pada dasarnya telah memasuki perguruan tinggi yang luar biasa. Mempunyai lompatan yang begitu jauh pemahaman tentang Islam.
Tidak ada doa di dalam AQ yang minta terus ditambah, kecuali ilmu. Robbii dzidni ilman (Ya Alloh tambahkanlah ilmuku)...

Bagaimana saudara2 kita menuntut ilmu di Masjidil Harom, Masjid Nabawi.
Kita lihat mereka bertoleransi (at tasaamuh). Kita di Indonesia yang biasa mendengar bacaan imam mengucapkan “bismillah” dalam Al Fatihah dengan jelas, tapi di Masjidil harom mungkin terdengar samar. Maka ketika kembali ke tanah air, kita tidak lagi mempermasalahkan perbedaan itu, karena semuanya (membaca bismillah jelas, tidak jelas atau bahkan tidak terdengar sama sekali) semuanya benar. Yang tidak benar adalah yang tidak sholat.

Seharusnya kita yang pulang dari ibadah haji, punya wawasan yang lebih luas, benar dan berdasarkan AQ dan Sunnah. Para ulama mempunyai berebda pendapat, bahkan di zaman Nabi pun sudah ada perbedaan, tapi Nabi membiarkannya.

Ini terjadi pada sahabat ketika menuju Bani Quroidzhoh, Rasulullah bersabda ttg sholat ashar di perjalanan itu. “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian melakukan shalat ‘Ashar kecuali (bila sudah tiba) di perkampungan Bani Quraidzhoh”. Namun ketika masuk sholat ashar sebelum tiba di Bani Quroidzhoh, ada sahabat yang sholat ashar di awal waktu, ada yang menundanya hingga tiba di Bani Quroidzhoh. Rasulullah tidak memuji maupun mencela yang mana pun, karena kedua-duanya memiliki dasar yang benar.

Ini hendaknya menjadi modal bagi kaum muslimin, sehingga kita senang mencari persamaan. Jangan mencari2 perbedaan. Yang tidak boleh ada, adalah perbedaan yang kontradiksi. Tapi bila ada dalilnya, maka kita harus toleran.

4. Manfaat dari segi ekonomi.
Mari kita bayangkan, ekonomi yang diproduksi dari penyelanggaraan ibadah haji, yang berkaitan dengan pakaian, pesawat terbang, perhotelan, makanan, minuman, dll. Tapi ini harus dikelola dengan baik, jangan sampai ini ibadah Islam, tapi yang menikmati ekonominya bukan orang Islam.
Allah memperbolehkan ummat Islam memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Harus ada kesadaran dalam membangkitkan manfaat ekonomi ibadah haji ini di kalangan ummat Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar