Ternyata ibadah haji itu manfaatnya sangat banyak. Di Al Quran disebutkan dalam bentuk jamak dan isim nakhiroh.
Al Hajj 28: Agar supaya mereka menyaksikan manfaat2 utk mereka.
Yang mendapatkan manfaat bukan hanya yang melaksanakan ibadah haji saja, tapi juga
1. Manfaat Keimanan/Aqidah.
Begitu ia mulai berihrom, maka yang dibaca
adalah “labbaik alloohumma labbaik…” itu diulang2. Di sini orang berhaji
merespon panggilan Allah dan menafikkan seluruh syirk dan ia hanya
bertauhid pada Allah Azz wa Jal. Pengaruhnya bukan hanya saat ia berada
di tanah Haram, tapi ketika ia pulang dari ibadah haji, ia akan
mendapatkan keberkahan2, dan begitu juga masyarakatnya. Karena Allah
telah menjanjikan hal ini di QS Al A'raf 96.
QS Al A’raf 96:
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi
Ibadah haji memberikan manfaat kepada umat manusia agar kita semua
benar2 beriman kepada Allah dan menyingkirkan seluruh syirk, apakah itu
dengan setan, pohon, dsb.
2. Selalu menjadikan akhirat itu obsesi
terbesarnya.
Begitu seseorang memakai baju ihrom, persis seperti
memakai kain kafan orang yang mati. Apakah itu ia pejabat, rakyat, siapa
pun itu. Sama. Kita memakai kain putih, merespon panggilan Allah,
menanggalkan kekuasaan jabatan, dsb.
Kita hidup di zaman yang
fitnah dunia sudah menggila. Manusia melihat manusia lainnya dengan
status keduniaannya, pekerjaannya, jabatannya, dsbnya. Padahal kita tahu
dunia ini sementara. Dunia ini harusnya menjadi bekal akhirat kita.
3. Manfaat yang berkaitan dengan wawasan, khususnya wawasan keIslaman.
Saudara2 kita yang telah naik haji, pada dasarnya telah memasuki
perguruan tinggi yang luar biasa. Mempunyai lompatan yang begitu jauh
pemahaman tentang Islam.
Tidak ada doa di dalam AQ yang minta terus ditambah, kecuali ilmu. Robbii dzidni ilman (Ya Alloh tambahkanlah ilmuku)...
Bagaimana saudara2 kita menuntut ilmu di Masjidil Harom, Masjid Nabawi.
Kita lihat mereka bertoleransi (at tasaamuh). Kita di Indonesia yang
biasa mendengar bacaan imam mengucapkan “bismillah” dalam Al Fatihah
dengan jelas, tapi di Masjidil harom mungkin terdengar samar. Maka
ketika kembali ke tanah air, kita tidak lagi mempermasalahkan perbedaan
itu, karena semuanya (membaca bismillah jelas, tidak jelas atau bahkan
tidak terdengar sama sekali) semuanya benar. Yang tidak benar adalah
yang tidak sholat.
Seharusnya kita yang pulang dari ibadah haji,
punya wawasan yang lebih luas, benar dan berdasarkan AQ dan Sunnah. Para
ulama mempunyai berebda pendapat, bahkan di zaman Nabi pun sudah ada
perbedaan, tapi Nabi membiarkannya.
Ini terjadi pada sahabat
ketika menuju Bani Quroidzhoh, Rasulullah bersabda ttg sholat ashar di
perjalanan itu. “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian
melakukan shalat ‘Ashar kecuali (bila sudah tiba) di perkampungan Bani
Quraidzhoh”. Namun ketika masuk sholat ashar sebelum tiba di Bani
Quroidzhoh, ada sahabat yang sholat ashar di awal waktu, ada yang
menundanya hingga tiba di Bani Quroidzhoh. Rasulullah tidak memuji
maupun mencela yang mana pun, karena kedua-duanya memiliki dasar yang
benar.
Ini hendaknya menjadi modal bagi kaum muslimin, sehingga
kita senang mencari persamaan. Jangan mencari2 perbedaan. Yang tidak
boleh ada, adalah perbedaan yang kontradiksi. Tapi bila ada dalilnya,
maka kita harus toleran.
4. Manfaat dari segi ekonomi.
Mari kita
bayangkan, ekonomi yang diproduksi dari penyelanggaraan ibadah haji,
yang berkaitan dengan pakaian, pesawat terbang, perhotelan, makanan,
minuman, dll. Tapi ini harus dikelola dengan baik, jangan sampai ini
ibadah Islam, tapi yang menikmati ekonominya bukan orang Islam.
Allah memperbolehkan ummat Islam memanfaatkan kesempatan ini untuk
mendapatkan manfaat ekonomi. Harus ada kesadaran dalam membangkitkan
manfaat ekonomi ibadah haji ini di kalangan ummat Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar