Seorang muslim itu cerdas, ia tahu bahwa ia tidak hidup sendirian,
tapi hidup bersama manusia2 lainnya. Ia juga paham bahwa setiap manusia
itu berbeda-beda pemahamannya terhadap Islam.
Orang2 beriman ini
juga berinteraksi dengan orang2 munafik, orang yang mengaku Islam tetapi
dalam dirinya menyimpan kebencian terhadap Islam.
Di antara karakteristik ajaran Islam, ajaran Al Quran, adalah bertahap. Termasuk menyikapi orang2 munafik. Bagaimana caranya?
1. Sesuai dengan dzhohirnya.
Mengaku sebagai orang Islam, maka sikap ini yang pertama harus
diprioritaskan. Kita hanyalah menyikapi manusia sesuai dengan
dzhohirnya, kita tidak berhak memvonis seseorang dengan bathiniyahnya,
karena yang tahu isi hati manusia hanya Allah SWT. Kita tidak boleh
mengatakan, “orang itu mengaku2 Islam, tapi hatinya tidak.”
Tidak boleh mengatakan seperti itu, karena hanya Allah yang tahu isi manusia.
2. Memaafkan.
Ketika orang2 munafik, yang mengaku beragama Islam ini mendapatkan
panggilan jihad, maka mereka tidak ikut berjuang dengan alasan2 yang
didatangkan untuk meyakinkan dengan agar tidak berjuang.
QS At
Taubah 42-43: “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada
keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh,
niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat
jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau
kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri
sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang
berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin
kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu
orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui
orang-orang yang berdusta.”
Di antara sifat orang munafik,
tidak sanggup menerima tugas2 yang berat. Kalau perjalanan itu dekat dan
mendapatkan kesenangan, mereka mau ikut. Tapi di saat ada perintah
berangkat jihad di perak Tabuk, mereka minta izin,
Allah yang
yang menciptkana Nabi, tapi Alloh memberikan contoh ketika menegur
seseorang. Di QS At Taubah 43 itu Allah menegur Nabi, dengan cara yang
lembut.
“Allah memaafkanmu (Muhammad), kenapa engkau memaafkan mereka.”
3. Mengumumkan perang (baru sebatas diumumkan)
Al Quran mentarbiyah umat Islam agar umat ini cerdas, termasuk dalam
menyikapi orang2 munafik sesuai dengan dzhohirnya, yaitu beragama Islam,
lalu Nabi dengan santun memaafkan orang2 munafik yang bersikap abstain
dalam menerima tugas2 dakwah.
Kaum Muslimini tidak dibiarkan
tertipu dengan kebiasaan orang munafik yang memang suka menipu. Jika
mereka tidak berhenti berbuat kerusakan, yaitu sesuatu yang membahayakan
internal ummat Islam, maka akan diumumkan perang, dan Al Quran
memberikan semangat kepada Rasulullah untuk melakukan hal ini.
QS
Al Ahzab 60-62 adalah sebuah pengumuman dari Allah: sungguh jika orang2
munafik dan orang2 yang di dalam hatinya ada keraguan, keingkaran,
tidak juga berhenti, maka umumkan agar memerangi mereka, dan tidak boleh
bertetangga dengan Rasulullah. Ini lah sikap ketiga, agar seluruh umat
Islam di dunia ini tegas kepada orang2 munafik.
Tiga sifat,
yaitu sifat nifaq, hatinya ragu terhadap Islam, dan berbuat keonaran,
sebenarnya untuk mensifati satu orang, yaitu munafik.
Orang2
seperti itu harus diberikan sanksi: mereka tidak boleh dijadikan
tetangga kamu, kecuali sedikit (yang diperkirakan masih bisa berubah),
dan mereka dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah). Bisa jadi orang
munafik itu kaya, berkuasa, popular, tapi dia dilaknat oleh Allah
sehingga ketenarannya, kekuasaannya, kekayaannya tidak memberikan
keberkahan pada dirinya.
Pura2 beragama Islam tapi memusuhi
Islam, maka orang2 seperti ini tidak boleh berdekatan dengan pemimpin
Islam, karena sifat itu dilaknat oleh Allah.
4. Bila setelah diiberi peringatan. tidak juga berubah, maka akan diperangi.
Instruksi untuk tegas terhadap orang2 kafir dan munafik dijelaskan di
QS At Taubah 73 dan At Tahrim 9: Hai Nabi, perangilah orang2 kafir dan
orang2 munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
Apa
korelasi antara orang kafir dengan munafik? Sehingga dalam dua ayat di
atas orang kafir dan orang munafik disambungkan dengan huruf “waw”
(dan), karena keduanya menunjukkan adanya kesamaan.
Orang kafir
dan orang munafik sama2 memerangi kaum muslimin. Orang munafik memerangi
dari dalam, dan orang2 kafir dari luar. Musuh dari dalam, lebih
berbahaya, karena mereka mengatakan: “kami saudaramu.” Padahal mereka
musuh yang sebenarnya. Orang kafir jelas kekafirannya, sedangkan orang
munafik mengaku beragama Islam, tetapi memerangi dari dalam.
Allah memerintahkan Nabi dan kaum muslimin memerangi kaum munafik. Apa bentuk memeranginya?
Ath Thobari mengatakan, memerangi orang munafik dengan cara berargumentasi saja.
Tapi tidak semua ulama seperti Ath Thobari, yaitu cukup dengan
berargumentasi saja, ada juga ulama yang mengatakan: ketika orang2
munafik sudah berada di barisan kaum muslimin, tidak cukup dengan
berargumentasi. Memerangi kaum kafir dengan senjata, maka memerangi kaum
munafik juga dengan senjata.
Pada saat perang kemerdekaan
Indonesia, kita juga menemukan orang-orang munafik. Bukankah ketika kita
dijajah Belanda, ada orang2 Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar