Di antara anugerah terbesar Allah adalah kesempatan untuk hidup,
tapi kita juga diberikan resep untuk beramal salih, berarti dia bahagia
dalam hidupnya. Orang yang beriman dan beramal sholeh itu bahagia dalam
hidupnya.
An Nahl 97: Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Berbuat kebaikan, baik laki2 maupun perempuan, semua terbuka untuk
beramal sholeh. Syaratnya: ia orang beriman, maka pasti akan Allah
berikan kebahagiaan di dunia dan akan mendapatkan balasan yang lebih
baik daripada apa yang telah mereka perbuat.
Kalau kita mengaku
beriman, tapi tidak bahagia, berarti ada yang eror dalam keimanan kita.
“Man” (siapa) di ayat di atas, bisa berarti untuk apa saja, baik itu
suatu laki-laki, perempuan, atau sekelompok manusia, atau suatu bangsa,
maupun pribadi, bila beramal sholeh, pasti diberikan kebaikan oleh
Allah.
Ulama berbeda2 dalam menafsirkan, apa yang dimaksud dg thoyyibah (kehidupan yang baik).
1. Menurut Ibnu Qoyyim, adalah rezeki yang halal dan thoyyib (baik).
Selama kita diberikan rezeki yang halal dan thoyyib, terlepas itu banyak
atau sedikit, itu adalah kebaikan dari Allah. Ukuran kebaikan itu hanya
bila mendapatkan yang halal dan thoyyib.
Maka dari itu kita berdoa pada Allah agar diberikan rasa kecukupan atas hal2 yang halal saja.
2. Menurut Ali ibnu Abi Abbas, adalah al qonaa ‘ah (menerima/merasa
cukup). Merasa cukup, ketika diberikan rezeki gaji yang halal, itu
adalah kebaikan dalam hidup ini. Maka al qonaa ‘ah itu adalah kehidupan
yang baik.
3. Menurut Ali ibnu Abi Tholib, adalah beriman. Kita
bisa mengimpor teknologi dari luar negri, tapi kita tidak bisa mengimpor
kebahagiaan.
Syarat kebahagiaan bukan sekedar berbuat kebaikan
pada orang lain, tapi dia harus beriman. Para sahabat bukanlah orang2
kaya, tapi ketika mereka beramal sholeh, maka mereka orang yang benar2
bahagia.
4. Seseorang itu tidak mungkin hidup baik jika tidak
hidup di syurga, maka ulama ini menafsirkan bahwa kehidupan yang baik
hanya ada di syurga.
5. Seseorang yang beriman pada Allah dan beramal (memproduksi kebaikan2 dalam rangka taat pada Allah).
Setelah kita memahami pendapat2 ulama di atas, yang secara selintas
kelihatannya berbeda, tapi sebenarnya tidak berbeda. Perbedaan yang
bersifat fariatif, dan bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif.
Beriman adalah baik, bahagia adalah baik, qonaah adalah baik, rezeki
yang halal adalah baik. Ketika kita menghadapi perbedaan, kita harus
toleransi. Karena tidak semua perbedaan itu salah. Yang tidak boleh
adalah perbedaan bersifat kontradiktif.
Harta benda yang sering
dipahami oleh sebagian orang sebagai kebaikan, ternyata bukan satu2nya
kebaikan. Ia hanya satu unsur dari sekian banyak kebaikan. Sehingga
jangan sampai mengukur kebahagiaan seseorang dari hartanya. Orang kaya
maupun orang miskin, sama2 bisa bahagia.
Kita mendapatkan hidup
yang penuh ketenangan, anak2 yang sholeh, istri yang sholehah, suami
yang bertanggung jawab, lingkungan yang damai, itu adalah kebaikan2.
Janji Allah ini jangan sampai kita persempit dengan pemahaman yang tidak
universal. “Saya kan sudah beramal, sudah sholat malam, tapi kenapa
tidak juga kaya? Sedangkan orang yang tidak sholat bisa kaya?” Tidak!
Jangan mengukur kebaikan sebatas dengan harta.
Kehidupan yang
baik bagi orang yang beramal sholeh, pada dasarnya adalah kehidupan yang
produktif dan indah. Hidupnya itu produktif. Untuk menunjukkan iman
kita benar, maka kita harus produktif. Dunia melihat keindahan Islam
dari perilaku kita.
Kehidupan yang baik tidak hanya dinikmati
oleh seseorang. Ketika bapak yang sholeh, ibu yang sholehah memproduksi
amal yang sholeh, itu bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga
dinikmati oleh orang lain. Kenapa demikian? Karena kehidupan yang baik
itu adalah yang produktif. Manusia mana pun di dunia ini, menyukai
produktifitas.
QS Al Arof 58: “Dan tanah yang baik,
tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan seizin Allah,dan tanah
yang tidak subur tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah
Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang
bersukur.”
Ibnu Abbas ra, pakar ilmu tafsir dari kalangan sahabat
yang ditarbiyah langsung oleh Rasulullah, menarfsirkan ayat Al Arof 58:
ini adalah perumpaan yang dibuat oleh Allah untuk orang beriman. Orang
beriman itu thoyyib, dan amalnya itu thoyyib, seperti negri yang baik,
yang buah2nya thoyyib, dinikmati oleh orang lain.
Keberadaan
kita di rumah tangga kita dirasakan oleh istri dan anak2, keberadaan
kita di keluarga besar juga dirasakan kebaikan kita. Di tengah2
masyarakat, kebaikan kita haruslah dirasakan oleh masyarakat. Dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara juga, kebaikan kita dapat dirasakan
oleh bangsa dan Negara ini.
Itulah, kehidupan yang baik adalah
kehidupan yang produktif. Dinikmati bukan hanya oleh pelakunya saja,
tapi juga oleh orang lain.
Allah di dalam ayat ini memberikan
perumpaan orang beriman: dirinya thoyyib, amalnya juga thoyyib, seperti
air hujan yang turun ke bumi.
Ada tanah yang bisa memanfaatkan air
hujan sehingga bisa juga dimanfaatkan oleh yang lainnya, yaitu oleh
manusia, tumbuhan, binatang.
Ada tanah yang bisa menyimpan air.
Ada tanah yang kering
Begitu juga manusia, dalam menyikapi petunjuk Allah:
Ada orang yang beriman yang manfaat untuk dirinya dan orang lain
Ada juga orang yang paham Islam tapi tidak memanfaatkan ilmunya untuk dirinya, apalagi untuk orang lain.
Ada juga orang yang menolak Islam sehingga tidak berguna bagi dirinya dan tidak juga bagi orang lain.
Semoga kita dimudahkan Allah untuk beramal sholeh dengan keimanan dan
mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang baik. Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar