Sifat2 orang beriman ada banyak dijelaskan dalam Al Quran. Hal ini
sebagai tanda bahwa orang2 beriman harus memiliki nafas panjang.
Riayatul Amanah (Memelihara Amanah)
Al Muminun 8: Dan sungguh beruntung orang2 yang menjaga amanah2 dan janjinya.
Amanah adalah persimpangan jalan yang memisahkan orang beriman dengan
orang munafik. Kalau dari tampilan zhahir/fisik, kita sulit membedakan
antara orang beriman dengan orang munafik. Orang beriman memegang amanah
sedangkan orang munafik, khianat.
Tanda orang munafik ada tiga.
Ketika ia berbicara, bohong. Ketika berjanji, dia ingkar. Ketika
diberikan amanah, khianat. (Al Hadist)
Sedangkan orang beriman, ia memenuhi janjinya, menjaga amanahnya dalam keadaan apa pun.
Bukankah Rasulullah diusir oleh penduduknya. Tapi beliau tidak lupa
amanah. Ketika dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, ia masih ingat
titipan orang kafir Quraisy di rumahnya.
Jika saat ini orang2
mengatakan, “Wajarlah kita korupsi, kan gajinya juga kecil.”
Naudzubillahi min dzalik. Korupsi yang kecil akan memicu korupsi yang
lebih besar lagi.
Al Amanah Fithrah
Amanah itu sesuatu
yang fitri. Artinya, setiap manusia, diciptakan oleh Allah dengan modal
amanah. Manusia mana pun di dunia ini tidak ingin ditipu dikhianati oleh
orang lain. Itu tanda bahwa amanah itu fitrah,
Itulah kenapa kita berdoa di Al matsurat: ashbahna alal fithratul Islam.
Kita juga menjaga bagaimana anak2 kita terjaga fitrah mereka. Supaya mereka tetap menyukai kejujuran, kebenaran, dan amanah.
Al Amanah Mu’tasabah (Amanah Bisa Diusahakan)
Amanah juga bisa diusahakan. Mungkin dulunya seseorang itu tidak ikut
pengajian2. Maka dia harus mempelajari apa itu Islam. Dia harus berada
di lingkungan orang2 yang amanah. Lingkungan yang kondusif bisa
membangun amanah dalam diri kita. Ini tanda amanah bisa diusahakan
(mutasabah)..
Apa saja macam2 amanah:
Kita harus memiliki pemahaman persepsi yang menyeluruh tentang amanah.
1. Amanah yang bernama fitrah. Harus kita jaga. Fitrah manusia senang
kebaikan, jujur, mudah untuk menerima Islam. Jadi kalau ada orang tidak
jujur, tidak suka Islam, itu tandanya fitrahnya rusak. Tidak bisa
kembali fitrah kecuali kembali pada Islam.
Di dalam Ar Ruum (30): 30, tiga hal ini: fitrah, manusia dan Islam, masing2 disebut dua kali.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Qs Ar Ruum (30):30)
Allah tidak mengganti sebutan manusia dengan kata ganti seperti “mereka”, tapi tetap kata menggunakan kata “an naas” (manusia).
Manusia tetap menjadi manusia jika tetap dalam Islam, tetap dalam fithrahnya.
Ketika ada orang membunuh, atau zina, atau korupsi, maka ia tidak bisa
kembali kepada fithrahnya, kecuali jika ia kembali pada Islam.
2. Menyandarkan hukum pada ahlinya.
Apa pun di dalam dunia ini harus diserahkan pad ahlinya.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil.” (QS An Nisa 58)
Tidak boleh berbuat zholim karena berbeda golongan, partai, karena itu akan menyebabkan kehancuran.
Abi Dzar berkata pada Rasulullah: Ya Rasulullah, tidakkah engkau berkenan mengangkatku menjadi pejabat?
“Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau itu orang yang lemah, dan
sesungguhnyanjabatan itu adalah amanat, dan jabatan itu akan membuat
kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali orang yang dapat memegang
jabatan sebagaimana mestinya dan dapat melaksanakan jabatan (amanat)
yang semestinya”. HR. Muslim.
Marilah kita berusaha memahami
hadist ini secara benar. Jangan dipahami bahwa umat Islam itu tidak
boleh jadi penguasa. Kita ingat ketika nabi Yusuf meminta jabatan,
sebagai penanggung jawab ekonomi. Ketika seseorang mengambil jabatan dan
mengambil hak orang lain, itu tidak diperbolehkan. Ketika seorang
mukmin di daerah tertentu, ketika ia tidak tampil memimpin, maka
daerahnya akan dipimpin oleh orang2 yang tidak mentaati Allah, itu lah
kenapa nabi Yusuf mengajukan diri.
3. Selalu menjaga sholatnya.
Orang2 yang beruntung adalah yang selalu menjaga sholatnya. (QS Al Mu’minun 9)
Di awal surat Al Mu’minun, dijelaskan sifat2 orang beriman itu adalah
orang yang khusyuk, lalu di penutup tema ini juga tentang sholat, yaitu
yang selalu menjaga sholatnya, ini menggambarkan urgensi sholat dalam
kehidupan ini. Bagaimana eksistensi seorang muslim dengan imannya, bisa
dilihat di Hadist:
Aku bertanya pada Rasul: Amal apa yang paling utama?
Sholat pada waktunya
Biirul walidain (berbuat baik pada kedua orang tua)
Jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah).
Ini suatu bukti bahwa amal utama itu banyak, tapi yang pertama disebut
adalah sholat. Jika kita ingin iman kita diterima Allah, buktikan dengan
sholat tepat waktu.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda, “Jika kamu melihat orang yang biasa
mengunjungi masjid, saksikan wahai semuanya bahwa dia telah beriman”
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid2 adalah orang2 beriman.
Sesungguhnya kekuatan umat Islam dimulai dari masjidnya, terutama
sholat subuh dan isya. Itu tanda awal kebangkitan umat Islam. Pusat
sentral kegiatan kaum muslimin adalah masjid. Di situ lah membangun
bangsa dan negaranya.
Sehingga tidak ada dikotomi antara masjid
dengan negara. Nabi adalah ketua masjid dan juga kepala Negara. Karena
mengelola Negara dari suasana masjid yang damai, persatuan, kedekatan
dengan Allah.
Itu tidak hanya Rasulullah saja, ketika Rasulullah sdh
meninggal, dilanjutkan oleh para khalifah,. Semua nya mengelola masjid.
Kita semua harus seperti itu.
Di QS An Nisa 102, dijelaskan bahwa di saat kondisi tidak aman sekalipun, seseorang itu tetap harus sholat.
Dalam kondisi apa pun kita harus tepat waktu dalam sholat.
Semoga di dalam diri kita dan anak2 kita terdapat sifat orang mukmin.
Orang yg selalu menjaga amanahnya, selalu mendirikan sholatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar