Al Quran adalah kitab yang adil. Oleh karena itu, dalam kajian
sebelumnya tentang orang2 beriman, memang sifat2 orang beriman itu
berbeda, karena orientasinya berbeda. Orang beriman memiliki prinsip
yang jelas.
Sikap orang beriman terhadap orang beriman lainnya harus bersifat loyal (wala’), karena:
1. QS Al Hujuraat 10: innamal mu’minuuna ikhwah (sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara)
2. QS Al Maidah 55: Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan
menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah).
Kita batasi pembahasan kali ini, tentang sikap orang beriman terhadap orang2 kafir yang tidak memerangi Islam.
1. Berbuat baik dan berlaku adil.
QS Al Mumtahanah 8: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama
dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil.
2. Tidak Memaksakan keyakinan/toleransi.
QS. Al Baqarah 256: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.
Orang beriman tidak memaksa keyakinan, laa ikroo ha fiddiin.
Seperti apa realitas sebuah masyrakat yang berdasarkan AQ dan Sunnah
yang dibangun oleh Rasulullah SAW? Rasullulah melihat sahabat2nya di
Mekkah disakiti, diteror, sementara Nabi dijaga dengan aman, karena Nabi
dijaga Allah dan juga karena kedudukan kakek Rasulullah, yaitu Abdul
Muthallib yang dihormati di suku Quraisy, sehingga Rasulullah
memerintahkan sahabat2nya untuk hijrah ke Habasah (Ethiopia), yang waktu
itu masyarakatnya beragama Nasrani.
1. Nabi sangat perhatian
pada sahabatnya, tidak mungkin beliau diam sementara sahabatnya
terancam, sehingga ia menyuruh sahabat2nya hijrah ke Habasah.
2.
Nabi adalah orang yang obyektif, bahwa tidak semua orang kafir dipukul
rata, yaitu diangap semuanya memusuhi Islam, tapi Rasulullah mengatakan
raja Habasah sebagai orang yang jujur
3. Pandai berterima kasih.
Ketika Najasi, raja di Habasah, meninggal, yang sebenarnya ia meninggal
dalam keadaan Islam, tapi dirahasikan, karena masyarakatnya masih banyak
yang nasrani, Nabi menghormatinya dengan cara sholat ghaib.
Rasulullah bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang kafir. Sehingga
ketika kaum muslimin dikalahkan, dan ketika pasukan Abu Sufyan mau
menyerang lagi. Ma’bad melarang Abu Sufyan, dengan mengatakan Rasulullah
punya pasukan yang lebih besar, maka Abu Sufyan tidak jadi memerangi.
Ummat Islam harus cerdas dalam berinteraksi, bisa membedakan mana yang memerangi kaum muslimin dan mana yang netral.
QS Al-Jaasiyah 14-15: Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang beriman,
hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari
Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah
mereka kerjakan. Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka itu untuk
dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan
menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.
Allah memerintahkan orang2 beriman untuk memaafkan orang2 kafir, sabar
menahan dirinya jangan membalas kejahatan mereka, ini ayat yang turun di
awal2 Islam.. Tujuannya agar supaya hati mereka lembut, dan ini tidak
lama, karena setelah itu seluruh jazirah Arab masuk Islam, karena akhlaq
orang2 beriman yang lembut ini.
Mari kita lihat sejarah yang
begitu indah dan luar biasa yang tidak pernah bisa ditandingi oleh
siapapun. Sebuah jamaah, yaitu jamaahnya Rasulullah, diusir dari tanah
kelahiran, dirampas harta bendanya, dan ketika kaum muslimin bisa
menaklukkan Mekkah tanah air yang dulu mereka diusir, Nabi dan para
sahabatnya tidak balas dendam, tidak menghancurkan berhala2 mereka.
Mereka mempersilakan penduduk Mekkah untuk pergi dalam keadaan bebas.
Kalau ini bukan sebuah sejarah yang benar2 terjadi, pasti sudah
mengatakan bahwa ajaran Al Quran itu hanyalah khayalan saja.
Bagaimana
mungkin musuhnya yang dulu sudah mencaci maki bertahun tahun dan
memusuhi, tapi ketika sudah menang, musuhnya dibebaskan begitu saja.
Jangan ada rasa takut terhadap Islam, karena kalau Umat Islam menang,
tidak ada balas dendam. Yang dulunya musuh, diberi kesempatan utk
berfikir apakah mau masuk Islam karena keindahannya atau mau tetap dalam
keyakinannya.
Di satu sisi ajaran Islam adalah ajaran yang
tasamuh/toleransi, baik terhadap muslim maupun non muslim, karena laa
ikrooha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).
Tapi itu bukan
berarti kita loyalitas kepada orang kafir. Islam menghargai kebebasan
beraqidah, tapi al walaa adalah loyalitas keterikatan, dan ini adalah
inti ajaran Islam,
Jangan sampai karena alasan toleransi kepada kaum kafir, ia membenci saudaranya orang Islam, demi mendapatkan hal keduniawian.
Tapi juga tidak boleh berdasarkan al wala’ wal bara, ia memerangi siapa
saja orang kafir. Tidak boleh. Kalau ada orang islam mmerangi orang
kafir, itu
Tidak boleh ada pencampuradukkan anatar at tasaamuh
(toleransi) dengan al walaa (loyalitas). Kenapa terjadi kesalahan
sehingga terjadi percampuran antar keduanya?
1. Berlebihan (ghuluu’). Siapa pun, bila berlebihan maka ia akan meyimpang.
Yahudi menyimpang, karena mengatakan “Uzair putra Allah” dan orang2
Nasrani menyimpang dengan mengatakan “Al Masih putra Allah (QS At Taubah
30-31).
2. Memliki tujuan yang buruk. Bisa jadi orang itu tahu, tapi karena punya niat yang buruk, maka ia sengaja melakukannya.
Sikap orang2 yang beriman kepada orang2 kafir adalah jelas: berbuat baik, adil dan toleransi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar