Ketika Allah memberikan kita semua kehidupan, kemudian Allah berikan
kepada kita makna kebaikan. Kali ini Allah berikan petunjuk jalan
menuju hidup yang bahagia tersebut. Allah memberikan cara
mendapatkannya, tinggal kita sebagai manusia, mau atau tidak.
1. Keimanan dan amal sholeh.
QS An Nahl 97:
man ‘amila sholihan min dzakarin aw untsa wahuwa mu’minun falanuh
yiyannahu hayatan thoyyibah (Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik)
walanaj ziyannahum ajrohum bi
ahsani maa kaa nuu ya’maluun (dan akan Kami beri balasan dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan).
Jalan menuju al hayah ath thoyyibah itu, adalah amal sholeh yang berangkat dari seorang mukmin.
Al Imam, Muhammad ibnu Idris Asy Syaafi’I (Imam Syafi’i) mengatakan,
seandainya Allah SWT menurunkan surat Al Ashr saja, itu sudah cukup
mencakupi isi Al Quran.
Surat ini dimulai dengan sumpah wal ashr
(demi waktu). Allah bersumpah dengan waktu. Kalau Allah bersumpah dengan
sesuatu, itu tandanya pentingnya sesuatu itu. Tapi yang lebih
pentingnya lagi adalah jawaban dari sumpah itu, yaitu:
Sesungguhnya manusia benar2 tenggelam dalam kerugian yang sebesar2nya.
Sehingga makna kerugian tidak sempit. Kerugian di dunia, di akhirat,
kerugian dalam berkeluarga, perusahaan kita, bermasayaarkat, bernegara.
Ternyata syarat pertamanya adalah Iman, dan amal sholeh.
Yang lebih menarik lagi, walaupun seluruh ayat Al Quran memang menarik,
redaksi ayat ini dalam jumlah jamak (banyak), Allah menggunakan
“kecuali orang-orang yang beriman, dan orang2 yang beramal sholeh”.
Semuanya dalam jumlah yang jamak (plural).
Artinya, kebahagiaan
dalam hidup ini harus ada amal sholeh dan amal jama’i (kerja sama, dan
sama2 bekerja). Ketika kita melakukan amal sholeh, itu dilakukan dengan
bekerja sama dan sama2 bekerja. Semuanya beramal untuk menegakkan
syariat Allah. Semua harus sama2 bekerja, dan bekerja sama agar tidak
ada yang slonong boy.
Di skala rumah tangga, seorang ayah tidak
bisa bekerja sendirian mewujudkan rumah tangga yang Islami, ia harus
didukung juga oleh istri dan anak-anaknya.
Di dalam skala Negara,
berbagai masalah baik itu dalam hal politik, ekonomi, pendidikan, bisa
diatasi jika memiliki itikad yang sama, yaitu amal jamai. Kita ini tidak
miskin SDA maupun SDM. Tapi permasalahannya adalah maukah kita bekerja
sama dan sama2 bekerja dalam amal sholeh, untuk memproduksi kebaikan?
Jika saudara kita beramal sholeh, maka wajib bagi kita mendukungnya.
Ketika kita mendukung/bekerja sama, jangan melihat siapa yang beramal
sholeh, siapa yang beriman, apakah golongan saya atau bukan. Jangan
seperti itu. Siapa pun yang beriman dan beramal sholeh, wajib kita
dukung.
Betapa indahnya Allah memberikan perumpaan bagaimana
besarnya manfaatnya keimanan itu bagaikan pohon yang tinggi yang akarnya
mengakar ke bawah dan buahnya lebat, di QS Ibrahim 24-25: “Tidakkah
kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya
(menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap
waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk
manusia agar mereka selalu ingat.”
Kalimat thoyyibah, yaitu laa
ilaa ha illallaah, itu seperti pohon yang baik. Akarnya kokoh, dan
cabangnya menjulang tinggi ke langit. Ketika ia berbuah, buahnya tidak
pernah berhenti. Memberikan buahnya setiap saat.
Ini terkait
dengan kajian sebelumnya. Seorang beriman itu produktif dan
produktifitasnya tidak terkait dengan bulan tertentu (baca Al Quran,
berinfak bukan hanya di bulan Romadhon), di mana pun (bukan hanya di
tempat pengajian, tapi di kantor pun ia produktif beramal).
Buahnya tinggi, jauh dari kotoran2. Pepohonan apa pun bila berbuah di
dataran tinggi, maka kualitasnya jauh lebih tinggi, Orang beriman itu
tidak mudah digoncang oleh angin apa pun, peristiwa apa pun.
Yang menarik dari ayat ini, Allah menutupnya dengan kalimat “bi idzni
Rabbika (atas idzin Tuhannya). Jangan berbangga dengan produktitfitas
kita. Karena itu semua atas idzin Allah. Sehingga, orang beriman yang
bisa berbuat kebaikan itu tidak ghuruur (GR). Ia tidak akan
menyombongkan diri, seolah2 paling berjasa. Karena dia yakin, itu semua
bisa terjadi karena atas idzin Allah.
2. Ridho.
Di antara
petunjuk Allah agar kita benar2 menuju jalan kehidupan ini adalah Ar
Ridho. Kita harus ridho terhadap seluruh apa saja yang telah ditentukan
oleh Allah:
1. baik terhadap aturan yang telah Allah tentukan, aturan dalam berkeluarga, aturan berbangsa, dll.
2. Maupun terhadap al qodho’ (keputusan Allah yang telah ditetapkan di Lauhul Mahfuz), kaya atau miskin, dsb.
Kita ini ridho. Karena kita semua ini diuji, yang kaya diuji dengan
kekayaannya, yang tenar diuji dengan ketenaran. Ketika orang kaya itu
ridho, maka ia akan memanfaatkan kekayaannya untuk tunduk pada Allah,
seperti Sulaiman. Ayyub diuji dengan penyakit, ia juga ridho. Baik dia
Sulaiman maupun Ayyub, semuanya ridho.
Ridho itu kenikmatan
ruhaniah, yang tidak bisa ditandingi dengan kenikmatan apa pun. Allah
ridho padanya dan mereka ridho pada Allah.
Seluruh sahabat Nabi
harus kita cintai, karena mereka adalah orang2 yang diridhoi oleh Allah,
seperti disebutkan di QS At Taubah 100:
Wassaabiquunal
awwaaluuna minal muhaajiriina wal anshoori walladziinat taba ‘uuhum bi
ihsaanin, (Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam)
diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik,)
Rodhiyalloohu ‘anhum wa rodhuu ‘anhu wa a
‘adda lahum jannaatin tajrii tahtahal anhaaru khoolidiina fiihaa abadaa
(Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya).
Dzaalikal faudzhul adzhim (itu adalah kesuksesan yang besar)
Di dalam Hadistnya, Rasulullah menjelaskan tentang Ar Ridho:
Siapa yang bisa dzaako (merasakan) nikmatnya iman? Yaitu orang yang
ridho kepada Allah sebagai Tuhannya yang memimpin, mengatur,
memperbaiki. Dan ridho Islam sebagai dien, sehingga tidak akan mencari2
ajaran lain, karena dia yakin seyakin2nya bahwa dengan Islam lah ia akan
bahagia dunia dan akhirat. Sehingga tidak akan mengagumi orang lain
apalagi yang bertentangan dengan Islam, maka ia akan meneladani
Rasulullah. Dalam rumah tangga kita, kita mengikuti Rasul, dalam
berbangsa dan bernegara kita juga emngikuti Rasulullah, dalam segala
hal.
Sebenarnya, kebahagiaan adalah keinginan setiap manusia.
Tapi tidak semua manusia bahagia, karena tidak tahu jalannya, tapi yang
tahu jalannya juga tidak semuanya bahagia, karena masih tengok sana
tengok sini, karena masih saja mencari alternatif lain.
Hidup ini terasa indah bila kita ridho pada Allah, Rasul,dan Dienul Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar