15 November 2014

Kehidupan Orang2 yang Syahid

Bagaimana kehidupan orang2 yang syahid di akhirat nanti. Tapi sebelumnya, mari kita pahami makna syahid. Syahid adalah orang yang terbunuh tewas di jalan Allah. Dia tewas karena berjuang di jalan Allah, bukan di jalan lainnya. Bentuk jamak dari syahid adalah syuhada.

Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.

Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”

Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.

1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.

2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.

3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”

4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.

5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah

QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.

QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”

Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.

Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”

Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.

Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”

Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.

08 November 2014

Pedoman Kehidupan (Tafsir QS Al 'Ashr)

Surat Al 'Ashr, surat yang pendek, namun kandungannya luar biasa. “Seandainya Allah SWT di dalam Al Quran hanya menurunkan surat Al 'Ashr, kandungannya sudah cukup,” kata Imam Syafi’i. Apa yang menjadikan Imam Syafi’I kagum dengan Surat Al 'Ashr?

1. Allah bersumpah dengan waktu.
Ketika ada makhluk dipakai untuk bersumpah oleh Allah, itu tandanya hal itu adalah penting.
Waktu bagaikan pedang. Kalau kita bisa menggunakan untuk mendayagunakan kebaikan, maka kita bisa mendapatkan kebaikan, jika tidak, maka sebaliknya. Waktu adalah membangun dan menghancurkan.

Seperti apa waktu dikelola? Ini ada dalam surat Al 'Ashr.
Di dalam surat ini Allah memvonis dengan ungkapan “innal insaana lafii khusrin” (sesungguhnya manusia benar2 tenggelam dalam kerugian).
“Khusrin” (kerugian) memunjukkan nakhiroh, menggambarkan kerugian ini benar2 kerugian yang besar. Kerugian individu, bangsa dan Negara. Yaitu selama manusia itu hanya sebagai manusia, maka disebutkan insan. Manusia dengan sisi kemanusiaannya saja tidak cukup untuk menjadi orang yang beruntung.

Maka dalam AQ ketika Allah menyebutkan manusia dengan al insan, itu untuk manusia dalam kondisi negatif, misalnya: manusia diciptakan dalam keadaan lemah atau manusia yang dzholim dan bodoh (QS Al Ahzab 72-73).

QS Al Ahzab (33) 72-73: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ketika manusia di dunia ini hidup hanya dengan sisi kemanusiaannya saja, tidak menggunakan keimanannya, maka kalau dia itu berrumahtangga, maka rumahtangga itu akan hancur, kalau itu Negara, maka Negara itu akan rugi dan bangkrut.
Apa panduan kehidupan yang menjadikan kita umat manusia selamat dari kerugian?
Jawabannya: beriman.

Orang beriman itulah yang tidak rugi. Tidak rugi dalam keluarganya, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena orang beriman mengikuti perintah2 Allah. Ketika orang lain terjatuh ke zina, maka orang beriman tidak akan terjatuh ke zina. Karena orang beriman tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Tidak dengan berhala, pemimpinnya, hawa nafsunya.
QS Al Anam 82: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Orang2 yang beiman yang tidak menodai imannya dengan kedzhoiman dan syirik, itulah orang yang akan mendapatkan rasa aman
Secara individu dia aman, tidak terkena stress. Keluarganya aman, tidak kena bahaya selingkuh, bahaya narkoba, bahaya tawruan, dsb. Masyarakatnya aman, masyarakat yang terdiri dari keluarga2 muslim, aman. Betapa sebuah bangsa yang dulunya carut marut, mereka berubah menjadi Negara yang sukses karena rakyatnya terdiri dari orang2 yang beriman.

2. Kiat sukses orang beriman: amal sholeh dan amal jama’i.
Karena Allah berfirman dalam surat Al 'Ashr ini, yang disebut adalah orang2 yang beriman, dan orang2 yang beramal sholeh (semua dalam bentuk jamak).
Jadi orang yang sukses bukanlah orang yang sendirian. Meskipun dia berada di tengah2 jutaan manusia, tapi tidak ada orang yang mengikutinya, tidak ada yang bekerjasama dengannya, jika dia terperangkap dalam penyakit individual.

“Kamu harus berjamaah, karena syaitan bersama orang2 yang sendirian. Sesungguhnya serigala menerkam kambing yang jauh dari gerombolannya sendirian.”
Ketika anak bangsa ini bersatu padu, maka kekuatan bangsa manapun di dunia ini, tidak akan berani mengintai kita, memata2i kita.

Keluarga besar yang bersatu beramal jamai, juga sebuah bangsa yang sama2 kerja dan bekerja sama, maka bangsa itu akan bangkit dari kebangkrutan jenis apa pun. Kebangkrutan ekonomi, sosial politik, pendidikan.

3. Kita harus saling wasiat mewasiati dengan kebenaran, dan kebenaran itu datangnya dari Allah. Semua yang dari Allah pastilah benar, hakiki, dan tidak ada istilah kebenaran itu relatif. Tapi kalau kebenaran yang datang dari kita manusia, bisa benar bisa salah, seperti yang disampaikan oleh Imam Malik, “setiap pendapat bisa diterima ditolak. Tapi jika sudah disebut, qoollAlloh (berkata Allah), qoola rasul (berkata Rasul), maka perkataan itu sudah pasti benar.

Pertanyaannya: apa tujuan saling menasehati?
Dalam rangka menjaga prinsip kehidupan ini.
Hidup ini harus punya prinsip. Karena kita meyakini hidup ini bukan di dunia saja. Kita harus punya prinsip. Rumah tangga kita punya prinsip, Negara kita punya prinsip. Dan itu harus selalu dinasehati.

Untuk menjadi tetap jujur, di saat banyak orang yang tidak jujur, maka harus selalu dinasehati.Untuk tetap mendapatkan yang halal, ketika sebagian besar manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang alasannya demi keluarganya, itu semuanya membutuhkan nasehat. Kita harus saling nasehat menasehati. Melibatkan kedua belah pihak.

Bila itu sebuah keluarga, melibatkan anak dan orang tuanya, bila itu pesantren melibatkan pesanren dengan santrinya. Jika itu suatu Negara, maka harus melibatkan pemerintah dan rakyatnya. Jadi harus kedua belah pihak.
Radhiyallahu Umar bin Khattab menerima nasehat dari rakyat kecil, yaitu ketika Umar mau meringankan jumlah mahar, lalu dinasehati oleh seorang perempuan kenapa umar membatasi, padahal Al Quran tidak membatasi? Umar mengatakan sekaligus mengaku di depan rakyatnya, tidak ada gengsi, “PEREMPUAN ITU BENAR DAN UMAR SALAH.”
Umar yang begitu hebat, yaitu sampai2 ada 5 peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat Al Quran karena menyetujui pendapat umar, mau dinasehati oleh rakyatnya.

4. Saling nasehat menasehati dengan kesabaran.
Kenapa? Karena kita semua lemah. Karena kita merasakan kesulitan barang sedikit saja, kita sudah tidak sabar. Mendapatkan ancaman kecil saja, terkadang tidak sabar. Untuk itu mari kita bangun tradisi yang sangat mulia, yaitu saling menasehati dengan sabar. Untuk menjaga agar selalu berkesinambungan dalam memproduksi kebaikan, dan itu membutuhkan kesabaran. Kalau orang mengatakan kesabaran itu ada batasnya, maka dari itu mari kita tingkatkan kesabarannya, “ishbiruu wa shoobiruu.”

Jika kita saling menguatkan, maka insya Allah kita akan tetap tegar.
Surat Al 'Ashr ini panduan agar kita tidak rugi dalam hidup ini. Kebiasaan para ulama ketika berkumpul dengan saudara dan teman2nya, mereka belum mau berpisah kalau belum saling membacakan surat Al 'Ashr. Ini adalah Sunnah Rasulullah. Inilah yang harus diabadikan dalam kurikulum pendidikan kita, yaitu membaca surat Al 'Ashr di sekolah-sekolah pada jam terakhir mau berpisah.

07 November 2014

Menghadirkan Kepahlawanan

Ketika manusia menghadapi masalah2 besar, dunia membutuhkan kepahlawanan. Bagaimana Al Quran menghadirkan kepahlawanan di dunia ini?

1. As sajaa’ah (keberanian)
Jangan bermimpi bangsa ini ada yang menjadi pahlawan, jika tidak ada yang mempunyai keberanian. Bagaimana Al Quran berjanji kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada yang murtad, maka akan ada generasi baru. Generasi baru yang bagaimana? Yaitu seperti yang di jelaskan di QS Al Maidah 54.

QS Al Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Kepahlawanan itu tidak akan terjadi bila tidak ada keberanian, dan keberanian adalah anugrah Allah. Pertanyaannya, apakah kita bersungguh2 melanjutkan kepahlawanan ini.

2. Tsabat (berteguh pendirian)
Al Anfal (8) 45: “Hai orang2 yang beriman, apabila kamu bertemu dengan musuh2mu, maka tsabatlah dan berdzikir lah yang banyak, agar kamu menang.”
Tidak tergoda dengan sanjungan manusia, tidak tergoda dengan gelombang fitnah atas dirinya. Dia terus berteguh pada pendiriannya.

Seluruh orang beriman meminta hidupnya selalu tsabat di jalan Allah. Jangankan kita, yang perlu selalu berdoa untuk mendapatkan tsabat, Rasulullah, hamba yang paling disayang Allah pun, di antara doa yang selalu dibacakan beliau adalah, “yaa muqollibal quluuub tsabbit qolbii ala diinik” (Ya Allah yang menguasai hati, tetapkan lah hati ini dalam agamaMu).

3. Cita2 yang kuat, semangat yang tinggi, dan dibarengi dengan tujuan yang mulia.
Pahlawan di dunia ini tidak mengenal sesuatu yang murah. Hidupnya untuk sesuatu yang mahal. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal. Dan dagangan Allah itu adalah syurga.

QS At Taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Dari QS At Taubah 111 di atas, ada sekian banyak pelajaran kehidupan terutama bagi calon2 pahlawan.

Ada suatu uslub (gaya Bahasa) di Al Quran yang mendahulukan dan didahulukan. Ulama tafsir mengatakan, seseorang tidak mengetahui indahnya Al Quran bila tidak tahu mana yang mendahulukan dan mana yang didahulukan.

Pada sebagian besar ayat di Al Quran, dalam mengorbankan, selalu mendahulukan mengorbankan harta lalu jiwa. Tapi di dalam ayat ini, yang didahulukan adalah jiwa terlebih dulu, barulah harta.
Para pahlawan itu membunuh musuhnya dan merekapun gugur dalam perjuangan. Tapi di ayat ini disebutkan “fayuqtaluuna fayaqtuluun” maka mereka terbunuh, dan mereka membunuh. Bagaimana dengan hal ini?

Ulama tafsir mengatakan: para pahlawan itu ketika mereka keluar dari rumahnya untuk berjuang di jalan Allah, cita2nya tidak ingin mendapatkan harta benda, tapi semata2 karena rindu dengan Allah, dan itu tidak akan ada yang memisahkan kecuali dengan kematian. Sehingga niat yang mulia ini disamakan dengan “terbunuh” dan jihad mereka itulah yang “membunuh.”

Pahlawan bukanlah seseorang yang bisa dibeli dengan dunia, mereka hanya menginginkan ridho Allah.
Hadist: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar Islam mendapatkan nilai yang paling tinggi, itu lah pahlawan.”

4. Kejujuran dan benar2 memenuhi janjinya pada Allah
Pahlawan menyadari betul bahwa ketika masih di dalam kandungan ibunya, setiap muslim telah berjanji kepada Allah, bahwa Rabb (Tuhan)nya hanyalah Allah.

Ketika Allah menginstruksikan perintah, dan bagi sebagian manusia perintah itu terasa sangat berat, maka para pahlawan membuktikan janjinya kepada Allah, untuk mengikuti perintah Allah itu.

Al Ahzab 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),”

Di ayat di atas, Allah menambah pujian kepada orang2 yang berjuang di jalan Allah, dengan sebutan rijal. Di antara orang2 beriman ada rijal. Kata rijal di sini bukan sebatas laki2, tapi itu mengungkapkan kepahlawanan.

‘Adamuttaqdim, para pahlawan itu tidak mengubah janjinya kepada Allah. Ini menggambarkan ada pelajaran aqidah, bahwa orang yang berjuang, jangan punya persepsi yang salah, bahwa kalau ia berjuang pasti akan mati. Belum tentu. KEmatian bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang berjuang. Orang berjuang belum tentu mati dalam keadaan berjuang. Bahkan ada pula orang yang hanya di rumah saja juga bisa meninggal. Kalau memang kita semua akan meninggal, kenapa kita tidak memilih cara mati yang mulia.

06 November 2014

Jalan Kehidupan yang Baik (5)

Tidak ada kebaikan dalam hidup ini, melainkan pasti Allah memberikan petunjukNya menuntun kita kepada jalan yang benar, agar kita bahagia dunia dan akhirat. Di antaranya:

1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.

Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:

1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi

2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.

3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.

Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.

Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.

Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu"

2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.

Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.

2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.

Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.

3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga

4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.

Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.

Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”

Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.

Jalan Menuju Kebahagiaan (Bagian ke 4)

1. Tidak menginginkan syukur (terima kasih) kecuali dari Allah SWT
Ketika kita berbuat keibaikan, maka orientasi kita semata2 karena Allah. Jangan sekali2 berbuat baik kepada orang, tujuannya agar orang berterima kasih kepada kita. Kita akan capek dalam hidup ini. Kalau kita berharap kebaikan semata2 dari Allah SWT kita akan bahagia.

Bukankah di masyarakat, sering kita temui seseorang membantu adeknya, saudaranya, tetangganya, dengan bantuan yang amat banyak, dan ketika orang yang diberi bantuan itu menjadi orang hebat dan lupa berterima kasih kepadanya, lalu bila ia tidak melihat hal ini dengan kacamata Allah, maka diungkit2 kebaikannya itu, maka rontoklah kebaikan2nya itu.

Oleh sebab itu Allah SWT telah memberi petunjukNya, agar ketika kita memberi makan kepada seseorang, kita tidak mengharapkan balasan dan kata terima kasih darinya.
QS Al Insan 9: “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian, semata2 karena Allah. Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan juga bukan terima kasih.”

Kebaikan di sini jangan hanya dianggap dengan memberi makan saja, tapi apa bisa berupa apa saja. Makanan di sini adalah gambaran kepedulian kepada orang yang lapar.
Selama kita bisa memberikan kebaikan kepada yang membutuhkan, berikanlah, karena itu jalan menuju kebahagiaan. Kalau kita memberi, jangan berharap balasannya lebih banyak, “walaa tan num tastaktsir.”

2. Memfokuskan pikiran kita, perhatian kita untuk bekerja membangun demi hari ini dan hari yang akan datang, dan memutus rantai masa lalu.
Hidup ini tidak selamanya mulus. Suami memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, istri juga. Dalam berbangsa dan bernegara ini juga ada hubungan2 masa lalu yang tidak menyenangkan. Kita tidak boleh mengungkit2 masa lalu.

Apa jadinya hidup ini kalau ada manusia yang mengungkit2 masa lalu, lalu meledakkan hidup ini. Ini bukan berarti kita melupakan masa lalu, tapi kita hidup untuk masa yang akan datang.

Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hadist: “Allahumma ini a’udzu bika minal hammi wal hazn, wa a ‘uudzu bika minal ‘ajzi wal kasl, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a ‘uudzu bika min gholabatid daini wa qoh rirrijaal.”

Dalam doa ini kita berdoa pada Allah, berlindung dari rasa sedih, dari ketidaktenangan, ketidakjelasan, dan minta perlindungan kepada Allah dari rasa lemas dan malas, minta perlindungan kepada Allah dari sifat kikir, dan minta perlindungan pada Allah dari lilitan orang atau bangsa lain.

Sebelum kita berpikir dan berharap apakah doa itu dikabulkan atau tidak, dan semoga doa2 kita dikabulkan, kita harus pahami, bahwa doa itu sangat penting, terlepas apakah akan dipercepat dikabulkannya atau tidak. Karena:
1. doa itu ibadah
2. ketika kita berdoa maka harus kita barengi dengan kerja.
Ibrahim as, bapaknya para nabi, ketika berdoa agar dirinya dan anak2nya menjadi muslim, maka dibarengi dengan kerja, yaitu membangun kabah.

Jangan sampai doa kita bertolakbelakang dengan kerja. Kita ingin punya anak soleh, tapi pendidikannya tidak Islami, dan pergaulannya tidak bersama2 orang soleh. Jika ingin anak kita sholeh/ah, maka pendidikannya harus yang Islamy dan teman2nya juga harus yang benar.

Maka kita harus buktikan, jangan menangisi masa lalu. Kita focus bangkit membangun masa depan. Siapa yang tidak punya masa lalu yang buruk? Setiap manusia anak adam pasti pernah berbuat salah. Tapi anak manusia yang berbuat salah, bisa bangkit menjadi berbuat yang terbaik. Jangan diungkit2 masa lalunya. Kita focus demi kebangkita masa depan bangsa ini.

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim, Rasulullah bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.”

Jadi kita harus bangkit, jangan terjatuh dalam kubangan “seandainya seandainya”.
Ini bukan berarti kita tidak mempunyai penyesalan, atas apa2 yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Bila kita berbuat salah, kita harus menyesal. Karena salah satu ciri2 tobatnya seseorang adalah menyesali kesalahannya. Kita menyesali masa lalu, tujuannya adalah memperbaiki diri sendiri.
QS Al Qiyamah 2: “Walaa uq simu binnafsil lawwaamah” (dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).

Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang mencela dirinya kenapa berbuat keburukan.
Di antara ciri manusia yang akan berubah menuju lebih baik adalah, manusia itu menyesali masa lalunya.

Jiwa yang mencela dirinya karena berbuat salah, itu adalah proses menuju jiwa yang istiqomah. Karena orang yang tadinya berbuat salah itu, tidak ujug2 langsung berubah, tapi harus didahului dengan penyesalan2: “Kenapa saya dulu tidak rajin sholat, kenapa saya dulu tidak rajin belajar membaca Al Quran, dsb”

Jiwa yang lawwaamah (menyesali diri) adalah proses menuju jiwa yang tenang.
Fokus memikirkan masa depan yang lebih baik, ini adalah ciri manusia yang bahagia hidupnya. Keluarga yang bahagia adalah yang focus pada masa depan. Bukan suami yang mengungkit2 masa lalu istrinya. Negara yang besar adalah Negara yang focus pada masa depan, dan mengambil pelajaran dari masa lalu, karena mukmin yang benar tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali.

Ini harus kita renungi, apabila dalam berkeluarga, berbisnis, berpendidikan, berpolitik, kita sudah merasa pernah melakukan kesalahan, maka jangan diulangi.
Jika kita sudah merasakan pemimpin yang dzholim, jangan jatuh dalam memilih pemimpin yang dzholim lagi. Jika kamu telah menempati tempat2 yang dulunya orang2 yang duduk di situ mendzholimi dirinya, lalu orang2 yang zholim itu telah pergi, maka jangan sampai kamu menggantikan posisinya mengulangi kedzholiman, jangan ulangi kesalahan masa lalu, untuk itu focus pada masa depan.

Rasulullah tidak pernah mengungkit2 masa lalu Kholid bin Walid, padahal dalam perang Uhud, Kholid bin Walid masih dalam posisi sebagai musuh Nabi, tapi ketika ia sudah masuk Islam tidak pernah Nabi ungkit2 masa lalu Kholid. Nabi tidak menjatuhkan mental orang2 yang sudah bertaubat.
Kita semua harus fokus membangun masa depan.