17 November 2014

Derajat Syuhada di Akhirat dan Jamaah yang termasuk Syuhada

Derajat Syuhada di Akhirat:

1. Di syurga itu ternyata ada beberapa tingkatan derajat/kedudukan. Derajat orang2 syahid di medan jihad itu memiliki seratus tingkat di akhirat.

Hadist: ”Sesungguhnya di syurga terdapat 100 tingkatan yang disediakan Allah bagi yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan tingkatan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian minta kepada Allah mintalah Surga Firdaus”
Ini dalil bahwasnya orang2 yang sayihd, mendapatkan 100 derajat di syurga

2. Begitu mujahid tewas di medan jihad, di saat itulah seluruh dosanya diampuni Allah, kecuali hutang. Maka berhati2lah dengan hutang. Siapa sih manusia di dunia ini tidak ingin diampuni oleh Allah?
 Hadist: dari Amr ibnu Ash, Rasul bersabda: “bagi yang syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. Tewas di medan jihad bisa menghapuskan seluruh dosa kecuali hutang.”

3. Warna luka orang yang darah itu warna darah, merah. Tapi harumnya, seperti harum misik, yang terwangi.
 Hadist: “Darahnya itu merah, lukanya merah, tapi harumnya adalah harum minyak misik.”

4. Diselamatkan dari adzab kubur

5. Rasa aman di saat hari kiamat

6. Diberikan mahkota kehormatan di kepalanya bahwa dia berbeda dengan yang lainnya

7. Dikawinkan oleh Allah dengan 72 bidadari

8. Diberikan hak untuk memberikan syafaat pertolongan 70 keluarganya, atas izin Allah.

9. Mereka disebut oleh Allah, sejajar dengan para Nabi.

QS An Nisa 69-70: orang2 yang syahid menjadi temannya pada Nabi, dekat dengan Nabi,
Siapa yang tidak bangga ketika namanya disebut bersama nama para Nabi,
Lalu, siapa sajakah yang disebut syahid?
Apakah setiap yang tewas, disebut syahid?

Di antara orang2 yang disebut oleh Islam sebagai syahid, ternyata ada banyak:
1. Terkena wabah tho’un
2. Orang yang meninggal karena sakit perut
3. Orang yang mati karena tenggelam
4. Orang yang mati karena terkena bangunan atau lainnya.
5. Orang yang syahid di jalan Allah SWT
6. Orang yang terbunuh secara zholim, dalam rangka mempertahankan harta bendanya.
Hadist: “Barangsiapa yang terbunuh karena menjaga harta bendanya, maka dia itulah orang syahid.”
7. Orang yang terbunuh, dalam rangka mempertahankan jiwanya.
Ini bukan orang yang berantem. Dia terbunuh karena membela jiwanya, atau kehormatan dirinya, anaknya, atau keluarganya. Insya Allah dia meninggal dalam keadaan syahid.
8. Orang yang jatuh dari kendaraannya, lalu mati, maka ia syahid.
Tujuan berkendaraannya adalah dalam rangka berjuang di jalan Allah.
9. Orang yang mati karena terkena penyakit lambung, maka ia juga syahid.
10. Seorang ibu yang meninggal, di perutnya masih ada anak, artinya, ia meninggal karena melahirkan.

Selain orang2 yang berperang di jalan Allah, masih ada syahid2 lainnya. Ketika sama2 disebut syahid, apakah pahalanya sama, statusnya sama?

Sudah tentu berbeda. Kita harus mampu memahami Islam secara menyeluruh, dengan melihat kajian lainnya, setelah melihat ayat2 dan hadist2 yang begitu banyak.

Pendapat Imam Nawawi, ketahuilah orang yang syahid itu ada 3 macam:
1. orang yang terbunuh disebabkan memerangi orang2 yang kafir. Hukumnya di dunia tidak dimandikan. Kenapa tidak dimandikan? Karena masih hidup, bersih. Bahkan dikuburkan bersama pakaian yang ia pakai. Tidak perlu juga disholati karena sudah dapat garansi dari Allah pasti masuk syurga.

2. mereka dapat pahala seperti orang syahid, tapi ketika ia meninggal, ia mendapatkan hukum di dunia, yaitu dimandikan dan disholati, sama seperti orang beriman lainnya. Tapi pahala mereka di akhirat adalah pahala orang yang syahid. Ini orang yang mati karena tenggelam, sakit perut, melahirkan, dsbnya.

3. Orang yang curang dalam pembagian ghonimah (harta rampasan perang)-nya. Ketika ia mati, ia tidak dimandikan dan disholati, karena secara kasat mata ia seperti syahid di medan perang, tapi pahala di akhirat tidak sama, karena ia tidak jujur dalam pembagian ghonimah.

16 November 2014

Keistimewaan Kehidupan Orang2 Syahid

Orang-orang yang syahid itu memang istimewa, sehingga kita akan memaparkan di bawah ini keistimewaan2nya.

QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”

Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:

1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.

2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.

3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.

4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.

Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?

QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.

1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.

2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.

3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?

Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.

QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."

Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.

Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.

Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.

15 November 2014

Kehidupan Orang2 yang Syahid

Bagaimana kehidupan orang2 yang syahid di akhirat nanti. Tapi sebelumnya, mari kita pahami makna syahid. Syahid adalah orang yang terbunuh tewas di jalan Allah. Dia tewas karena berjuang di jalan Allah, bukan di jalan lainnya. Bentuk jamak dari syahid adalah syuhada.

Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.

Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”

Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.

1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.

2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.

3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”

4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.

5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah

QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.

QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”

Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.

Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”

Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.

Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”

Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.

08 November 2014

Pedoman Kehidupan (Tafsir QS Al 'Ashr)

Surat Al 'Ashr, surat yang pendek, namun kandungannya luar biasa. “Seandainya Allah SWT di dalam Al Quran hanya menurunkan surat Al 'Ashr, kandungannya sudah cukup,” kata Imam Syafi’i. Apa yang menjadikan Imam Syafi’I kagum dengan Surat Al 'Ashr?

1. Allah bersumpah dengan waktu.
Ketika ada makhluk dipakai untuk bersumpah oleh Allah, itu tandanya hal itu adalah penting.
Waktu bagaikan pedang. Kalau kita bisa menggunakan untuk mendayagunakan kebaikan, maka kita bisa mendapatkan kebaikan, jika tidak, maka sebaliknya. Waktu adalah membangun dan menghancurkan.

Seperti apa waktu dikelola? Ini ada dalam surat Al 'Ashr.
Di dalam surat ini Allah memvonis dengan ungkapan “innal insaana lafii khusrin” (sesungguhnya manusia benar2 tenggelam dalam kerugian).
“Khusrin” (kerugian) memunjukkan nakhiroh, menggambarkan kerugian ini benar2 kerugian yang besar. Kerugian individu, bangsa dan Negara. Yaitu selama manusia itu hanya sebagai manusia, maka disebutkan insan. Manusia dengan sisi kemanusiaannya saja tidak cukup untuk menjadi orang yang beruntung.

Maka dalam AQ ketika Allah menyebutkan manusia dengan al insan, itu untuk manusia dalam kondisi negatif, misalnya: manusia diciptakan dalam keadaan lemah atau manusia yang dzholim dan bodoh (QS Al Ahzab 72-73).

QS Al Ahzab (33) 72-73: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ketika manusia di dunia ini hidup hanya dengan sisi kemanusiaannya saja, tidak menggunakan keimanannya, maka kalau dia itu berrumahtangga, maka rumahtangga itu akan hancur, kalau itu Negara, maka Negara itu akan rugi dan bangkrut.
Apa panduan kehidupan yang menjadikan kita umat manusia selamat dari kerugian?
Jawabannya: beriman.

Orang beriman itulah yang tidak rugi. Tidak rugi dalam keluarganya, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena orang beriman mengikuti perintah2 Allah. Ketika orang lain terjatuh ke zina, maka orang beriman tidak akan terjatuh ke zina. Karena orang beriman tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Tidak dengan berhala, pemimpinnya, hawa nafsunya.
QS Al Anam 82: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Orang2 yang beiman yang tidak menodai imannya dengan kedzhoiman dan syirik, itulah orang yang akan mendapatkan rasa aman
Secara individu dia aman, tidak terkena stress. Keluarganya aman, tidak kena bahaya selingkuh, bahaya narkoba, bahaya tawruan, dsb. Masyarakatnya aman, masyarakat yang terdiri dari keluarga2 muslim, aman. Betapa sebuah bangsa yang dulunya carut marut, mereka berubah menjadi Negara yang sukses karena rakyatnya terdiri dari orang2 yang beriman.

2. Kiat sukses orang beriman: amal sholeh dan amal jama’i.
Karena Allah berfirman dalam surat Al 'Ashr ini, yang disebut adalah orang2 yang beriman, dan orang2 yang beramal sholeh (semua dalam bentuk jamak).
Jadi orang yang sukses bukanlah orang yang sendirian. Meskipun dia berada di tengah2 jutaan manusia, tapi tidak ada orang yang mengikutinya, tidak ada yang bekerjasama dengannya, jika dia terperangkap dalam penyakit individual.

“Kamu harus berjamaah, karena syaitan bersama orang2 yang sendirian. Sesungguhnya serigala menerkam kambing yang jauh dari gerombolannya sendirian.”
Ketika anak bangsa ini bersatu padu, maka kekuatan bangsa manapun di dunia ini, tidak akan berani mengintai kita, memata2i kita.

Keluarga besar yang bersatu beramal jamai, juga sebuah bangsa yang sama2 kerja dan bekerja sama, maka bangsa itu akan bangkit dari kebangkrutan jenis apa pun. Kebangkrutan ekonomi, sosial politik, pendidikan.

3. Kita harus saling wasiat mewasiati dengan kebenaran, dan kebenaran itu datangnya dari Allah. Semua yang dari Allah pastilah benar, hakiki, dan tidak ada istilah kebenaran itu relatif. Tapi kalau kebenaran yang datang dari kita manusia, bisa benar bisa salah, seperti yang disampaikan oleh Imam Malik, “setiap pendapat bisa diterima ditolak. Tapi jika sudah disebut, qoollAlloh (berkata Allah), qoola rasul (berkata Rasul), maka perkataan itu sudah pasti benar.

Pertanyaannya: apa tujuan saling menasehati?
Dalam rangka menjaga prinsip kehidupan ini.
Hidup ini harus punya prinsip. Karena kita meyakini hidup ini bukan di dunia saja. Kita harus punya prinsip. Rumah tangga kita punya prinsip, Negara kita punya prinsip. Dan itu harus selalu dinasehati.

Untuk menjadi tetap jujur, di saat banyak orang yang tidak jujur, maka harus selalu dinasehati.Untuk tetap mendapatkan yang halal, ketika sebagian besar manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang alasannya demi keluarganya, itu semuanya membutuhkan nasehat. Kita harus saling nasehat menasehati. Melibatkan kedua belah pihak.

Bila itu sebuah keluarga, melibatkan anak dan orang tuanya, bila itu pesantren melibatkan pesanren dengan santrinya. Jika itu suatu Negara, maka harus melibatkan pemerintah dan rakyatnya. Jadi harus kedua belah pihak.
Radhiyallahu Umar bin Khattab menerima nasehat dari rakyat kecil, yaitu ketika Umar mau meringankan jumlah mahar, lalu dinasehati oleh seorang perempuan kenapa umar membatasi, padahal Al Quran tidak membatasi? Umar mengatakan sekaligus mengaku di depan rakyatnya, tidak ada gengsi, “PEREMPUAN ITU BENAR DAN UMAR SALAH.”
Umar yang begitu hebat, yaitu sampai2 ada 5 peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat Al Quran karena menyetujui pendapat umar, mau dinasehati oleh rakyatnya.

4. Saling nasehat menasehati dengan kesabaran.
Kenapa? Karena kita semua lemah. Karena kita merasakan kesulitan barang sedikit saja, kita sudah tidak sabar. Mendapatkan ancaman kecil saja, terkadang tidak sabar. Untuk itu mari kita bangun tradisi yang sangat mulia, yaitu saling menasehati dengan sabar. Untuk menjaga agar selalu berkesinambungan dalam memproduksi kebaikan, dan itu membutuhkan kesabaran. Kalau orang mengatakan kesabaran itu ada batasnya, maka dari itu mari kita tingkatkan kesabarannya, “ishbiruu wa shoobiruu.”

Jika kita saling menguatkan, maka insya Allah kita akan tetap tegar.
Surat Al 'Ashr ini panduan agar kita tidak rugi dalam hidup ini. Kebiasaan para ulama ketika berkumpul dengan saudara dan teman2nya, mereka belum mau berpisah kalau belum saling membacakan surat Al 'Ashr. Ini adalah Sunnah Rasulullah. Inilah yang harus diabadikan dalam kurikulum pendidikan kita, yaitu membaca surat Al 'Ashr di sekolah-sekolah pada jam terakhir mau berpisah.

07 November 2014

Menghadirkan Kepahlawanan

Ketika manusia menghadapi masalah2 besar, dunia membutuhkan kepahlawanan. Bagaimana Al Quran menghadirkan kepahlawanan di dunia ini?

1. As sajaa’ah (keberanian)
Jangan bermimpi bangsa ini ada yang menjadi pahlawan, jika tidak ada yang mempunyai keberanian. Bagaimana Al Quran berjanji kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada yang murtad, maka akan ada generasi baru. Generasi baru yang bagaimana? Yaitu seperti yang di jelaskan di QS Al Maidah 54.

QS Al Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Kepahlawanan itu tidak akan terjadi bila tidak ada keberanian, dan keberanian adalah anugrah Allah. Pertanyaannya, apakah kita bersungguh2 melanjutkan kepahlawanan ini.

2. Tsabat (berteguh pendirian)
Al Anfal (8) 45: “Hai orang2 yang beriman, apabila kamu bertemu dengan musuh2mu, maka tsabatlah dan berdzikir lah yang banyak, agar kamu menang.”
Tidak tergoda dengan sanjungan manusia, tidak tergoda dengan gelombang fitnah atas dirinya. Dia terus berteguh pada pendiriannya.

Seluruh orang beriman meminta hidupnya selalu tsabat di jalan Allah. Jangankan kita, yang perlu selalu berdoa untuk mendapatkan tsabat, Rasulullah, hamba yang paling disayang Allah pun, di antara doa yang selalu dibacakan beliau adalah, “yaa muqollibal quluuub tsabbit qolbii ala diinik” (Ya Allah yang menguasai hati, tetapkan lah hati ini dalam agamaMu).

3. Cita2 yang kuat, semangat yang tinggi, dan dibarengi dengan tujuan yang mulia.
Pahlawan di dunia ini tidak mengenal sesuatu yang murah. Hidupnya untuk sesuatu yang mahal. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal. Dan dagangan Allah itu adalah syurga.

QS At Taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Dari QS At Taubah 111 di atas, ada sekian banyak pelajaran kehidupan terutama bagi calon2 pahlawan.

Ada suatu uslub (gaya Bahasa) di Al Quran yang mendahulukan dan didahulukan. Ulama tafsir mengatakan, seseorang tidak mengetahui indahnya Al Quran bila tidak tahu mana yang mendahulukan dan mana yang didahulukan.

Pada sebagian besar ayat di Al Quran, dalam mengorbankan, selalu mendahulukan mengorbankan harta lalu jiwa. Tapi di dalam ayat ini, yang didahulukan adalah jiwa terlebih dulu, barulah harta.
Para pahlawan itu membunuh musuhnya dan merekapun gugur dalam perjuangan. Tapi di ayat ini disebutkan “fayuqtaluuna fayaqtuluun” maka mereka terbunuh, dan mereka membunuh. Bagaimana dengan hal ini?

Ulama tafsir mengatakan: para pahlawan itu ketika mereka keluar dari rumahnya untuk berjuang di jalan Allah, cita2nya tidak ingin mendapatkan harta benda, tapi semata2 karena rindu dengan Allah, dan itu tidak akan ada yang memisahkan kecuali dengan kematian. Sehingga niat yang mulia ini disamakan dengan “terbunuh” dan jihad mereka itulah yang “membunuh.”

Pahlawan bukanlah seseorang yang bisa dibeli dengan dunia, mereka hanya menginginkan ridho Allah.
Hadist: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar Islam mendapatkan nilai yang paling tinggi, itu lah pahlawan.”

4. Kejujuran dan benar2 memenuhi janjinya pada Allah
Pahlawan menyadari betul bahwa ketika masih di dalam kandungan ibunya, setiap muslim telah berjanji kepada Allah, bahwa Rabb (Tuhan)nya hanyalah Allah.

Ketika Allah menginstruksikan perintah, dan bagi sebagian manusia perintah itu terasa sangat berat, maka para pahlawan membuktikan janjinya kepada Allah, untuk mengikuti perintah Allah itu.

Al Ahzab 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),”

Di ayat di atas, Allah menambah pujian kepada orang2 yang berjuang di jalan Allah, dengan sebutan rijal. Di antara orang2 beriman ada rijal. Kata rijal di sini bukan sebatas laki2, tapi itu mengungkapkan kepahlawanan.

‘Adamuttaqdim, para pahlawan itu tidak mengubah janjinya kepada Allah. Ini menggambarkan ada pelajaran aqidah, bahwa orang yang berjuang, jangan punya persepsi yang salah, bahwa kalau ia berjuang pasti akan mati. Belum tentu. KEmatian bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang berjuang. Orang berjuang belum tentu mati dalam keadaan berjuang. Bahkan ada pula orang yang hanya di rumah saja juga bisa meninggal. Kalau memang kita semua akan meninggal, kenapa kita tidak memilih cara mati yang mulia.