Setiap manusia akan mendapatkan Kitab (buku catatan yang mencakup
seluruh amal perbuatan, tiada sedikitpun yang terlewatkan), yang
mencakup perbuatan mata, hati, dan seluruh jasad kita.
Cara
menerimanya berbeda antara orang mukmin, kafir, munafik. Tapi kajian
kali ini tentang bagaimana cara orang mukmin menerima Kitab.
QS
Al Insyiqooq 7 – 9: “Ada pun orang yang diberikan Kitabnya dengan tangan
kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab sebentar, yang mudah, dan
ia akan kembali kepada keluarganya dengan bergembira (bersenang2).”
Betapa bahagianya orang beriman ketika menerima Kitabnya. Karena dia
selamat dari terbongkarnya keburukannya. Untuk menggambarkan bagaimana
bahagianya, sampai2 ia berkata kepada orang2 di sekitarnya, “baca Kitab
saya…”
QS Al Haaqqah 19-24: “Adapun orang-orang yang kitabnya
diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah
kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan
menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan
yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (kepada
mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang
telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Itulah
kebahagiaan yang sebenarnya, ketika mukmin mendapatkan seluruh catatan
amalnya, sampai2 ia menyuruh orang2 di sekitarnya membacanya.
Ketika kita mengetahui orang2 beriman di tempat hisab berhasil melalui
audit Allah, apa kemudian yang terjadi? Ada yang disebut dengan Al Mizan
(timbangan).
QS Al Anbiya 47 : “Kami akan memasang timbangan
yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang
sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami
mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan.”
Al Waznu dan Al Miizan disebut dalam Al Quran dalam
23 ayat. Ini menggambarkan betapa kepedulian Al Qur’an terhadap Al
Mizan. Ini bukan hanya di akhirat saja, tapi juga agar kita di dunia pun
adil peristiwa di dunia ini. Meninbang peristiwa, menimbang manusia,
dsb. Jangan gunakan hawa nafsu. Ketidakadilan itu lah yang menyebabkan
kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berbahagia.
Seperti apa Mizan timbangan yang di akhirat?
Ternyata itu bukan hanya kiasan, tapi timbangan yang sebenar2nya.
Hadist dari Salman, Nabi mengatakan “Diletakkan mizan di hari kiamat,
seandainya langit dan bumi diletakkan dalam timbangan itu, pastilah
cukup. Maka malikat berkata, “Wahai Tuhanku, untuk apa timbangan ini?”
Allah menjawab, “Untuk siapa saja saya kehendaki dari makhlukKu”
Sampai ketika malaikat melihat besarnya timbangan, mengatakan, “Maha
Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya kami belum benar2 menyembah Engkau
dengan sebenar2 menyembah.”
Padahal malaikat itu selalu beribadah setiap saat, masih merasa kurang ibadahnya, apalagi kita yang suka malas.
Bagaimana detilnya mizan timbangan Allah. Dan bagaimana keadilan mizan tersebut?
Mizan timbangan Allah begitu besar, luas. Bagaimana ketelitian timbangan Allah.
Siapa pun orangnya tidak akan terzholimi. Ini menggambarkan telitinya
dan adilnya Allah. Bahwa putusan Allah itu adil seadil2nya. Setiap orang ditimbang dan timbangan itu mencakup seluruh amal perbuatannya.
Kalau di dunia ini kita menyaksikan ada timbangan yang lurus (benar),
dan ada juga yang curang, tapi di akhirat tidak. Al Quran menggambarkan
mizan dengan jelas
QS Al A’raf 8 – 9: “Timbangan pada hari itu
ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa
yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang
merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari
ayat-ayat Kami.”
Di dalam AQ itu tidak ada yang mengarang2 saja,
semuanya sesuai dengan logika manusia. Mizan itu secara riil digambarkan
dalam Hadist yang cukup panjang, tapi di sini disajikan sebagian saja:
“Timbangan2 itu dilakukan di hari kiamat. Diletakkan amal2
perbuatannya, maka timbangan itu cenderung kepada keburukan2, maka
setelah ditimbang, seseorang itu dikirim ke neraka, ketika menoleh ke
belakang ada suara yang teriak yang mengatakan “Jangan tergesa2 (sampai 2
kali), jangan ke neraka dulu,” karena dia masih punya amal kebaikan
yang belum ditimbangkan, maka didatangkan kartu yang bertuliskan Laa
ilaa ha illallaah, maka kartu itu ditaruh di timbangan tersebut, maka
kartu itu menambah timbangan kebaikan.”
Ternyata yang beruntung itu hanya orang2 Beriman.
Al A’raf 8: “faman tsaqulat mawaa ziinuhuu faulaaa ika humul muflihuun.”
Di sini Allah menyajikan dzhomir “hum” dan ada “muflihun” ini adalah
penegasan, ketika kita mendengar kata sukses, beruntung, menang. Maka
kemenangan yang sebenarn2nya itu adalah kemenangan yang diraih orang2
beriman ketika di dalam timbangan Allah nanti timbangannya berat.
Apa saja perbuatan2 yang memperberat timbangan di akhirat nanti, insya Allah akan kita bahas di pertemuan2 berikutnya.
Resume Tafsir Al Hayah, Dr Ahzami Samiun Jazuli di TV One (written by Femina Sagita Borualogo)
22 November 2014
19 November 2014
Kehidupan Orang2 Beriman di Tempat2 Hari Kiamat
QS Ash Shooffaat 24: “Waqifuuhum innahum mas uu luun (Dan tahanlah
mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya)”
Dikatakan dalam buku2 tafsir, waqifuuhum innahum mas uu luun, ditafsirkan menjadi “kita akan dihentikan lalau ditanyakan amalan, ucapan, dan aqidah2 yang keluar di dunia.” Berhentikanlah mereka, karena sesungguhnya seluruh kegiatan mereka ketika hidup di dunia akan diaudit, dihisab.
Apa itu hisab?
Hisab itu, hamba2 Allah berdiri di depan pengadilan Allah, dan mereka diberitahukan seluruh yang mereka kerjakan di dunia. Semua akan Allah beritahukan, akan dihadirkan oleh Allah SWT. Apakah perbuatan yang berupa keimanan, kekufukaran, maksiat, apa saja. Semua akan dibalas, apakah berupa pahala, dan siksa.
Kalau mereka saleh, akan menerima buku catatan amal dengan tangan kanan, bila mereka orang yang berbuat maksiat, akan menerima buku catatan dengan tangan kiri.
Bagaimana orang2 beriman ketika menghadapi hisab Allah SWT?
Pada dasarnya hisab itu ada yang sulit, dan ada pula yang mudah. Yang mudah itu adalah penghargaan dari Allah, ada juga yang dipermalukan sebagai balasan perbuatan mereka karena dulunya mereka mempemalukan mukmin di bumi. Ada yang dapat kemudahan dari Allah, ada orang yang Allah tidak berkenan melihatnya. Itu suasana2 saat hisab.
Orang beriman yang dihisab dengan mudah itu, amal perbuatannya diperlihatkan tanpa ada perdebatan, lewat begitu saja, tidak diperdebatkan. Hisaaban yasiiro (hisab yang sebentar) dan disegerakan untuk masuk syurga. Kebaikan2 mereka diterima oleh Allah. Dan kesalahan2 mereka diampuni oleh Allah. Jadi orang2 beriman bisa juga melakukan kesalahan, tapi kemudian mereka mendapatkan ampunan dari Allah. Semoga kita saat dihisab nanti, termasuk yang diampuni dosa2 kita.
Hadist diriwayatkan dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah berkata:
Tidaklah setiap manusia yang dihisab di hari kiamat, kecuali ia binasa,
Ketika itu aku (aisyah) bertanya, ya Rasulullah bukankah Allah berfirman; barangsiapa yang diberikan kitabnya dengan tangan kanan, maka dia dihisab dengan hisab yang mudah.
Maka Nabi bersabda: itulah yang disebut dengan ‘arb.”
Setiap orang yang diuji oleh Allah, dia pasti disiksa oleh Allah.
Di hari kiamat nanti, ada satu kelompok orang2 beriman yang masuk syurga tanpa melalui proses yang bernama hisab. Siapa mereka itu?
Hadist diriwayatakan Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas: "Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: 'Ini adalah Musa dan kaumnya,' lalu dikatakan, 'Perhatikanlah ke ufuk.' Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.' Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, 'Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang.”
Ini dalil bahwa di antara ummat nabi SAW ada 70 ribu orang yang nanti masuk syurga tanpa melalui hisab terlebih dahulu.
Mendengar seperti in, sahabat bernama Ukaasah, berkata “Doakan agar saya termasuk mereka”
Rasulullah berkata, “kamu termasuk mereka.”
Ada seseorang memohon juga, untuk didoakan, lalu Rasulullah menjawab, “Kamu sudah kedahuluan oleh Ukaasah.”
Minta didoakan oleh orang2 yang sholeh, seperti yang dilakukan oleh Ukaasah kepada Nabi, adalah diperbolehkan.
Kalau kita merenungi ayat2 AQ kita akan menjumpai begitu banyak ayat berbicara tentang hisab.
Al Hijr 92-92: “Maka demi Tuhanmu, sungguh benar2 kami akan bertanya kepada mereka mengenai seluruh apa yang mereka kerjakan.”
Ketika risalah diinul Islam disampaikan ke manusia, yang nantinya ditanyakan tanggung jawab penyampaian dakwah Islam bukan hanya para Nabi saja tapi juga ummatnya. Seluruh umat manusia, Rasulnya, ummatnya akan ditanya seluruhnya oleh Allah.
QS Al A’Raf 6: “pendengaran kita, penglihatan kita, hati kita, semua ditanya oleh Allah. Maka bertaqwalah kita semua kepada Allah.”
Jangan sekali2 telinga kita, mata kita, mulut kita, berbuat maksiat, karena semua akan ditanya oleh Allah.
Semua bagian tubuh manusia akan dihisab. Bila rambut kita rawat, fisik kita rawat, tapi hati kita tidak dirawat, lalu bagaimana pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti? Bagaimana cara merawat hati? Yaitu dengan selalu mengingat Allah.
Dan seluruh nikmat yang kita terima pasti akan ditanyakan, baik itu nikmat yang bernama umur, ilmu, harta, fisik, jabatan, semua akan ditanya oleh Allah.
Apa yang pertama dihisab oleh Allah nanti, agar ini menjadi perhatian kita.
1. Nabi bersabda: “Amal manusia yang pertama dihisab di hari kiamat adalah sholat,”
Sehingga sholat menjadi prioritas utama dalam hidup ini. Memang kita bekerja, bermasyarakat, berkeluarga, dsbnya, tapi ketika adzan berkumandang, kita bersegera mendirikan sholat.
Nabi sangat romantis terhadap istri2nya, tapi begitu mendengar panggilan sholat, Nabi cepat berdiri merespon panggilan Allah, sampai2 seolah2 beliau tidak mengenal istrinya.
2. Darah.
Jangan sampai kita menganggap diri kita umat Islam, tapi kita menggangagap murah darah umat Islam. Jangan karena kekuasaan, seseorang tega menuduh kaum muslimin dengan tuduhan2 yang keji.
Di dunia ini kehidupan aakan tenang jika kita tidak berani membunuh darah saudaranya, baik secara fisik maupun secara tuduhan2 keji.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah sebagai orang beriman, sehingga hisab kita nanti di akhirat termasuk hisab yang sebentar saja. Aamiin..
Dikatakan dalam buku2 tafsir, waqifuuhum innahum mas uu luun, ditafsirkan menjadi “kita akan dihentikan lalau ditanyakan amalan, ucapan, dan aqidah2 yang keluar di dunia.” Berhentikanlah mereka, karena sesungguhnya seluruh kegiatan mereka ketika hidup di dunia akan diaudit, dihisab.
Apa itu hisab?
Hisab itu, hamba2 Allah berdiri di depan pengadilan Allah, dan mereka diberitahukan seluruh yang mereka kerjakan di dunia. Semua akan Allah beritahukan, akan dihadirkan oleh Allah SWT. Apakah perbuatan yang berupa keimanan, kekufukaran, maksiat, apa saja. Semua akan dibalas, apakah berupa pahala, dan siksa.
Kalau mereka saleh, akan menerima buku catatan amal dengan tangan kanan, bila mereka orang yang berbuat maksiat, akan menerima buku catatan dengan tangan kiri.
Bagaimana orang2 beriman ketika menghadapi hisab Allah SWT?
Pada dasarnya hisab itu ada yang sulit, dan ada pula yang mudah. Yang mudah itu adalah penghargaan dari Allah, ada juga yang dipermalukan sebagai balasan perbuatan mereka karena dulunya mereka mempemalukan mukmin di bumi. Ada yang dapat kemudahan dari Allah, ada orang yang Allah tidak berkenan melihatnya. Itu suasana2 saat hisab.
Orang beriman yang dihisab dengan mudah itu, amal perbuatannya diperlihatkan tanpa ada perdebatan, lewat begitu saja, tidak diperdebatkan. Hisaaban yasiiro (hisab yang sebentar) dan disegerakan untuk masuk syurga. Kebaikan2 mereka diterima oleh Allah. Dan kesalahan2 mereka diampuni oleh Allah. Jadi orang2 beriman bisa juga melakukan kesalahan, tapi kemudian mereka mendapatkan ampunan dari Allah. Semoga kita saat dihisab nanti, termasuk yang diampuni dosa2 kita.
Hadist diriwayatkan dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah berkata:
Tidaklah setiap manusia yang dihisab di hari kiamat, kecuali ia binasa,
Ketika itu aku (aisyah) bertanya, ya Rasulullah bukankah Allah berfirman; barangsiapa yang diberikan kitabnya dengan tangan kanan, maka dia dihisab dengan hisab yang mudah.
Maka Nabi bersabda: itulah yang disebut dengan ‘arb.”
Setiap orang yang diuji oleh Allah, dia pasti disiksa oleh Allah.
Di hari kiamat nanti, ada satu kelompok orang2 beriman yang masuk syurga tanpa melalui proses yang bernama hisab. Siapa mereka itu?
Hadist diriwayatakan Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas: "Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: 'Ini adalah Musa dan kaumnya,' lalu dikatakan, 'Perhatikanlah ke ufuk.' Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.' Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, 'Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang.”
Ini dalil bahwa di antara ummat nabi SAW ada 70 ribu orang yang nanti masuk syurga tanpa melalui hisab terlebih dahulu.
Mendengar seperti in, sahabat bernama Ukaasah, berkata “Doakan agar saya termasuk mereka”
Rasulullah berkata, “kamu termasuk mereka.”
Ada seseorang memohon juga, untuk didoakan, lalu Rasulullah menjawab, “Kamu sudah kedahuluan oleh Ukaasah.”
Minta didoakan oleh orang2 yang sholeh, seperti yang dilakukan oleh Ukaasah kepada Nabi, adalah diperbolehkan.
Kalau kita merenungi ayat2 AQ kita akan menjumpai begitu banyak ayat berbicara tentang hisab.
Al Hijr 92-92: “Maka demi Tuhanmu, sungguh benar2 kami akan bertanya kepada mereka mengenai seluruh apa yang mereka kerjakan.”
Ketika risalah diinul Islam disampaikan ke manusia, yang nantinya ditanyakan tanggung jawab penyampaian dakwah Islam bukan hanya para Nabi saja tapi juga ummatnya. Seluruh umat manusia, Rasulnya, ummatnya akan ditanya seluruhnya oleh Allah.
QS Al A’Raf 6: “pendengaran kita, penglihatan kita, hati kita, semua ditanya oleh Allah. Maka bertaqwalah kita semua kepada Allah.”
Jangan sekali2 telinga kita, mata kita, mulut kita, berbuat maksiat, karena semua akan ditanya oleh Allah.
Semua bagian tubuh manusia akan dihisab. Bila rambut kita rawat, fisik kita rawat, tapi hati kita tidak dirawat, lalu bagaimana pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti? Bagaimana cara merawat hati? Yaitu dengan selalu mengingat Allah.
Dan seluruh nikmat yang kita terima pasti akan ditanyakan, baik itu nikmat yang bernama umur, ilmu, harta, fisik, jabatan, semua akan ditanya oleh Allah.
Apa yang pertama dihisab oleh Allah nanti, agar ini menjadi perhatian kita.
1. Nabi bersabda: “Amal manusia yang pertama dihisab di hari kiamat adalah sholat,”
Sehingga sholat menjadi prioritas utama dalam hidup ini. Memang kita bekerja, bermasyarakat, berkeluarga, dsbnya, tapi ketika adzan berkumandang, kita bersegera mendirikan sholat.
Nabi sangat romantis terhadap istri2nya, tapi begitu mendengar panggilan sholat, Nabi cepat berdiri merespon panggilan Allah, sampai2 seolah2 beliau tidak mengenal istrinya.
2. Darah.
Jangan sampai kita menganggap diri kita umat Islam, tapi kita menggangagap murah darah umat Islam. Jangan karena kekuasaan, seseorang tega menuduh kaum muslimin dengan tuduhan2 yang keji.
Di dunia ini kehidupan aakan tenang jika kita tidak berani membunuh darah saudaranya, baik secara fisik maupun secara tuduhan2 keji.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah sebagai orang beriman, sehingga hisab kita nanti di akhirat termasuk hisab yang sebentar saja. Aamiin..
18 November 2014
Kehidupan Orang2 Beriman di Rumah2 Hari Kiamat
Apa yang dimaksud dengan Manaazil (rumah2 hari kiamat)? Manazil
adalah rumah2 yang menjadi tempat menetap orang2 beriman, sebelum orang2
beriman itu menetap di syurga, yang dimulai dari di alam kubur (awal
dari hari akhirat),
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, "Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Jika disebutkan tentang surga dan neraka, engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah].
Yang harus kita Imani:
1. Hari kebangkitan dan sifat2nya.
Banyak ayat2 AQ berbicara ttg hari dibangkitkan (Al Ba’tsu). Tanah yang dulunya kering, tandus, ketika hujan turun, ia kembali subur. Ini tandanya bahwa hari kebangkitan itu ada, yaitu ada kehidupan setelah kematian.
QS Al A’raf 57: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
QS Al Hajj 5-7: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
Dalil2 di atas membuktikan bahwa Al Ba’tsu (hari dibangkitkan) itu ada.
Bagaimana kehidupan orang2 beriman di akhirat, khususnya di rumah2 sebelum mereka menetap di syurga selama2nya.
Hadist: “Setiap hamba nanti dibangkitkan dari kuburnya, sesuai keadaannya dulu saat meninggal dunia”
Hadist dirayatkan Imam Muslim dalam Bab agar kita Berbaik Sangka kepada Allah ketika Sakratul Maut: “Dibangkitkan setiap hamba sesuai dengan keadaan dia mati.”
Ketika terjadi bencana, tsunami dsbnya, banyak yang meninggal, bagaimana keadaannya saat itu? Kalau dia meninggal saat sedang sholat, baca Al Quran, Alhamdulillah. Tapi kalau ketika ia sedang maksiat, na’udzu billah.
Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bersih. Menggambarkan betapa orang2 beriman itu, tubuhnya tidak ada rambut, dua pipinya bersih tidak ada rambut. Orang yang sedang ihram, kemudian dia meninggal dunia, nanti dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sedang talbiyah (Labbaik Alloohumma Labbaik). Maka dari itu, dalam keadaan apa pun di dunia ini, kita harus dalam keadaan beribadah, akrena kita khawatir kematian selalu datang dengan mendadak.
Tanda2 hari kiamat sudah dekat itu, banyaknya orang2 yang meninggal mendadak. Tidak sedikit orang yang baru olahraga kemudian meninggal, baru mengisi seminar ia meninggal, yang orang2 di sekitarnya tidak mengira ia akan meninggal.
Mari lah kita selalu dalam keadaan taat pada Allah, sehingga dalam keadaan beribadah seperti orang yang berihram tadi itu meninggal.
Dari Ibnu Abbas ra, seseorang berdiri di wukuf Arofah bersama Rasulullah, seseorang dimandikan, lalu dikafani, dan selanjut2nya. Lalu terakhir Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang itu dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”
Al Hasyr, di mana manusia dikumpulkan di rumah yang bernama Al Hasyr, atau biasa juga disebut Padang Mahsyar. Di sana seluruh manusia dan jin digiring, dan dikumpulkan untuk dihitung amalnya. Di situlah seluruh jin dan manusia mengetahui ke mana nanti tempat selanjutnya.
Seperti apa penjelasan Al Quran ketika berbicara tentang hari Yaumil Hasyr?
QS Al Kahfi 47: “Dan kami kumpulkan mereka, maka Kami tidak tinggalkan seorang pun.”
Semua dikumpulkan oleh Allah, mereka dihisab, mereka ditimbang amalnya.
Ketika kita semua dikumpulkan oleh Allah untuk diaudit. Bukankah kita orang beriman, malu dan takut untuk tidak lagi bermaksiat. Semua manusia dan jin akan menyaksikan.
Apabila ada orang yang berkata, apa gunanya membicarakan hari akhirat. Seolah-olah apa yang dikerjakannya di dunia ini tidak ada hubungannya dengan kondisinya di akhirat nanti.
Keimanan kita akan adanya hari akhirat sangat berpengaruh positif untuk kehidupan dunia kita.
Bukankah orang2 yg takut berbuat maksiat, tidak berani korupsi, tidak berani zina, karena dia takut dengan kehidupan akhirat? Justru orang2 yang tidak beriman adanya hari akhirat, itu berani maksiat.
Secara umum manusia itu dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak pakai alas kaki dan sandang. Seperti yang dijelaskan dalama hadist berikut:
“Sesungguhnya kamu dikumpulkan oleh Allah dalam keadaan tidak pakai sandal dan pakaian dan tidak disunnat, manusia kembali seperti di awal dia diciptakan oleh Allah.
Siapa yang pertama diberikan pakaian? Dia adalah Nabi Ibrahim as.”
Bagaimana keadaan orang2 beriman di mahsyar itu?
Orang2 yang beriman, yang imannya bersih, yang tidak ada syirik, apakah itu mempersekutukan Allah dengan manusia, dengan jin, dengan dukun, dll, kalau imannya bersih dari itu semuanya, maka mereka akan merasakan aman di hari akhirat itu..
QS Al An ‘am 82: “Orang2 yang beriman, dan mereka tidak menodai imannya dengan kedzholiman (yang dimaksud ini adalah syirik), maka mereka itulah yang mendapat rasa aman, dan mereka itu lah yang mendapat petunjuk Allah SWT.”
Ini ayat yang mendasari bahwa orang2 beriman aman di dunia dan akhirat. Semoga kita menjadi orang2 yang mendapatkan rasa aman di hari akhirat nanti, jauh dari siksa. Aamiin.
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , berkata, "Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Jika disebutkan tentang surga dan neraka, engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah].
Yang harus kita Imani:
1. Hari kebangkitan dan sifat2nya.
Banyak ayat2 AQ berbicara ttg hari dibangkitkan (Al Ba’tsu). Tanah yang dulunya kering, tandus, ketika hujan turun, ia kembali subur. Ini tandanya bahwa hari kebangkitan itu ada, yaitu ada kehidupan setelah kematian.
QS Al A’raf 57: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
QS Al Hajj 5-7: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
Dalil2 di atas membuktikan bahwa Al Ba’tsu (hari dibangkitkan) itu ada.
Bagaimana kehidupan orang2 beriman di akhirat, khususnya di rumah2 sebelum mereka menetap di syurga selama2nya.
Hadist: “Setiap hamba nanti dibangkitkan dari kuburnya, sesuai keadaannya dulu saat meninggal dunia”
Hadist dirayatkan Imam Muslim dalam Bab agar kita Berbaik Sangka kepada Allah ketika Sakratul Maut: “Dibangkitkan setiap hamba sesuai dengan keadaan dia mati.”
Ketika terjadi bencana, tsunami dsbnya, banyak yang meninggal, bagaimana keadaannya saat itu? Kalau dia meninggal saat sedang sholat, baca Al Quran, Alhamdulillah. Tapi kalau ketika ia sedang maksiat, na’udzu billah.
Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bersih. Menggambarkan betapa orang2 beriman itu, tubuhnya tidak ada rambut, dua pipinya bersih tidak ada rambut. Orang yang sedang ihram, kemudian dia meninggal dunia, nanti dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sedang talbiyah (Labbaik Alloohumma Labbaik). Maka dari itu, dalam keadaan apa pun di dunia ini, kita harus dalam keadaan beribadah, akrena kita khawatir kematian selalu datang dengan mendadak.
Tanda2 hari kiamat sudah dekat itu, banyaknya orang2 yang meninggal mendadak. Tidak sedikit orang yang baru olahraga kemudian meninggal, baru mengisi seminar ia meninggal, yang orang2 di sekitarnya tidak mengira ia akan meninggal.
Mari lah kita selalu dalam keadaan taat pada Allah, sehingga dalam keadaan beribadah seperti orang yang berihram tadi itu meninggal.
Dari Ibnu Abbas ra, seseorang berdiri di wukuf Arofah bersama Rasulullah, seseorang dimandikan, lalu dikafani, dan selanjut2nya. Lalu terakhir Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang itu dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”
Al Hasyr, di mana manusia dikumpulkan di rumah yang bernama Al Hasyr, atau biasa juga disebut Padang Mahsyar. Di sana seluruh manusia dan jin digiring, dan dikumpulkan untuk dihitung amalnya. Di situlah seluruh jin dan manusia mengetahui ke mana nanti tempat selanjutnya.
Seperti apa penjelasan Al Quran ketika berbicara tentang hari Yaumil Hasyr?
QS Al Kahfi 47: “Dan kami kumpulkan mereka, maka Kami tidak tinggalkan seorang pun.”
Semua dikumpulkan oleh Allah, mereka dihisab, mereka ditimbang amalnya.
Ketika kita semua dikumpulkan oleh Allah untuk diaudit. Bukankah kita orang beriman, malu dan takut untuk tidak lagi bermaksiat. Semua manusia dan jin akan menyaksikan.
Apabila ada orang yang berkata, apa gunanya membicarakan hari akhirat. Seolah-olah apa yang dikerjakannya di dunia ini tidak ada hubungannya dengan kondisinya di akhirat nanti.
Keimanan kita akan adanya hari akhirat sangat berpengaruh positif untuk kehidupan dunia kita.
Bukankah orang2 yg takut berbuat maksiat, tidak berani korupsi, tidak berani zina, karena dia takut dengan kehidupan akhirat? Justru orang2 yang tidak beriman adanya hari akhirat, itu berani maksiat.
Secara umum manusia itu dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak pakai alas kaki dan sandang. Seperti yang dijelaskan dalama hadist berikut:
“Sesungguhnya kamu dikumpulkan oleh Allah dalam keadaan tidak pakai sandal dan pakaian dan tidak disunnat, manusia kembali seperti di awal dia diciptakan oleh Allah.
Siapa yang pertama diberikan pakaian? Dia adalah Nabi Ibrahim as.”
Bagaimana keadaan orang2 beriman di mahsyar itu?
Orang2 yang beriman, yang imannya bersih, yang tidak ada syirik, apakah itu mempersekutukan Allah dengan manusia, dengan jin, dengan dukun, dll, kalau imannya bersih dari itu semuanya, maka mereka akan merasakan aman di hari akhirat itu..
QS Al An ‘am 82: “Orang2 yang beriman, dan mereka tidak menodai imannya dengan kedzholiman (yang dimaksud ini adalah syirik), maka mereka itulah yang mendapat rasa aman, dan mereka itu lah yang mendapat petunjuk Allah SWT.”
Ini ayat yang mendasari bahwa orang2 beriman aman di dunia dan akhirat. Semoga kita menjadi orang2 yang mendapatkan rasa aman di hari akhirat nanti, jauh dari siksa. Aamiin.
17 November 2014
Derajat Syuhada di Akhirat dan Jamaah yang termasuk Syuhada
Derajat Syuhada di Akhirat:
1. Di syurga itu ternyata ada beberapa tingkatan derajat/kedudukan. Derajat orang2 syahid di medan jihad itu memiliki seratus tingkat di akhirat.
Hadist: ”Sesungguhnya di syurga terdapat 100 tingkatan yang disediakan Allah bagi yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan tingkatan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian minta kepada Allah mintalah Surga Firdaus”
Ini dalil bahwasnya orang2 yang sayihd, mendapatkan 100 derajat di syurga
2. Begitu mujahid tewas di medan jihad, di saat itulah seluruh dosanya diampuni Allah, kecuali hutang. Maka berhati2lah dengan hutang. Siapa sih manusia di dunia ini tidak ingin diampuni oleh Allah?
Hadist: dari Amr ibnu Ash, Rasul bersabda: “bagi yang syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. Tewas di medan jihad bisa menghapuskan seluruh dosa kecuali hutang.”
3. Warna luka orang yang darah itu warna darah, merah. Tapi harumnya, seperti harum misik, yang terwangi.
Hadist: “Darahnya itu merah, lukanya merah, tapi harumnya adalah harum minyak misik.”
4. Diselamatkan dari adzab kubur
5. Rasa aman di saat hari kiamat
6. Diberikan mahkota kehormatan di kepalanya bahwa dia berbeda dengan yang lainnya
7. Dikawinkan oleh Allah dengan 72 bidadari
8. Diberikan hak untuk memberikan syafaat pertolongan 70 keluarganya, atas izin Allah.
9. Mereka disebut oleh Allah, sejajar dengan para Nabi.
QS An Nisa 69-70: orang2 yang syahid menjadi temannya pada Nabi, dekat dengan Nabi,
Siapa yang tidak bangga ketika namanya disebut bersama nama para Nabi,
Lalu, siapa sajakah yang disebut syahid?
Apakah setiap yang tewas, disebut syahid?
Di antara orang2 yang disebut oleh Islam sebagai syahid, ternyata ada banyak:
1. Terkena wabah tho’un
2. Orang yang meninggal karena sakit perut
3. Orang yang mati karena tenggelam
4. Orang yang mati karena terkena bangunan atau lainnya.
5. Orang yang syahid di jalan Allah SWT
6. Orang yang terbunuh secara zholim, dalam rangka mempertahankan harta bendanya.
Hadist: “Barangsiapa yang terbunuh karena menjaga harta bendanya, maka dia itulah orang syahid.”
7. Orang yang terbunuh, dalam rangka mempertahankan jiwanya.
Ini bukan orang yang berantem. Dia terbunuh karena membela jiwanya, atau kehormatan dirinya, anaknya, atau keluarganya. Insya Allah dia meninggal dalam keadaan syahid.
8. Orang yang jatuh dari kendaraannya, lalu mati, maka ia syahid.
Tujuan berkendaraannya adalah dalam rangka berjuang di jalan Allah.
9. Orang yang mati karena terkena penyakit lambung, maka ia juga syahid.
10. Seorang ibu yang meninggal, di perutnya masih ada anak, artinya, ia meninggal karena melahirkan.
Selain orang2 yang berperang di jalan Allah, masih ada syahid2 lainnya. Ketika sama2 disebut syahid, apakah pahalanya sama, statusnya sama?
Sudah tentu berbeda. Kita harus mampu memahami Islam secara menyeluruh, dengan melihat kajian lainnya, setelah melihat ayat2 dan hadist2 yang begitu banyak.
Pendapat Imam Nawawi, ketahuilah orang yang syahid itu ada 3 macam:
1. orang yang terbunuh disebabkan memerangi orang2 yang kafir. Hukumnya di dunia tidak dimandikan. Kenapa tidak dimandikan? Karena masih hidup, bersih. Bahkan dikuburkan bersama pakaian yang ia pakai. Tidak perlu juga disholati karena sudah dapat garansi dari Allah pasti masuk syurga.
2. mereka dapat pahala seperti orang syahid, tapi ketika ia meninggal, ia mendapatkan hukum di dunia, yaitu dimandikan dan disholati, sama seperti orang beriman lainnya. Tapi pahala mereka di akhirat adalah pahala orang yang syahid. Ini orang yang mati karena tenggelam, sakit perut, melahirkan, dsbnya.
3. Orang yang curang dalam pembagian ghonimah (harta rampasan perang)-nya. Ketika ia mati, ia tidak dimandikan dan disholati, karena secara kasat mata ia seperti syahid di medan perang, tapi pahala di akhirat tidak sama, karena ia tidak jujur dalam pembagian ghonimah.
1. Di syurga itu ternyata ada beberapa tingkatan derajat/kedudukan. Derajat orang2 syahid di medan jihad itu memiliki seratus tingkat di akhirat.
Hadist: ”Sesungguhnya di syurga terdapat 100 tingkatan yang disediakan Allah bagi yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan tingkatan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian minta kepada Allah mintalah Surga Firdaus”
Ini dalil bahwasnya orang2 yang sayihd, mendapatkan 100 derajat di syurga
2. Begitu mujahid tewas di medan jihad, di saat itulah seluruh dosanya diampuni Allah, kecuali hutang. Maka berhati2lah dengan hutang. Siapa sih manusia di dunia ini tidak ingin diampuni oleh Allah?
Hadist: dari Amr ibnu Ash, Rasul bersabda: “bagi yang syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. Tewas di medan jihad bisa menghapuskan seluruh dosa kecuali hutang.”
3. Warna luka orang yang darah itu warna darah, merah. Tapi harumnya, seperti harum misik, yang terwangi.
Hadist: “Darahnya itu merah, lukanya merah, tapi harumnya adalah harum minyak misik.”
4. Diselamatkan dari adzab kubur
5. Rasa aman di saat hari kiamat
6. Diberikan mahkota kehormatan di kepalanya bahwa dia berbeda dengan yang lainnya
7. Dikawinkan oleh Allah dengan 72 bidadari
8. Diberikan hak untuk memberikan syafaat pertolongan 70 keluarganya, atas izin Allah.
9. Mereka disebut oleh Allah, sejajar dengan para Nabi.
QS An Nisa 69-70: orang2 yang syahid menjadi temannya pada Nabi, dekat dengan Nabi,
Siapa yang tidak bangga ketika namanya disebut bersama nama para Nabi,
Lalu, siapa sajakah yang disebut syahid?
Apakah setiap yang tewas, disebut syahid?
Di antara orang2 yang disebut oleh Islam sebagai syahid, ternyata ada banyak:
1. Terkena wabah tho’un
2. Orang yang meninggal karena sakit perut
3. Orang yang mati karena tenggelam
4. Orang yang mati karena terkena bangunan atau lainnya.
5. Orang yang syahid di jalan Allah SWT
6. Orang yang terbunuh secara zholim, dalam rangka mempertahankan harta bendanya.
Hadist: “Barangsiapa yang terbunuh karena menjaga harta bendanya, maka dia itulah orang syahid.”
7. Orang yang terbunuh, dalam rangka mempertahankan jiwanya.
Ini bukan orang yang berantem. Dia terbunuh karena membela jiwanya, atau kehormatan dirinya, anaknya, atau keluarganya. Insya Allah dia meninggal dalam keadaan syahid.
8. Orang yang jatuh dari kendaraannya, lalu mati, maka ia syahid.
Tujuan berkendaraannya adalah dalam rangka berjuang di jalan Allah.
9. Orang yang mati karena terkena penyakit lambung, maka ia juga syahid.
10. Seorang ibu yang meninggal, di perutnya masih ada anak, artinya, ia meninggal karena melahirkan.
Selain orang2 yang berperang di jalan Allah, masih ada syahid2 lainnya. Ketika sama2 disebut syahid, apakah pahalanya sama, statusnya sama?
Sudah tentu berbeda. Kita harus mampu memahami Islam secara menyeluruh, dengan melihat kajian lainnya, setelah melihat ayat2 dan hadist2 yang begitu banyak.
Pendapat Imam Nawawi, ketahuilah orang yang syahid itu ada 3 macam:
1. orang yang terbunuh disebabkan memerangi orang2 yang kafir. Hukumnya di dunia tidak dimandikan. Kenapa tidak dimandikan? Karena masih hidup, bersih. Bahkan dikuburkan bersama pakaian yang ia pakai. Tidak perlu juga disholati karena sudah dapat garansi dari Allah pasti masuk syurga.
2. mereka dapat pahala seperti orang syahid, tapi ketika ia meninggal, ia mendapatkan hukum di dunia, yaitu dimandikan dan disholati, sama seperti orang beriman lainnya. Tapi pahala mereka di akhirat adalah pahala orang yang syahid. Ini orang yang mati karena tenggelam, sakit perut, melahirkan, dsbnya.
3. Orang yang curang dalam pembagian ghonimah (harta rampasan perang)-nya. Ketika ia mati, ia tidak dimandikan dan disholati, karena secara kasat mata ia seperti syahid di medan perang, tapi pahala di akhirat tidak sama, karena ia tidak jujur dalam pembagian ghonimah.
16 November 2014
Keistimewaan Kehidupan Orang2 Syahid
Orang-orang yang syahid itu memang istimewa, sehingga kita akan memaparkan di bawah ini keistimewaan2nya.
QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:
1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.
2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.
3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.
Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?
QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.
1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.
2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.
3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?
Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.
QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.
Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.
Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.
QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:
1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.
2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.
3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.
Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?
QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.
1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.
2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.
3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?
Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.
QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.
Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.
Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.
15 November 2014
Kehidupan Orang2 yang Syahid
Bagaimana kehidupan orang2 yang syahid di akhirat nanti. Tapi
sebelumnya, mari kita pahami makna syahid. Syahid adalah orang yang
terbunuh tewas di jalan Allah. Dia tewas karena berjuang di jalan Allah,
bukan di jalan lainnya. Bentuk jamak dari syahid adalah syuhada.
Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.
Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”
Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.
1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.
2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.
3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”
4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.
5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah
QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.
QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.
Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”
Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.
Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”
Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.
Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.
Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”
Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.
1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.
2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.
3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”
4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.
5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah
QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.
QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.
Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”
Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.
Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”
Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.
08 November 2014
Pedoman Kehidupan (Tafsir QS Al 'Ashr)
Surat Al 'Ashr, surat yang pendek, namun kandungannya luar biasa.
“Seandainya Allah SWT di dalam Al Quran hanya menurunkan surat Al 'Ashr,
kandungannya sudah cukup,” kata Imam Syafi’i. Apa yang menjadikan Imam
Syafi’I kagum dengan Surat Al 'Ashr?
1. Allah bersumpah dengan waktu.
Ketika ada makhluk dipakai untuk bersumpah oleh Allah, itu tandanya hal itu adalah penting.
Waktu bagaikan pedang. Kalau kita bisa menggunakan untuk mendayagunakan kebaikan, maka kita bisa mendapatkan kebaikan, jika tidak, maka sebaliknya. Waktu adalah membangun dan menghancurkan.
Seperti apa waktu dikelola? Ini ada dalam surat Al 'Ashr.
Di dalam surat ini Allah memvonis dengan ungkapan “innal insaana lafii khusrin” (sesungguhnya manusia benar2 tenggelam dalam kerugian).
“Khusrin” (kerugian) memunjukkan nakhiroh, menggambarkan kerugian ini benar2 kerugian yang besar. Kerugian individu, bangsa dan Negara. Yaitu selama manusia itu hanya sebagai manusia, maka disebutkan insan. Manusia dengan sisi kemanusiaannya saja tidak cukup untuk menjadi orang yang beruntung.
Maka dalam AQ ketika Allah menyebutkan manusia dengan al insan, itu untuk manusia dalam kondisi negatif, misalnya: manusia diciptakan dalam keadaan lemah atau manusia yang dzholim dan bodoh (QS Al Ahzab 72-73).
QS Al Ahzab (33) 72-73: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Ketika manusia di dunia ini hidup hanya dengan sisi kemanusiaannya saja, tidak menggunakan keimanannya, maka kalau dia itu berrumahtangga, maka rumahtangga itu akan hancur, kalau itu Negara, maka Negara itu akan rugi dan bangkrut.
Apa panduan kehidupan yang menjadikan kita umat manusia selamat dari kerugian?
Jawabannya: beriman.
Orang beriman itulah yang tidak rugi. Tidak rugi dalam keluarganya, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena orang beriman mengikuti perintah2 Allah. Ketika orang lain terjatuh ke zina, maka orang beriman tidak akan terjatuh ke zina. Karena orang beriman tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Tidak dengan berhala, pemimpinnya, hawa nafsunya.
QS Al Anam 82: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Orang2 yang beiman yang tidak menodai imannya dengan kedzhoiman dan syirik, itulah orang yang akan mendapatkan rasa aman
Secara individu dia aman, tidak terkena stress. Keluarganya aman, tidak kena bahaya selingkuh, bahaya narkoba, bahaya tawruan, dsb. Masyarakatnya aman, masyarakat yang terdiri dari keluarga2 muslim, aman. Betapa sebuah bangsa yang dulunya carut marut, mereka berubah menjadi Negara yang sukses karena rakyatnya terdiri dari orang2 yang beriman.
2. Kiat sukses orang beriman: amal sholeh dan amal jama’i.
Karena Allah berfirman dalam surat Al 'Ashr ini, yang disebut adalah orang2 yang beriman, dan orang2 yang beramal sholeh (semua dalam bentuk jamak).
Jadi orang yang sukses bukanlah orang yang sendirian. Meskipun dia berada di tengah2 jutaan manusia, tapi tidak ada orang yang mengikutinya, tidak ada yang bekerjasama dengannya, jika dia terperangkap dalam penyakit individual.
“Kamu harus berjamaah, karena syaitan bersama orang2 yang sendirian. Sesungguhnya serigala menerkam kambing yang jauh dari gerombolannya sendirian.”
Ketika anak bangsa ini bersatu padu, maka kekuatan bangsa manapun di dunia ini, tidak akan berani mengintai kita, memata2i kita.
Keluarga besar yang bersatu beramal jamai, juga sebuah bangsa yang sama2 kerja dan bekerja sama, maka bangsa itu akan bangkit dari kebangkrutan jenis apa pun. Kebangkrutan ekonomi, sosial politik, pendidikan.
3. Kita harus saling wasiat mewasiati dengan kebenaran, dan kebenaran itu datangnya dari Allah. Semua yang dari Allah pastilah benar, hakiki, dan tidak ada istilah kebenaran itu relatif. Tapi kalau kebenaran yang datang dari kita manusia, bisa benar bisa salah, seperti yang disampaikan oleh Imam Malik, “setiap pendapat bisa diterima ditolak. Tapi jika sudah disebut, qoollAlloh (berkata Allah), qoola rasul (berkata Rasul), maka perkataan itu sudah pasti benar.
Pertanyaannya: apa tujuan saling menasehati?
Dalam rangka menjaga prinsip kehidupan ini.
Hidup ini harus punya prinsip. Karena kita meyakini hidup ini bukan di dunia saja. Kita harus punya prinsip. Rumah tangga kita punya prinsip, Negara kita punya prinsip. Dan itu harus selalu dinasehati.
Untuk menjadi tetap jujur, di saat banyak orang yang tidak jujur, maka harus selalu dinasehati.Untuk tetap mendapatkan yang halal, ketika sebagian besar manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang alasannya demi keluarganya, itu semuanya membutuhkan nasehat. Kita harus saling nasehat menasehati. Melibatkan kedua belah pihak.
Bila itu sebuah keluarga, melibatkan anak dan orang tuanya, bila itu pesantren melibatkan pesanren dengan santrinya. Jika itu suatu Negara, maka harus melibatkan pemerintah dan rakyatnya. Jadi harus kedua belah pihak.
Radhiyallahu Umar bin Khattab menerima nasehat dari rakyat kecil, yaitu ketika Umar mau meringankan jumlah mahar, lalu dinasehati oleh seorang perempuan kenapa umar membatasi, padahal Al Quran tidak membatasi? Umar mengatakan sekaligus mengaku di depan rakyatnya, tidak ada gengsi, “PEREMPUAN ITU BENAR DAN UMAR SALAH.”
Umar yang begitu hebat, yaitu sampai2 ada 5 peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat Al Quran karena menyetujui pendapat umar, mau dinasehati oleh rakyatnya.
4. Saling nasehat menasehati dengan kesabaran.
Kenapa? Karena kita semua lemah. Karena kita merasakan kesulitan barang sedikit saja, kita sudah tidak sabar. Mendapatkan ancaman kecil saja, terkadang tidak sabar. Untuk itu mari kita bangun tradisi yang sangat mulia, yaitu saling menasehati dengan sabar. Untuk menjaga agar selalu berkesinambungan dalam memproduksi kebaikan, dan itu membutuhkan kesabaran. Kalau orang mengatakan kesabaran itu ada batasnya, maka dari itu mari kita tingkatkan kesabarannya, “ishbiruu wa shoobiruu.”
Jika kita saling menguatkan, maka insya Allah kita akan tetap tegar.
Surat Al 'Ashr ini panduan agar kita tidak rugi dalam hidup ini. Kebiasaan para ulama ketika berkumpul dengan saudara dan teman2nya, mereka belum mau berpisah kalau belum saling membacakan surat Al 'Ashr. Ini adalah Sunnah Rasulullah. Inilah yang harus diabadikan dalam kurikulum pendidikan kita, yaitu membaca surat Al 'Ashr di sekolah-sekolah pada jam terakhir mau berpisah.
1. Allah bersumpah dengan waktu.
Ketika ada makhluk dipakai untuk bersumpah oleh Allah, itu tandanya hal itu adalah penting.
Waktu bagaikan pedang. Kalau kita bisa menggunakan untuk mendayagunakan kebaikan, maka kita bisa mendapatkan kebaikan, jika tidak, maka sebaliknya. Waktu adalah membangun dan menghancurkan.
Seperti apa waktu dikelola? Ini ada dalam surat Al 'Ashr.
Di dalam surat ini Allah memvonis dengan ungkapan “innal insaana lafii khusrin” (sesungguhnya manusia benar2 tenggelam dalam kerugian).
“Khusrin” (kerugian) memunjukkan nakhiroh, menggambarkan kerugian ini benar2 kerugian yang besar. Kerugian individu, bangsa dan Negara. Yaitu selama manusia itu hanya sebagai manusia, maka disebutkan insan. Manusia dengan sisi kemanusiaannya saja tidak cukup untuk menjadi orang yang beruntung.
Maka dalam AQ ketika Allah menyebutkan manusia dengan al insan, itu untuk manusia dalam kondisi negatif, misalnya: manusia diciptakan dalam keadaan lemah atau manusia yang dzholim dan bodoh (QS Al Ahzab 72-73).
QS Al Ahzab (33) 72-73: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Ketika manusia di dunia ini hidup hanya dengan sisi kemanusiaannya saja, tidak menggunakan keimanannya, maka kalau dia itu berrumahtangga, maka rumahtangga itu akan hancur, kalau itu Negara, maka Negara itu akan rugi dan bangkrut.
Apa panduan kehidupan yang menjadikan kita umat manusia selamat dari kerugian?
Jawabannya: beriman.
Orang beriman itulah yang tidak rugi. Tidak rugi dalam keluarganya, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena orang beriman mengikuti perintah2 Allah. Ketika orang lain terjatuh ke zina, maka orang beriman tidak akan terjatuh ke zina. Karena orang beriman tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Tidak dengan berhala, pemimpinnya, hawa nafsunya.
QS Al Anam 82: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Orang2 yang beiman yang tidak menodai imannya dengan kedzhoiman dan syirik, itulah orang yang akan mendapatkan rasa aman
Secara individu dia aman, tidak terkena stress. Keluarganya aman, tidak kena bahaya selingkuh, bahaya narkoba, bahaya tawruan, dsb. Masyarakatnya aman, masyarakat yang terdiri dari keluarga2 muslim, aman. Betapa sebuah bangsa yang dulunya carut marut, mereka berubah menjadi Negara yang sukses karena rakyatnya terdiri dari orang2 yang beriman.
2. Kiat sukses orang beriman: amal sholeh dan amal jama’i.
Karena Allah berfirman dalam surat Al 'Ashr ini, yang disebut adalah orang2 yang beriman, dan orang2 yang beramal sholeh (semua dalam bentuk jamak).
Jadi orang yang sukses bukanlah orang yang sendirian. Meskipun dia berada di tengah2 jutaan manusia, tapi tidak ada orang yang mengikutinya, tidak ada yang bekerjasama dengannya, jika dia terperangkap dalam penyakit individual.
“Kamu harus berjamaah, karena syaitan bersama orang2 yang sendirian. Sesungguhnya serigala menerkam kambing yang jauh dari gerombolannya sendirian.”
Ketika anak bangsa ini bersatu padu, maka kekuatan bangsa manapun di dunia ini, tidak akan berani mengintai kita, memata2i kita.
Keluarga besar yang bersatu beramal jamai, juga sebuah bangsa yang sama2 kerja dan bekerja sama, maka bangsa itu akan bangkit dari kebangkrutan jenis apa pun. Kebangkrutan ekonomi, sosial politik, pendidikan.
3. Kita harus saling wasiat mewasiati dengan kebenaran, dan kebenaran itu datangnya dari Allah. Semua yang dari Allah pastilah benar, hakiki, dan tidak ada istilah kebenaran itu relatif. Tapi kalau kebenaran yang datang dari kita manusia, bisa benar bisa salah, seperti yang disampaikan oleh Imam Malik, “setiap pendapat bisa diterima ditolak. Tapi jika sudah disebut, qoollAlloh (berkata Allah), qoola rasul (berkata Rasul), maka perkataan itu sudah pasti benar.
Pertanyaannya: apa tujuan saling menasehati?
Dalam rangka menjaga prinsip kehidupan ini.
Hidup ini harus punya prinsip. Karena kita meyakini hidup ini bukan di dunia saja. Kita harus punya prinsip. Rumah tangga kita punya prinsip, Negara kita punya prinsip. Dan itu harus selalu dinasehati.
Untuk menjadi tetap jujur, di saat banyak orang yang tidak jujur, maka harus selalu dinasehati.Untuk tetap mendapatkan yang halal, ketika sebagian besar manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang alasannya demi keluarganya, itu semuanya membutuhkan nasehat. Kita harus saling nasehat menasehati. Melibatkan kedua belah pihak.
Bila itu sebuah keluarga, melibatkan anak dan orang tuanya, bila itu pesantren melibatkan pesanren dengan santrinya. Jika itu suatu Negara, maka harus melibatkan pemerintah dan rakyatnya. Jadi harus kedua belah pihak.
Radhiyallahu Umar bin Khattab menerima nasehat dari rakyat kecil, yaitu ketika Umar mau meringankan jumlah mahar, lalu dinasehati oleh seorang perempuan kenapa umar membatasi, padahal Al Quran tidak membatasi? Umar mengatakan sekaligus mengaku di depan rakyatnya, tidak ada gengsi, “PEREMPUAN ITU BENAR DAN UMAR SALAH.”
Umar yang begitu hebat, yaitu sampai2 ada 5 peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat Al Quran karena menyetujui pendapat umar, mau dinasehati oleh rakyatnya.
4. Saling nasehat menasehati dengan kesabaran.
Kenapa? Karena kita semua lemah. Karena kita merasakan kesulitan barang sedikit saja, kita sudah tidak sabar. Mendapatkan ancaman kecil saja, terkadang tidak sabar. Untuk itu mari kita bangun tradisi yang sangat mulia, yaitu saling menasehati dengan sabar. Untuk menjaga agar selalu berkesinambungan dalam memproduksi kebaikan, dan itu membutuhkan kesabaran. Kalau orang mengatakan kesabaran itu ada batasnya, maka dari itu mari kita tingkatkan kesabarannya, “ishbiruu wa shoobiruu.”
Jika kita saling menguatkan, maka insya Allah kita akan tetap tegar.
Surat Al 'Ashr ini panduan agar kita tidak rugi dalam hidup ini. Kebiasaan para ulama ketika berkumpul dengan saudara dan teman2nya, mereka belum mau berpisah kalau belum saling membacakan surat Al 'Ashr. Ini adalah Sunnah Rasulullah. Inilah yang harus diabadikan dalam kurikulum pendidikan kita, yaitu membaca surat Al 'Ashr di sekolah-sekolah pada jam terakhir mau berpisah.
07 November 2014
Menghadirkan Kepahlawanan
Ketika manusia menghadapi masalah2 besar, dunia membutuhkan
kepahlawanan. Bagaimana Al Quran menghadirkan kepahlawanan di dunia ini?
1. As sajaa’ah (keberanian)
Jangan bermimpi bangsa ini ada yang menjadi pahlawan, jika tidak ada yang mempunyai keberanian. Bagaimana Al Quran berjanji kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada yang murtad, maka akan ada generasi baru. Generasi baru yang bagaimana? Yaitu seperti yang di jelaskan di QS Al Maidah 54.
QS Al Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Kepahlawanan itu tidak akan terjadi bila tidak ada keberanian, dan keberanian adalah anugrah Allah. Pertanyaannya, apakah kita bersungguh2 melanjutkan kepahlawanan ini.
2. Tsabat (berteguh pendirian)
Al Anfal (8) 45: “Hai orang2 yang beriman, apabila kamu bertemu dengan musuh2mu, maka tsabatlah dan berdzikir lah yang banyak, agar kamu menang.”
Tidak tergoda dengan sanjungan manusia, tidak tergoda dengan gelombang fitnah atas dirinya. Dia terus berteguh pada pendiriannya.
Seluruh orang beriman meminta hidupnya selalu tsabat di jalan Allah. Jangankan kita, yang perlu selalu berdoa untuk mendapatkan tsabat, Rasulullah, hamba yang paling disayang Allah pun, di antara doa yang selalu dibacakan beliau adalah, “yaa muqollibal quluuub tsabbit qolbii ala diinik” (Ya Allah yang menguasai hati, tetapkan lah hati ini dalam agamaMu).
3. Cita2 yang kuat, semangat yang tinggi, dan dibarengi dengan tujuan yang mulia.
Pahlawan di dunia ini tidak mengenal sesuatu yang murah. Hidupnya untuk sesuatu yang mahal. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal. Dan dagangan Allah itu adalah syurga.
QS At Taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Dari QS At Taubah 111 di atas, ada sekian banyak pelajaran kehidupan terutama bagi calon2 pahlawan.
Ada suatu uslub (gaya Bahasa) di Al Quran yang mendahulukan dan didahulukan. Ulama tafsir mengatakan, seseorang tidak mengetahui indahnya Al Quran bila tidak tahu mana yang mendahulukan dan mana yang didahulukan.
Pada sebagian besar ayat di Al Quran, dalam mengorbankan, selalu mendahulukan mengorbankan harta lalu jiwa. Tapi di dalam ayat ini, yang didahulukan adalah jiwa terlebih dulu, barulah harta.
Para pahlawan itu membunuh musuhnya dan merekapun gugur dalam perjuangan. Tapi di ayat ini disebutkan “fayuqtaluuna fayaqtuluun” maka mereka terbunuh, dan mereka membunuh. Bagaimana dengan hal ini?
Ulama tafsir mengatakan: para pahlawan itu ketika mereka keluar dari rumahnya untuk berjuang di jalan Allah, cita2nya tidak ingin mendapatkan harta benda, tapi semata2 karena rindu dengan Allah, dan itu tidak akan ada yang memisahkan kecuali dengan kematian. Sehingga niat yang mulia ini disamakan dengan “terbunuh” dan jihad mereka itulah yang “membunuh.”
Pahlawan bukanlah seseorang yang bisa dibeli dengan dunia, mereka hanya menginginkan ridho Allah.
Hadist: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar Islam mendapatkan nilai yang paling tinggi, itu lah pahlawan.”
4. Kejujuran dan benar2 memenuhi janjinya pada Allah
Pahlawan menyadari betul bahwa ketika masih di dalam kandungan ibunya, setiap muslim telah berjanji kepada Allah, bahwa Rabb (Tuhan)nya hanyalah Allah.
Ketika Allah menginstruksikan perintah, dan bagi sebagian manusia perintah itu terasa sangat berat, maka para pahlawan membuktikan janjinya kepada Allah, untuk mengikuti perintah Allah itu.
Al Ahzab 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),”
Di ayat di atas, Allah menambah pujian kepada orang2 yang berjuang di jalan Allah, dengan sebutan rijal. Di antara orang2 beriman ada rijal. Kata rijal di sini bukan sebatas laki2, tapi itu mengungkapkan kepahlawanan.
‘Adamuttaqdim, para pahlawan itu tidak mengubah janjinya kepada Allah. Ini menggambarkan ada pelajaran aqidah, bahwa orang yang berjuang, jangan punya persepsi yang salah, bahwa kalau ia berjuang pasti akan mati. Belum tentu. KEmatian bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang berjuang. Orang berjuang belum tentu mati dalam keadaan berjuang. Bahkan ada pula orang yang hanya di rumah saja juga bisa meninggal. Kalau memang kita semua akan meninggal, kenapa kita tidak memilih cara mati yang mulia.
1. As sajaa’ah (keberanian)
Jangan bermimpi bangsa ini ada yang menjadi pahlawan, jika tidak ada yang mempunyai keberanian. Bagaimana Al Quran berjanji kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada yang murtad, maka akan ada generasi baru. Generasi baru yang bagaimana? Yaitu seperti yang di jelaskan di QS Al Maidah 54.
QS Al Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Kepahlawanan itu tidak akan terjadi bila tidak ada keberanian, dan keberanian adalah anugrah Allah. Pertanyaannya, apakah kita bersungguh2 melanjutkan kepahlawanan ini.
2. Tsabat (berteguh pendirian)
Al Anfal (8) 45: “Hai orang2 yang beriman, apabila kamu bertemu dengan musuh2mu, maka tsabatlah dan berdzikir lah yang banyak, agar kamu menang.”
Tidak tergoda dengan sanjungan manusia, tidak tergoda dengan gelombang fitnah atas dirinya. Dia terus berteguh pada pendiriannya.
Seluruh orang beriman meminta hidupnya selalu tsabat di jalan Allah. Jangankan kita, yang perlu selalu berdoa untuk mendapatkan tsabat, Rasulullah, hamba yang paling disayang Allah pun, di antara doa yang selalu dibacakan beliau adalah, “yaa muqollibal quluuub tsabbit qolbii ala diinik” (Ya Allah yang menguasai hati, tetapkan lah hati ini dalam agamaMu).
3. Cita2 yang kuat, semangat yang tinggi, dan dibarengi dengan tujuan yang mulia.
Pahlawan di dunia ini tidak mengenal sesuatu yang murah. Hidupnya untuk sesuatu yang mahal. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal. Dan dagangan Allah itu adalah syurga.
QS At Taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Dari QS At Taubah 111 di atas, ada sekian banyak pelajaran kehidupan terutama bagi calon2 pahlawan.
Ada suatu uslub (gaya Bahasa) di Al Quran yang mendahulukan dan didahulukan. Ulama tafsir mengatakan, seseorang tidak mengetahui indahnya Al Quran bila tidak tahu mana yang mendahulukan dan mana yang didahulukan.
Pada sebagian besar ayat di Al Quran, dalam mengorbankan, selalu mendahulukan mengorbankan harta lalu jiwa. Tapi di dalam ayat ini, yang didahulukan adalah jiwa terlebih dulu, barulah harta.
Para pahlawan itu membunuh musuhnya dan merekapun gugur dalam perjuangan. Tapi di ayat ini disebutkan “fayuqtaluuna fayaqtuluun” maka mereka terbunuh, dan mereka membunuh. Bagaimana dengan hal ini?
Ulama tafsir mengatakan: para pahlawan itu ketika mereka keluar dari rumahnya untuk berjuang di jalan Allah, cita2nya tidak ingin mendapatkan harta benda, tapi semata2 karena rindu dengan Allah, dan itu tidak akan ada yang memisahkan kecuali dengan kematian. Sehingga niat yang mulia ini disamakan dengan “terbunuh” dan jihad mereka itulah yang “membunuh.”
Pahlawan bukanlah seseorang yang bisa dibeli dengan dunia, mereka hanya menginginkan ridho Allah.
Hadist: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar Islam mendapatkan nilai yang paling tinggi, itu lah pahlawan.”
4. Kejujuran dan benar2 memenuhi janjinya pada Allah
Pahlawan menyadari betul bahwa ketika masih di dalam kandungan ibunya, setiap muslim telah berjanji kepada Allah, bahwa Rabb (Tuhan)nya hanyalah Allah.
Ketika Allah menginstruksikan perintah, dan bagi sebagian manusia perintah itu terasa sangat berat, maka para pahlawan membuktikan janjinya kepada Allah, untuk mengikuti perintah Allah itu.
Al Ahzab 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),”
Di ayat di atas, Allah menambah pujian kepada orang2 yang berjuang di jalan Allah, dengan sebutan rijal. Di antara orang2 beriman ada rijal. Kata rijal di sini bukan sebatas laki2, tapi itu mengungkapkan kepahlawanan.
‘Adamuttaqdim, para pahlawan itu tidak mengubah janjinya kepada Allah. Ini menggambarkan ada pelajaran aqidah, bahwa orang yang berjuang, jangan punya persepsi yang salah, bahwa kalau ia berjuang pasti akan mati. Belum tentu. KEmatian bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang berjuang. Orang berjuang belum tentu mati dalam keadaan berjuang. Bahkan ada pula orang yang hanya di rumah saja juga bisa meninggal. Kalau memang kita semua akan meninggal, kenapa kita tidak memilih cara mati yang mulia.
06 November 2014
Jalan Kehidupan yang Baik (5)
Tidak ada kebaikan dalam hidup ini, melainkan pasti Allah memberikan
petunjukNya menuntun kita kepada jalan yang benar, agar kita bahagia
dunia dan akhirat. Di antaranya:
1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.
Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:
1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi
2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.
3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.
Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.
Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.
Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu"
2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.
Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.
2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.
Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.
3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga
4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.
Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.
Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”
Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.
1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.
Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:
1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi
2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.
3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.
Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.
Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.
Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu"
2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.
Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.
2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.
Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.
3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga
4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.
Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.
Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”
Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.
Jalan Menuju Kebahagiaan (Bagian ke 4)
1. Tidak menginginkan syukur (terima kasih) kecuali dari Allah SWT
Ketika kita berbuat keibaikan, maka orientasi kita semata2 karena Allah. Jangan sekali2 berbuat baik kepada orang, tujuannya agar orang berterima kasih kepada kita. Kita akan capek dalam hidup ini. Kalau kita berharap kebaikan semata2 dari Allah SWT kita akan bahagia.
Bukankah di masyarakat, sering kita temui seseorang membantu adeknya, saudaranya, tetangganya, dengan bantuan yang amat banyak, dan ketika orang yang diberi bantuan itu menjadi orang hebat dan lupa berterima kasih kepadanya, lalu bila ia tidak melihat hal ini dengan kacamata Allah, maka diungkit2 kebaikannya itu, maka rontoklah kebaikan2nya itu.
Oleh sebab itu Allah SWT telah memberi petunjukNya, agar ketika kita memberi makan kepada seseorang, kita tidak mengharapkan balasan dan kata terima kasih darinya.
QS Al Insan 9: “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian, semata2 karena Allah. Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan juga bukan terima kasih.”
Kebaikan di sini jangan hanya dianggap dengan memberi makan saja, tapi apa bisa berupa apa saja. Makanan di sini adalah gambaran kepedulian kepada orang yang lapar.
Selama kita bisa memberikan kebaikan kepada yang membutuhkan, berikanlah, karena itu jalan menuju kebahagiaan. Kalau kita memberi, jangan berharap balasannya lebih banyak, “walaa tan num tastaktsir.”
2. Memfokuskan pikiran kita, perhatian kita untuk bekerja membangun demi hari ini dan hari yang akan datang, dan memutus rantai masa lalu.
Hidup ini tidak selamanya mulus. Suami memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, istri juga. Dalam berbangsa dan bernegara ini juga ada hubungan2 masa lalu yang tidak menyenangkan. Kita tidak boleh mengungkit2 masa lalu.
Apa jadinya hidup ini kalau ada manusia yang mengungkit2 masa lalu, lalu meledakkan hidup ini. Ini bukan berarti kita melupakan masa lalu, tapi kita hidup untuk masa yang akan datang.
Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hadist: “Allahumma ini a’udzu bika minal hammi wal hazn, wa a ‘uudzu bika minal ‘ajzi wal kasl, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a ‘uudzu bika min gholabatid daini wa qoh rirrijaal.”
Dalam doa ini kita berdoa pada Allah, berlindung dari rasa sedih, dari ketidaktenangan, ketidakjelasan, dan minta perlindungan kepada Allah dari rasa lemas dan malas, minta perlindungan kepada Allah dari sifat kikir, dan minta perlindungan pada Allah dari lilitan orang atau bangsa lain.
Sebelum kita berpikir dan berharap apakah doa itu dikabulkan atau tidak, dan semoga doa2 kita dikabulkan, kita harus pahami, bahwa doa itu sangat penting, terlepas apakah akan dipercepat dikabulkannya atau tidak. Karena:
1. doa itu ibadah
2. ketika kita berdoa maka harus kita barengi dengan kerja.
Ibrahim as, bapaknya para nabi, ketika berdoa agar dirinya dan anak2nya menjadi muslim, maka dibarengi dengan kerja, yaitu membangun kabah.
Jangan sampai doa kita bertolakbelakang dengan kerja. Kita ingin punya anak soleh, tapi pendidikannya tidak Islami, dan pergaulannya tidak bersama2 orang soleh. Jika ingin anak kita sholeh/ah, maka pendidikannya harus yang Islamy dan teman2nya juga harus yang benar.
Maka kita harus buktikan, jangan menangisi masa lalu. Kita focus bangkit membangun masa depan. Siapa yang tidak punya masa lalu yang buruk? Setiap manusia anak adam pasti pernah berbuat salah. Tapi anak manusia yang berbuat salah, bisa bangkit menjadi berbuat yang terbaik. Jangan diungkit2 masa lalunya. Kita focus demi kebangkita masa depan bangsa ini.
Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim, Rasulullah bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.”
Jadi kita harus bangkit, jangan terjatuh dalam kubangan “seandainya seandainya”.
Ini bukan berarti kita tidak mempunyai penyesalan, atas apa2 yang sudah kita lakukan sebelumnya.
Bila kita berbuat salah, kita harus menyesal. Karena salah satu ciri2 tobatnya seseorang adalah menyesali kesalahannya. Kita menyesali masa lalu, tujuannya adalah memperbaiki diri sendiri.
QS Al Qiyamah 2: “Walaa uq simu binnafsil lawwaamah” (dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).
Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang mencela dirinya kenapa berbuat keburukan.
Di antara ciri manusia yang akan berubah menuju lebih baik adalah, manusia itu menyesali masa lalunya.
Jiwa yang mencela dirinya karena berbuat salah, itu adalah proses menuju jiwa yang istiqomah. Karena orang yang tadinya berbuat salah itu, tidak ujug2 langsung berubah, tapi harus didahului dengan penyesalan2: “Kenapa saya dulu tidak rajin sholat, kenapa saya dulu tidak rajin belajar membaca Al Quran, dsb”
Jiwa yang lawwaamah (menyesali diri) adalah proses menuju jiwa yang tenang.
Fokus memikirkan masa depan yang lebih baik, ini adalah ciri manusia yang bahagia hidupnya. Keluarga yang bahagia adalah yang focus pada masa depan. Bukan suami yang mengungkit2 masa lalu istrinya. Negara yang besar adalah Negara yang focus pada masa depan, dan mengambil pelajaran dari masa lalu, karena mukmin yang benar tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali.
Ini harus kita renungi, apabila dalam berkeluarga, berbisnis, berpendidikan, berpolitik, kita sudah merasa pernah melakukan kesalahan, maka jangan diulangi.
Jika kita sudah merasakan pemimpin yang dzholim, jangan jatuh dalam memilih pemimpin yang dzholim lagi. Jika kamu telah menempati tempat2 yang dulunya orang2 yang duduk di situ mendzholimi dirinya, lalu orang2 yang zholim itu telah pergi, maka jangan sampai kamu menggantikan posisinya mengulangi kedzholiman, jangan ulangi kesalahan masa lalu, untuk itu focus pada masa depan.
Rasulullah tidak pernah mengungkit2 masa lalu Kholid bin Walid, padahal dalam perang Uhud, Kholid bin Walid masih dalam posisi sebagai musuh Nabi, tapi ketika ia sudah masuk Islam tidak pernah Nabi ungkit2 masa lalu Kholid. Nabi tidak menjatuhkan mental orang2 yang sudah bertaubat.
Kita semua harus fokus membangun masa depan.
Ketika kita berbuat keibaikan, maka orientasi kita semata2 karena Allah. Jangan sekali2 berbuat baik kepada orang, tujuannya agar orang berterima kasih kepada kita. Kita akan capek dalam hidup ini. Kalau kita berharap kebaikan semata2 dari Allah SWT kita akan bahagia.
Bukankah di masyarakat, sering kita temui seseorang membantu adeknya, saudaranya, tetangganya, dengan bantuan yang amat banyak, dan ketika orang yang diberi bantuan itu menjadi orang hebat dan lupa berterima kasih kepadanya, lalu bila ia tidak melihat hal ini dengan kacamata Allah, maka diungkit2 kebaikannya itu, maka rontoklah kebaikan2nya itu.
Oleh sebab itu Allah SWT telah memberi petunjukNya, agar ketika kita memberi makan kepada seseorang, kita tidak mengharapkan balasan dan kata terima kasih darinya.
QS Al Insan 9: “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian, semata2 karena Allah. Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan juga bukan terima kasih.”
Kebaikan di sini jangan hanya dianggap dengan memberi makan saja, tapi apa bisa berupa apa saja. Makanan di sini adalah gambaran kepedulian kepada orang yang lapar.
Selama kita bisa memberikan kebaikan kepada yang membutuhkan, berikanlah, karena itu jalan menuju kebahagiaan. Kalau kita memberi, jangan berharap balasannya lebih banyak, “walaa tan num tastaktsir.”
2. Memfokuskan pikiran kita, perhatian kita untuk bekerja membangun demi hari ini dan hari yang akan datang, dan memutus rantai masa lalu.
Hidup ini tidak selamanya mulus. Suami memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, istri juga. Dalam berbangsa dan bernegara ini juga ada hubungan2 masa lalu yang tidak menyenangkan. Kita tidak boleh mengungkit2 masa lalu.
Apa jadinya hidup ini kalau ada manusia yang mengungkit2 masa lalu, lalu meledakkan hidup ini. Ini bukan berarti kita melupakan masa lalu, tapi kita hidup untuk masa yang akan datang.
Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hadist: “Allahumma ini a’udzu bika minal hammi wal hazn, wa a ‘uudzu bika minal ‘ajzi wal kasl, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a ‘uudzu bika min gholabatid daini wa qoh rirrijaal.”
Dalam doa ini kita berdoa pada Allah, berlindung dari rasa sedih, dari ketidaktenangan, ketidakjelasan, dan minta perlindungan kepada Allah dari rasa lemas dan malas, minta perlindungan kepada Allah dari sifat kikir, dan minta perlindungan pada Allah dari lilitan orang atau bangsa lain.
Sebelum kita berpikir dan berharap apakah doa itu dikabulkan atau tidak, dan semoga doa2 kita dikabulkan, kita harus pahami, bahwa doa itu sangat penting, terlepas apakah akan dipercepat dikabulkannya atau tidak. Karena:
1. doa itu ibadah
2. ketika kita berdoa maka harus kita barengi dengan kerja.
Ibrahim as, bapaknya para nabi, ketika berdoa agar dirinya dan anak2nya menjadi muslim, maka dibarengi dengan kerja, yaitu membangun kabah.
Jangan sampai doa kita bertolakbelakang dengan kerja. Kita ingin punya anak soleh, tapi pendidikannya tidak Islami, dan pergaulannya tidak bersama2 orang soleh. Jika ingin anak kita sholeh/ah, maka pendidikannya harus yang Islamy dan teman2nya juga harus yang benar.
Maka kita harus buktikan, jangan menangisi masa lalu. Kita focus bangkit membangun masa depan. Siapa yang tidak punya masa lalu yang buruk? Setiap manusia anak adam pasti pernah berbuat salah. Tapi anak manusia yang berbuat salah, bisa bangkit menjadi berbuat yang terbaik. Jangan diungkit2 masa lalunya. Kita focus demi kebangkita masa depan bangsa ini.
Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim, Rasulullah bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.”
Jadi kita harus bangkit, jangan terjatuh dalam kubangan “seandainya seandainya”.
Ini bukan berarti kita tidak mempunyai penyesalan, atas apa2 yang sudah kita lakukan sebelumnya.
Bila kita berbuat salah, kita harus menyesal. Karena salah satu ciri2 tobatnya seseorang adalah menyesali kesalahannya. Kita menyesali masa lalu, tujuannya adalah memperbaiki diri sendiri.
QS Al Qiyamah 2: “Walaa uq simu binnafsil lawwaamah” (dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).
Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang mencela dirinya kenapa berbuat keburukan.
Di antara ciri manusia yang akan berubah menuju lebih baik adalah, manusia itu menyesali masa lalunya.
Jiwa yang mencela dirinya karena berbuat salah, itu adalah proses menuju jiwa yang istiqomah. Karena orang yang tadinya berbuat salah itu, tidak ujug2 langsung berubah, tapi harus didahului dengan penyesalan2: “Kenapa saya dulu tidak rajin sholat, kenapa saya dulu tidak rajin belajar membaca Al Quran, dsb”
Jiwa yang lawwaamah (menyesali diri) adalah proses menuju jiwa yang tenang.
Fokus memikirkan masa depan yang lebih baik, ini adalah ciri manusia yang bahagia hidupnya. Keluarga yang bahagia adalah yang focus pada masa depan. Bukan suami yang mengungkit2 masa lalu istrinya. Negara yang besar adalah Negara yang focus pada masa depan, dan mengambil pelajaran dari masa lalu, karena mukmin yang benar tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali.
Ini harus kita renungi, apabila dalam berkeluarga, berbisnis, berpendidikan, berpolitik, kita sudah merasa pernah melakukan kesalahan, maka jangan diulangi.
Jika kita sudah merasakan pemimpin yang dzholim, jangan jatuh dalam memilih pemimpin yang dzholim lagi. Jika kamu telah menempati tempat2 yang dulunya orang2 yang duduk di situ mendzholimi dirinya, lalu orang2 yang zholim itu telah pergi, maka jangan sampai kamu menggantikan posisinya mengulangi kedzholiman, jangan ulangi kesalahan masa lalu, untuk itu focus pada masa depan.
Rasulullah tidak pernah mengungkit2 masa lalu Kholid bin Walid, padahal dalam perang Uhud, Kholid bin Walid masih dalam posisi sebagai musuh Nabi, tapi ketika ia sudah masuk Islam tidak pernah Nabi ungkit2 masa lalu Kholid. Nabi tidak menjatuhkan mental orang2 yang sudah bertaubat.
Kita semua harus fokus membangun masa depan.
05 November 2014
Jalan Kebahagiaan dalam Hidup
Jalan apa saja yang harus kita tempuh agar bahagia, diterangkan
dalam Al Quran begitu luas dan begitu banyak. Ini menggambarkan kasih
sayang Allah itu begitu luas.
1. Berlapang dada.
Seorang mukmin tidak pernah sepi dari beban kehidupan yang berat. Yang menyatakan berat, adalah Allah sendiri, yang menciptkan kita. Begitu juga bagi para dai.
QS AL Muzzammil 5: “Sesungguhnya kami akan turunkan perkataan yang berat kepada kamu.”
Kita menyadari bahwa hidup ini memang berat, sehingga tidak bisa seorang mukmin ingin bahagia, tapi hidupnya hanya santai2 saja. Hidup orang yg seperti itu kecil, dan matinya juga kecil.
Tidak ada yang merasa kehilangan, mungkin hanya anak istrinya saja yang merasakan kehilangannya, tapi dunia tidak merasa kehilangan. Berbeda dengan orang yang mengajarkan Al Quran, Rasulullah dan para sahabat2nya. Mereka hidupnya lebih capek. Tapi hidupnya besar, karena mereka dibutuhkan umat manusia, dan ketika mereka meninggal, banyak yang merasa kehilangan.
Kehidupan seorang mukmin penuh dengan tugas2/beban2 dari Allah dalam memimpin dunia ini, maka dari itu ada tuntutan untuk berlapang dada.
Apa urgensi berlapang dada?
1. Musa meminta pada Allah agar dilapangkan dadanya.
QS Thoha 25-28: “Musa berkata, ‘Robbisy rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ (Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku)”
Musa as ketika mendapatkan perintah dari Allah agar menyampaikan Islam kepada Firaun, untuk menghadapi durjana terbesar di dunia itu, apa modal yang diminta oleh Musa as? Modalnya adalah iaminta kepada Allah agar dilapangkan dadanya.
Kalau kita lihat ilmu munasabah (ilmu korelasi), dengan mengetahui ilmu munasabah, maka kita akan mengetahui aspek kemukjizatan Al Quran, karena ayat yang diturunkan berbeda waktunya, tapi kuat korelasinya.
Ilmu berlapang dada, maka urusannya akan mudah.
Selain berlapang dada melahirkan kemudahan2 urusan kita, berlapang dada juga melahirkan kelancaran komunikasi. Komunikasi lebih cair. Dalam berumah tangga, dalam berbangsa dan bernegara, mungkin juga ada masalah. Tapi kalau seluruhnya itu dijalani dengan berlapang dada, akan terjadi komunikasi yang baik. Bayangkan kalau setiap orang punya dendam, ingin mencelakakan saudaranya Maka berlapang dada, jalan menuju kehidupan yang baik.
2. Komunikasi/ungkapan yang mudah dipahami.
Begitu Musa menghadapi Firaun berlapang dada, lalu mengkomunikasikannya dengan lancar, maka diharapkan Firaun dapat memahami inti2 yang akan disampaikan.
3. Berlapang dada adalah anugrah Allah yang sangat besar
Allah memberikan nikmat yang sangat besar, sampai2 tentang lapang dada ini menjadi satu nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Insyiroh (berlapang dada): “Bukankah telah kami sudah lapangkan dadamu (Muhammad)?”
Redaksi ini oleh orang yang sudah dipahamkan oleh Allah SWT tentang tafsir ayat ini, memberikan pengetahuan kepada kita, bahwa Rasulullah, walaupun beliau seorang nabi, tapi tetap beliau tidak bisa lepas dari unsur kemanusiaannya. Dalam berdakwah, ada orang2 yang dekat (baik dari sisi lokasi maupun dekat kekerabatannya), tapi begitu Muhammad diangkat oleh Allah sebagai Nabi, kaumnya menyakiti, memusuhi Nabi. Begitu juga yang dihadapi pewaris risalah para Nabi, yaitu para da’i saat ini, yang menghadapi tindakan keras.
2. Berbuat baik kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada golongan saja, keluarganya saja, tapi seluruh manusia.
Kita bahagia, tidak perlu mengimpor kebahagiaan dari luar, karena kebahagiaan bisa kita produksi sendiri. Caranya, dengan menyucibersihkan hati kita dari sifat2 iri, dengki.
Dalil bahwa berbuat baik akan membuat hidup bahagia, ada di QS An Nisa 114:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.
Tiga hal yang akan membuat bahagia:
Menyuruh saudaranya untuk bersedekah, agar meringankan beban saudara, agar tidak ada kefakiran, menyuruh berbuat baik, dan mendamaikan manusia
Barang siapa yang melakukan tiga hal tersebut semata2 mencari Mardhotillah (ridho Allah), pasti akan Allah berikan pahala yang besar.
Anugrah kepada orang2 yang memproduksi kebaikan2 itu sangat besar.
Apa saja urgensi berbuat ihsan yang diterangkan dalam AQ?
1. Untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang ditimbulkan pada manusia, Al Quran memerintahkan agar berbuat baik kepada seluruh manusia
QS Al Qashash 77: “berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kamu.”
Ketika Allah menyebutkan “berbuat baik,” ini tidak ditujukkan berbuat baik kepada siapa. Hal ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada siap saja. Tidakkah kita merasa hebat, ketika bangsa ini memproduksi kebaikan sebanyak2nya, berbuat kebaikan untuk seluruh umat manusia, inilah Islam yang diajarkan Allah.
2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Kenapa disebut secara khusus kepada kedua orang tua. Ini menggambarkan urgensi berbuat baik kepada orang tua, dan juga karena kebanyakan manusia itu lupa. Karena manusia biasanya memikirkan hal yang jauh. Ketika ditanya, “untuk apa Anda mencari uang?” Biasanya menjawab untuk anak dan istri. Jarang yang menjawab untuk orang tua.
Itu lah di Al Quran dipertegas, berbuat baiklah pada orang tua. Kita berbuat baik kepada anak dan istri itu juga wajib, tapi itu sudah fitrahnya, menafkahi anak istri. Tapi manusia sering lupa untuk berbuat baik pada orang tua, maka dari itu Allah ingatkan di dalam Al Quran.
Berapa banyak dari kita yang menganggarkan mengirimkan uang bulanan untuk orang tua kita, menyediakan waktu bercengkerama dengan orang tua kita. Di hari tua mereka, mereka merasa kesepian. Sudah menjadi kewajiban kita untukberbuat baik kepada mereka.
1. Berlapang dada.
Seorang mukmin tidak pernah sepi dari beban kehidupan yang berat. Yang menyatakan berat, adalah Allah sendiri, yang menciptkan kita. Begitu juga bagi para dai.
QS AL Muzzammil 5: “Sesungguhnya kami akan turunkan perkataan yang berat kepada kamu.”
Kita menyadari bahwa hidup ini memang berat, sehingga tidak bisa seorang mukmin ingin bahagia, tapi hidupnya hanya santai2 saja. Hidup orang yg seperti itu kecil, dan matinya juga kecil.
Tidak ada yang merasa kehilangan, mungkin hanya anak istrinya saja yang merasakan kehilangannya, tapi dunia tidak merasa kehilangan. Berbeda dengan orang yang mengajarkan Al Quran, Rasulullah dan para sahabat2nya. Mereka hidupnya lebih capek. Tapi hidupnya besar, karena mereka dibutuhkan umat manusia, dan ketika mereka meninggal, banyak yang merasa kehilangan.
Kehidupan seorang mukmin penuh dengan tugas2/beban2 dari Allah dalam memimpin dunia ini, maka dari itu ada tuntutan untuk berlapang dada.
Apa urgensi berlapang dada?
1. Musa meminta pada Allah agar dilapangkan dadanya.
QS Thoha 25-28: “Musa berkata, ‘Robbisy rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ (Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku)”
Musa as ketika mendapatkan perintah dari Allah agar menyampaikan Islam kepada Firaun, untuk menghadapi durjana terbesar di dunia itu, apa modal yang diminta oleh Musa as? Modalnya adalah iaminta kepada Allah agar dilapangkan dadanya.
Kalau kita lihat ilmu munasabah (ilmu korelasi), dengan mengetahui ilmu munasabah, maka kita akan mengetahui aspek kemukjizatan Al Quran, karena ayat yang diturunkan berbeda waktunya, tapi kuat korelasinya.
Ilmu berlapang dada, maka urusannya akan mudah.
Selain berlapang dada melahirkan kemudahan2 urusan kita, berlapang dada juga melahirkan kelancaran komunikasi. Komunikasi lebih cair. Dalam berumah tangga, dalam berbangsa dan bernegara, mungkin juga ada masalah. Tapi kalau seluruhnya itu dijalani dengan berlapang dada, akan terjadi komunikasi yang baik. Bayangkan kalau setiap orang punya dendam, ingin mencelakakan saudaranya Maka berlapang dada, jalan menuju kehidupan yang baik.
2. Komunikasi/ungkapan yang mudah dipahami.
Begitu Musa menghadapi Firaun berlapang dada, lalu mengkomunikasikannya dengan lancar, maka diharapkan Firaun dapat memahami inti2 yang akan disampaikan.
3. Berlapang dada adalah anugrah Allah yang sangat besar
Allah memberikan nikmat yang sangat besar, sampai2 tentang lapang dada ini menjadi satu nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Insyiroh (berlapang dada): “Bukankah telah kami sudah lapangkan dadamu (Muhammad)?”
Redaksi ini oleh orang yang sudah dipahamkan oleh Allah SWT tentang tafsir ayat ini, memberikan pengetahuan kepada kita, bahwa Rasulullah, walaupun beliau seorang nabi, tapi tetap beliau tidak bisa lepas dari unsur kemanusiaannya. Dalam berdakwah, ada orang2 yang dekat (baik dari sisi lokasi maupun dekat kekerabatannya), tapi begitu Muhammad diangkat oleh Allah sebagai Nabi, kaumnya menyakiti, memusuhi Nabi. Begitu juga yang dihadapi pewaris risalah para Nabi, yaitu para da’i saat ini, yang menghadapi tindakan keras.
2. Berbuat baik kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada golongan saja, keluarganya saja, tapi seluruh manusia.
Kita bahagia, tidak perlu mengimpor kebahagiaan dari luar, karena kebahagiaan bisa kita produksi sendiri. Caranya, dengan menyucibersihkan hati kita dari sifat2 iri, dengki.
Dalil bahwa berbuat baik akan membuat hidup bahagia, ada di QS An Nisa 114:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.
Tiga hal yang akan membuat bahagia:
Menyuruh saudaranya untuk bersedekah, agar meringankan beban saudara, agar tidak ada kefakiran, menyuruh berbuat baik, dan mendamaikan manusia
Barang siapa yang melakukan tiga hal tersebut semata2 mencari Mardhotillah (ridho Allah), pasti akan Allah berikan pahala yang besar.
Anugrah kepada orang2 yang memproduksi kebaikan2 itu sangat besar.
Apa saja urgensi berbuat ihsan yang diterangkan dalam AQ?
1. Untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang ditimbulkan pada manusia, Al Quran memerintahkan agar berbuat baik kepada seluruh manusia
QS Al Qashash 77: “berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kamu.”
Ketika Allah menyebutkan “berbuat baik,” ini tidak ditujukkan berbuat baik kepada siapa. Hal ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada siap saja. Tidakkah kita merasa hebat, ketika bangsa ini memproduksi kebaikan sebanyak2nya, berbuat kebaikan untuk seluruh umat manusia, inilah Islam yang diajarkan Allah.
2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Kenapa disebut secara khusus kepada kedua orang tua. Ini menggambarkan urgensi berbuat baik kepada orang tua, dan juga karena kebanyakan manusia itu lupa. Karena manusia biasanya memikirkan hal yang jauh. Ketika ditanya, “untuk apa Anda mencari uang?” Biasanya menjawab untuk anak dan istri. Jarang yang menjawab untuk orang tua.
Itu lah di Al Quran dipertegas, berbuat baiklah pada orang tua. Kita berbuat baik kepada anak dan istri itu juga wajib, tapi itu sudah fitrahnya, menafkahi anak istri. Tapi manusia sering lupa untuk berbuat baik pada orang tua, maka dari itu Allah ingatkan di dalam Al Quran.
Berapa banyak dari kita yang menganggarkan mengirimkan uang bulanan untuk orang tua kita, menyediakan waktu bercengkerama dengan orang tua kita. Di hari tua mereka, mereka merasa kesepian. Sudah menjadi kewajiban kita untukberbuat baik kepada mereka.
03 November 2014
Pelajaran2 Hijrah dalam Kehidupan
Kalau ingin pemimpin itu hebat, memimpin suatu keluarga, organisasi,
Negara dengan hebat, ikuti langkah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika
hijrah dari Mekkah ke Madinah. Apa saja pelajaran hijrah yang bisa
dipetik untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih
baik?
1. Urgensi Masjid dalam Kehidupan ini
Membangun masjid merupakan skala prioritas dalam membangun sebuah masyarakat/Negara.
Begitu Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, apa yang pertama kali dibangun? Yaitu Masjid. Karena:
a. di masjid seperti ini lah eksistensi keimanan kaum muslimin, dibuktikan.
Hadist: “Apabila kamu melihat seseorang membiasakan ke masjid, saksikan bahwa imannya benar.”
Ketika masjid itu benar2 dikunjungi, berbahagialah, semoga iman kita kita diakui oleh Allah, SWT.
b. masjid itu dibangun di atas takwa.
Kalau kita menginginkan diri dan keluarga kita adalah orang2 bertaqwa, jadilah penduduk masjid. Kalau bangsa ini ingin menjadi bangsa beriman dan bertaqwa sehingga turun barokah dari langit, jadikanlah masjid sebagai pusat kegiatan.
QS At Taubah 108:”sungguh masjid dibangun di atas ketaqwaan.”
Jangan sampai masjid2 terkotori oleh acara2 yang tujuannya jauh daripada taqwa. Seluruh ibadah kita, sholat kita, ibadah kita, harus menuju pada taqwa.
Apa itu taqwa?
Tahukah kamu bagaimana kalau ada seseorang berjalan di atas jalan yang sempit, licin, banyak durinya? Jawabannya: kita super hati2
Taqwa itu akan membangun jalan menjauhkan diri dari adzab Allah, dengan cara melaksanakan seluruh perintah2 Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah.
c. Masjid melahirkan pemimpin2 yang hebat.
Bukankah Nabi SAW adalah pemimpin terhebat di dunia, dan beliau adalah ahli masjid. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Umar bin Abdul Aziz, semuanya adalah ahli masjid.
Ketika Al Quran mengungkapkan kata rijal, itu adalah menunjukkan ketokohan seseorang. Sepert iyang disebutkan di At Taubah 108 tadi.
2. Mempersaudarakan
Tidak ada satu pun orang yang tidak merasa diperhatikan oleh Rasulullah. Apa urgensi persaudaraan?
Ukhuwwah atau persaudaraan itu bukti keimanan seseorang. Sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara.
Iman dan ukhuwwah itu dua hal yang tidak bisa berpisah. Kalau kita mengaku beriman, maka kita bersuadara. Kalau kita bersaudara, maka iman itu adalah landasannya. Perkumpulan, kalau ikatannya bukan iman, maka perkumpulan itu akan pecah. Karena ikatannya adalah kepentingan, sedangkan kepentingan manusia itu beerbeda2.
Persaudaraan, perkawainan, oraganisasi, Negara, itu bisa berpecah karena tidak didasari oleh iman, maka ikatan2 yang didasari oleh keperintingan2 seperti itu tidak akan panjang
Di antara pilar yang memperkuat sebuah bangsa, adalah iman. Di dalam negri Madinah itu ada Yahudi, adaNasrani, ada musyrikin, di luar Negri Madinah ada Romawi dan musuh2 lainnya. Bagaimana Negara yang dipimpin nabi itu bisa kokoh, karena Negara yang dipimpin nabi dilandaskan atas dasar iman.
Yang pertama2 dibangun nabi ketika membangun Madinah adalah mempersaudarakan orang2 beriman. Salman yang dari Persia, Mushab yang dari Mekkah, semuanya dipersaudarakan.
Persaudaraan itu bukan sebatas diceramahkan, tapi bagaimana ia benar2 terwujud, karena setiap ajaran Allah pasti bisa terwujud, tinggal kita mau atau tidak.
Persaudaraan itu harus didirikan dengan dasar:
a. wahdatul ghooyah (kesatuan orientasi).
wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’ budu (tujuannya adalah beribadah pada Allah).
b. wahdatul mahdah (kesatuan prinsip)
Sahabat2 Rasulullah dating dari kelas yang berbeda-beda berbeda2 pula warna kulitnya, tapi bersatu dalam satu prinsip, yaitu laa ilaa ha illallaah.
Barang siapa yang bersikap dengan prinsip laa ilaa ha illallah, pasti akan masuk syurga. Tapi kalimat thoyyibah ini bukan sekedar diucapkan, tapi juga dipahami dan dijalankan.
c. wahdatul manhaj (kesatuan jalan yang jelas/kurikulum/ajaran)
Apa pun manhajnya,(jalannya/ajarannya), maka datangnya dari Allah dan Rasululullah. Mungkin saya berbeda dengan yang lainnya, pemimpin yang satu berbeda dengan pemimpin yang lainnya, itu tidak apa2. Karena ketika berbeda, acuannya adalah sama, yaitu Allah dan Rasulullah.
QS An Nisa 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
Kalau dikembalikan kepada manusia, manusia punya hawa nafsu, manusia bisa disogok. Tapi ketika dikembalikan kepada Allah dan Rasulullah, maka semuanya akan bersatu.
Ketika kita diperintahkan taat pada Allah dan Rasulullah, ada kata “athii u” (taatliah), ini menunjukkan ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul. Tapi ketika perintah taat kepada pemimpin (ulil amri), tidak ada kata “athii u.” Kita wajib taat pada pemimpin kita selama perintahnya itu tidak berupa maksiat (dalam hal apa pun, baik itu politik, ekonomi, budaya pendidikan), tapi bila bertentangan dengan syariat (aturan) Allah, maka tidak wajib taat.
Kita harus tahu kapan kita taat pada pemimpin, kapan kita mengkritisi, menasehati, dsb
d. adanya kesatuan ikatan
Apa ukurannya bahwa kita ini sudah berukuhuwwah?
Tingkat ukhuwwah yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan saudaranya).
Tingkat ukhuwwah paling rendah adalah salaamatus sodri (hatinya lapang, tidak ada kedengkian) terhadap saudaranya. Itulah ukuran paling minim dalam persaudaraan. Sehingga tidak ada lagi sesama muslim itu saling mencurigai, menuduh, dsbnya.
Semoga kita menjadi umat yang saling bersaudara sehingga turun rahmat Allah.
1. Urgensi Masjid dalam Kehidupan ini
Membangun masjid merupakan skala prioritas dalam membangun sebuah masyarakat/Negara.
Begitu Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, apa yang pertama kali dibangun? Yaitu Masjid. Karena:
a. di masjid seperti ini lah eksistensi keimanan kaum muslimin, dibuktikan.
Hadist: “Apabila kamu melihat seseorang membiasakan ke masjid, saksikan bahwa imannya benar.”
Ketika masjid itu benar2 dikunjungi, berbahagialah, semoga iman kita kita diakui oleh Allah, SWT.
b. masjid itu dibangun di atas takwa.
Kalau kita menginginkan diri dan keluarga kita adalah orang2 bertaqwa, jadilah penduduk masjid. Kalau bangsa ini ingin menjadi bangsa beriman dan bertaqwa sehingga turun barokah dari langit, jadikanlah masjid sebagai pusat kegiatan.
QS At Taubah 108:”sungguh masjid dibangun di atas ketaqwaan.”
Jangan sampai masjid2 terkotori oleh acara2 yang tujuannya jauh daripada taqwa. Seluruh ibadah kita, sholat kita, ibadah kita, harus menuju pada taqwa.
Apa itu taqwa?
Tahukah kamu bagaimana kalau ada seseorang berjalan di atas jalan yang sempit, licin, banyak durinya? Jawabannya: kita super hati2
Taqwa itu akan membangun jalan menjauhkan diri dari adzab Allah, dengan cara melaksanakan seluruh perintah2 Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah.
c. Masjid melahirkan pemimpin2 yang hebat.
Bukankah Nabi SAW adalah pemimpin terhebat di dunia, dan beliau adalah ahli masjid. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Umar bin Abdul Aziz, semuanya adalah ahli masjid.
Ketika Al Quran mengungkapkan kata rijal, itu adalah menunjukkan ketokohan seseorang. Sepert iyang disebutkan di At Taubah 108 tadi.
2. Mempersaudarakan
Tidak ada satu pun orang yang tidak merasa diperhatikan oleh Rasulullah. Apa urgensi persaudaraan?
Ukhuwwah atau persaudaraan itu bukti keimanan seseorang. Sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara.
Iman dan ukhuwwah itu dua hal yang tidak bisa berpisah. Kalau kita mengaku beriman, maka kita bersuadara. Kalau kita bersaudara, maka iman itu adalah landasannya. Perkumpulan, kalau ikatannya bukan iman, maka perkumpulan itu akan pecah. Karena ikatannya adalah kepentingan, sedangkan kepentingan manusia itu beerbeda2.
Persaudaraan, perkawainan, oraganisasi, Negara, itu bisa berpecah karena tidak didasari oleh iman, maka ikatan2 yang didasari oleh keperintingan2 seperti itu tidak akan panjang
Di antara pilar yang memperkuat sebuah bangsa, adalah iman. Di dalam negri Madinah itu ada Yahudi, adaNasrani, ada musyrikin, di luar Negri Madinah ada Romawi dan musuh2 lainnya. Bagaimana Negara yang dipimpin nabi itu bisa kokoh, karena Negara yang dipimpin nabi dilandaskan atas dasar iman.
Yang pertama2 dibangun nabi ketika membangun Madinah adalah mempersaudarakan orang2 beriman. Salman yang dari Persia, Mushab yang dari Mekkah, semuanya dipersaudarakan.
Persaudaraan itu bukan sebatas diceramahkan, tapi bagaimana ia benar2 terwujud, karena setiap ajaran Allah pasti bisa terwujud, tinggal kita mau atau tidak.
Persaudaraan itu harus didirikan dengan dasar:
a. wahdatul ghooyah (kesatuan orientasi).
wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’ budu (tujuannya adalah beribadah pada Allah).
b. wahdatul mahdah (kesatuan prinsip)
Sahabat2 Rasulullah dating dari kelas yang berbeda-beda berbeda2 pula warna kulitnya, tapi bersatu dalam satu prinsip, yaitu laa ilaa ha illallaah.
Barang siapa yang bersikap dengan prinsip laa ilaa ha illallah, pasti akan masuk syurga. Tapi kalimat thoyyibah ini bukan sekedar diucapkan, tapi juga dipahami dan dijalankan.
c. wahdatul manhaj (kesatuan jalan yang jelas/kurikulum/ajaran)
Apa pun manhajnya,(jalannya/ajarannya), maka datangnya dari Allah dan Rasululullah. Mungkin saya berbeda dengan yang lainnya, pemimpin yang satu berbeda dengan pemimpin yang lainnya, itu tidak apa2. Karena ketika berbeda, acuannya adalah sama, yaitu Allah dan Rasulullah.
QS An Nisa 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
Kalau dikembalikan kepada manusia, manusia punya hawa nafsu, manusia bisa disogok. Tapi ketika dikembalikan kepada Allah dan Rasulullah, maka semuanya akan bersatu.
Ketika kita diperintahkan taat pada Allah dan Rasulullah, ada kata “athii u” (taatliah), ini menunjukkan ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul. Tapi ketika perintah taat kepada pemimpin (ulil amri), tidak ada kata “athii u.” Kita wajib taat pada pemimpin kita selama perintahnya itu tidak berupa maksiat (dalam hal apa pun, baik itu politik, ekonomi, budaya pendidikan), tapi bila bertentangan dengan syariat (aturan) Allah, maka tidak wajib taat.
Kita harus tahu kapan kita taat pada pemimpin, kapan kita mengkritisi, menasehati, dsb
d. adanya kesatuan ikatan
Apa ukurannya bahwa kita ini sudah berukuhuwwah?
Tingkat ukhuwwah yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan saudaranya).
Tingkat ukhuwwah paling rendah adalah salaamatus sodri (hatinya lapang, tidak ada kedengkian) terhadap saudaranya. Itulah ukuran paling minim dalam persaudaraan. Sehingga tidak ada lagi sesama muslim itu saling mencurigai, menuduh, dsbnya.
Semoga kita menjadi umat yang saling bersaudara sehingga turun rahmat Allah.
01 November 2014
Kedudukan Hijrah
Betapa tingginya kedudukan hijrah di dalam Al Quranul Karim. Kalau
kita membaca ayat2 Al Quran tentang hijrah, Allah menyebut hijrah
bersamaan dengan menyebut ibadah2 lainnya yang penting. Bersama ibadah
apa sajakah hijrah disebutkan?
A. Ash Shobru (bersabar)
QS An Nahl 110: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Allah menyebut orang2 yang berhijrah, di mana mereka setelah difitnah oleh orang2 kafir Quraisy dan teman2nya di kampung halamannya tidak menjamin kebebasan, mereka diusir, kemudian mereka berhijrah dan bersabar.”
Seperti apa pentingnya kesabaran, sehingga kesabaran disamakan dengan berhijrah? Bersabar adalah:
1. Wasiat Allah untuk setiap Rasul.
Tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah kecuali diinstruksikan untuk sabar. Rasul yang paling mulia, masih diperintahkan untuk bersabar, sebagaimana ulul azmi diperintahkan untuk bersabar.
QS Al Ahqaf 35: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (ulul ‘azmi),”
Mana ada di dunia ini yang lebih sabar dari Rasulullah SAW, tapi Rasulullah itu pun masih diperintahkan Allah untuk bersabar. Logikanya, Nabi yang ma’sum saja masih diperintahkan untuk bersabar, apalagi kita.
Semua ibadah yang penting, dibutuhkan kesabaran. Dalam mencari nafkah, untuk tetap komitmen berjamaah di masjid, dll, semua membutuhkan kesabaran.
2. Pucuk kepemimpinan
Tidak ada di dunia ini menjadi pemimpin yang diridhoi oleh Allah, kecuali sabar menjadi modalnya.
QS As Sajdah 24: “Dan kami jadikan di antara mereka para pemimpin, selalu memberikan petunjuk dengan perintah kami.”
3. Ma’iyatullah (keikutsertaan Allah)
“Innallaaha ma ‘ash shoobiriin” (Allah bersama orang2 yang bersabar)
B. Al Hijrah adalah Al Jihad
QS Al Baqoroh 218: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Urgensi Al Jihad, menurut Ibnu Asyur, seorang pakar tafsir, mengatakan, di dalam ayat di atas, Allah mengulang2 “alladzii” sampai dua kali, untuk mengagungkan hijrah dan jihad. Kalau Allah mengagungkan hijrah dan jihad, apakah kita sebagai hamba Allah sinis terhadap hijrah dan jihad? Tidak!
Ungkapan “ulaa ikal yarjuu narrahmatallah”, bagaimana harapan kita untuk mendapatkan rahmat Allah ini, keniscayaan, jalannya adalah jihad.
Orang2 yang berhirah dan berjihad diberikan sifat orang yg beruntung/sukses/mendapat kemenangan, sebagaimana Allah jelaskan di QS At Taubah 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”
Bukankah hidayah keislaman adalah kemenangan yang paling mahal, kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kita di Indonesia, mendapatkan Islam, adalah hasil proses hijrah yang dilakukan kaum muhajirin yang membawa Islam ke Indonesia.
C. Mengikuti Rasulullah (Ittiba’ur Rasul)
QS At Taubah 117: “Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
Mengikuti Rasul adalah ibadah yang sangat tinggi kedudukannya dalam Islam dan Sunnah.
Kenapa mengikuti Rasulullah itu disebut ibadah yang sangat tinggi kedudukannya? Karena mengikuti Rasulullah itu sebagai bukti bahwa seseorang, kita semuanya, beriman kepada Rasulullah.
Katakanlah wahai Muhammad, jika kamu benar2 menyintai Allah dan Rasul, maka ikutilah aku.
Ketika ada firman Allah yang dimulai dengan Qul (katakanlah), setelah itu adalah sesuatu yang sangat besar, sesuatu itu adalah menyintai Allah
Imam Ibnu Katsir mengatakan: ayat ini sebagai bantahan bagi orang yang mengaku menyintai Allah tapi dia tidak mengikuti Rasulullah SAW.
Kita lihat, apakah benar, mencintai Allah, tapi tidak mengikuti Rasulullah. Mengatakan cinta Allah dan cinta Rasul, tapi dalam mencari nafkah, dalam rumah tangga, dalam berpolitik, dalam berseni budaya, tidak mengikuti Rasulullah, Cinta dibuktikan dengan mengikuti, bukan pernyataan semata.
Krisis yang dialami umat Islam saat ini adalah krisis keteladanan. Orang2 yang menjadi teladan saat ini di masyarakat, adalah mereka yang mengaku cinta Allah cinta Rasul, tapi membenci ajaran yang dibawa Nabi.
QS An Nisa 61:
“Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (patuh) kepada apa yang telah turunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul", niscaya kamu melihat orang-orang munafik berpaling darimu dengan sesungguhnya.”
A. Ash Shobru (bersabar)
QS An Nahl 110: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Allah menyebut orang2 yang berhijrah, di mana mereka setelah difitnah oleh orang2 kafir Quraisy dan teman2nya di kampung halamannya tidak menjamin kebebasan, mereka diusir, kemudian mereka berhijrah dan bersabar.”
Seperti apa pentingnya kesabaran, sehingga kesabaran disamakan dengan berhijrah? Bersabar adalah:
1. Wasiat Allah untuk setiap Rasul.
Tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah kecuali diinstruksikan untuk sabar. Rasul yang paling mulia, masih diperintahkan untuk bersabar, sebagaimana ulul azmi diperintahkan untuk bersabar.
QS Al Ahqaf 35: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (ulul ‘azmi),”
Mana ada di dunia ini yang lebih sabar dari Rasulullah SAW, tapi Rasulullah itu pun masih diperintahkan Allah untuk bersabar. Logikanya, Nabi yang ma’sum saja masih diperintahkan untuk bersabar, apalagi kita.
Semua ibadah yang penting, dibutuhkan kesabaran. Dalam mencari nafkah, untuk tetap komitmen berjamaah di masjid, dll, semua membutuhkan kesabaran.
2. Pucuk kepemimpinan
Tidak ada di dunia ini menjadi pemimpin yang diridhoi oleh Allah, kecuali sabar menjadi modalnya.
QS As Sajdah 24: “Dan kami jadikan di antara mereka para pemimpin, selalu memberikan petunjuk dengan perintah kami.”
3. Ma’iyatullah (keikutsertaan Allah)
“Innallaaha ma ‘ash shoobiriin” (Allah bersama orang2 yang bersabar)
B. Al Hijrah adalah Al Jihad
QS Al Baqoroh 218: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Urgensi Al Jihad, menurut Ibnu Asyur, seorang pakar tafsir, mengatakan, di dalam ayat di atas, Allah mengulang2 “alladzii” sampai dua kali, untuk mengagungkan hijrah dan jihad. Kalau Allah mengagungkan hijrah dan jihad, apakah kita sebagai hamba Allah sinis terhadap hijrah dan jihad? Tidak!
Ungkapan “ulaa ikal yarjuu narrahmatallah”, bagaimana harapan kita untuk mendapatkan rahmat Allah ini, keniscayaan, jalannya adalah jihad.
Orang2 yang berhirah dan berjihad diberikan sifat orang yg beruntung/sukses/mendapat kemenangan, sebagaimana Allah jelaskan di QS At Taubah 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”
Bukankah hidayah keislaman adalah kemenangan yang paling mahal, kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kita di Indonesia, mendapatkan Islam, adalah hasil proses hijrah yang dilakukan kaum muhajirin yang membawa Islam ke Indonesia.
C. Mengikuti Rasulullah (Ittiba’ur Rasul)
QS At Taubah 117: “Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
Mengikuti Rasul adalah ibadah yang sangat tinggi kedudukannya dalam Islam dan Sunnah.
Kenapa mengikuti Rasulullah itu disebut ibadah yang sangat tinggi kedudukannya? Karena mengikuti Rasulullah itu sebagai bukti bahwa seseorang, kita semuanya, beriman kepada Rasulullah.
Katakanlah wahai Muhammad, jika kamu benar2 menyintai Allah dan Rasul, maka ikutilah aku.
Ketika ada firman Allah yang dimulai dengan Qul (katakanlah), setelah itu adalah sesuatu yang sangat besar, sesuatu itu adalah menyintai Allah
Imam Ibnu Katsir mengatakan: ayat ini sebagai bantahan bagi orang yang mengaku menyintai Allah tapi dia tidak mengikuti Rasulullah SAW.
Kita lihat, apakah benar, mencintai Allah, tapi tidak mengikuti Rasulullah. Mengatakan cinta Allah dan cinta Rasul, tapi dalam mencari nafkah, dalam rumah tangga, dalam berpolitik, dalam berseni budaya, tidak mengikuti Rasulullah, Cinta dibuktikan dengan mengikuti, bukan pernyataan semata.
Krisis yang dialami umat Islam saat ini adalah krisis keteladanan. Orang2 yang menjadi teladan saat ini di masyarakat, adalah mereka yang mengaku cinta Allah cinta Rasul, tapi membenci ajaran yang dibawa Nabi.
QS An Nisa 61:
“Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (patuh) kepada apa yang telah turunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul", niscaya kamu melihat orang-orang munafik berpaling darimu dengan sesungguhnya.”
Langganan:
Komentar (Atom)